Belajar Memimpin Lewat BI Star: Refleksi Satu Tahun Bersama 2 Ibnu Katsir

Belajar Memimpin Lewat BI Star: Refleksi Satu Tahun Bersama 2 Ibnu Katsir

Tahun pelajaran 2025/2026 ini, ada satu kegiatan yang paling membekas dalam ingatan saya sebagai wali kelas 2 Ibnu Katsir: BI Star, sebuah kegiatan akhir semester dengan tema literasi yang memadukan kemampuan membaca, berbahasa Inggris, dan kreativitas anak-anak melalui pembuatan poster resensi buku. Saya membagi siswa ke dalam beberapa kelompok kecil, dan dari sanalah cerita ini dimulai: bukan hanya tentang membuat poster, tapi tentang bagaimana anak-anak usia delapan tahun belajar berbagi peran, ada yang menjadi pemimpin kelompok, ada yang menjadi anggota, dan semuanya harus belajar mendengarkan satu sama lain.

Tujuan BI STAR ini sebenarnya sederhana: menumbuhkan minat baca, melatih kerja sama, dan membiasakan anak-anak menggunakan Bahasa Inggris dalam konteks yang nyata. Namun yang terjadi di lapangan jauh melampaui ekspektasi saya. Anak-anak antusias sejak hari pertama. Mereka berdiskusi, berdebat kecil soal siapa yang akan menggambar dan siapa yang akan menulis, lalu akhirnya duduk bersama menyelesaikan tugas mereka. Hasil akhirnya adalah 12 poster resensi buku berbahasa Inggris yang dipresentasikan di depan orang tua, dan saya masih ingat bagaimana beberapa dari mereka, yang biasanya pendiam, berani berbicara dan menjawab pertanyaan dalam Bahasa Inggris meskipun terbata-bata.

Keberhasilan ini, saya sadari, bukan kebetulan. Pembimbingan intensif di tiap kelompok, kemampuan dasar yang sudah dimiliki anak-anak sejak awal tahun, serta pembagian kelompok yang saya rancang agar seimbang bahwa semuanya berperan. Dampaknya pun terasa jauh setelah kegiatan selesai: siswa menjadi lebih percaya diri karena berhasil membuat sesuatu yang belum pernah mereka buat sebelumnya, kepercayaan diri mereka berbicara dalam Bahasa Inggris terasah lewat sesi tanya jawab dengan orang tua, dan yang tak kalah penting, mereka belajar arti kerja sama tim sesungguhnya.

Tapi tentu saja, tidak semua berjalan mulus. Sebagian besar siswa masih kesulitan membaca cerita berbahasa Inggris, sehingga saya harus mendampingi mereka lebih intensif dari yang saya rencanakan. Ada juga beberapa anak yang masih malu-malu untuk tampil di depan orang tua, butuh dorongan ekstra sebelum akhirnya berani maju. Dari sini saya belajar bahwa pemilihan buku bacaan perlu lebih disesuaikan dengan kemampuan riil anak-anak, dan waktu persiapan yang saya alokasikan sebenarnya masih kurang memadai untuk kegiatan sebesar ini.

Dari pengalaman BI Star “Reading is Fun, Being Kind is Great”, saya menyadari bahwa keberhasilan sebuah pembelajaran tidak melulu diukur dari hasil akhir yang rapi, tapi dari keberanian anak-anak mencoba hal baru meski belum sempurna. Hal yang perlu saya pertahankan adalah pendekatan kelompok yang memberi anak ruang untuk memimpin dan dipimpin secara bergantian, karena dari situlah rasa percaya diri mereka tumbuh paling nyata. Sementara hal yang perlu saya tingkatkan adalah perencanaan waktu dan kurasi materi bacaan, supaya setiap anak, termasuk yang masih kesulitan membaca, bisa mengikuti proses dengan lebih nyaman tanpa kehilangan semangatnya.

Untuk tahun pelajaran berikutnya, saya ingin membawa semangat BI Star ke ranah yang lebih luas: memperkaya strategi pembelajaran agar lebih variatif, mempererat komunikasi dengan orang tua supaya dukungan di rumah dan di sekolah berjalan selaras, dan terus mengembangkan diri lewat pelatihan maupun belajar mandiri agar saya bisa memfasilitasi anak-anak dengan cara yang lebih baik lagi. Harapan saya sederhana: semoga setiap anak di kelas saya, sekecil apa pun langkahnya, terus menemukan keberanian untuk mencoba, seperti yang saya saksikan sendiri di balik 12 poster karya mereka tahun ini.

 

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Wali Kelas 2 Ibnu Katsir, Winda Annisa Ulhaifa.

KARENA SHOHIHUL IBADAH ITU… DIMULAI DARI SINI!

KARENA SHOHIHUL IBADAH ITU… DIMULAI DARI SINI!

Satu Hal yang Paling Berkesan Tahun Ini

Membersamai anak-anak kelas 1 untuk melaksanakan sholat dengan benar, bukanlah hal yang mudah. Dimulai dari mengawal mereka wudhu hingga akhir pelaksanaan sholat itu sendiri. Dari awal pengondisian anak saat diminta untuk membuat shoff yang benar ketika akan sholat, membutuhkan effort yang luar biasa. Saya harus membariskan anak-anak satu per satu, agar tidak ada potensi bercanda dengan teman sebelah saat sholat. Ada satu moment yang membuat saya berkesan dan membuat hati saya tersentuh, yaitu saat beberapa anak berbisik kepada temannya “Ssstt…yuk rapi, sholat mo dimulai!” dan mereka dengan sendirinya membuat barisan yang rapi tanpa banyak perintah dari saya. 

 

Apa yang Terjadi?

  • Kegiatan yang dilakukan: Pendampingan sholat jamaah anak-anak kelas 1. 
  • Tujuan kegiatan: Kegiatan ini merupakan sebuah pembiasaan kepada anak untuk bisa sholat dengan benar dan khusyuk. Karena shohihul ibadah itu dimulai dari sini, dari sekarang. Ketika sholat seseorang itu benar, maka In Syaa Allooh ibadah yang lain juga akan ikut benar.
  • Hasil yang diperoleh: 87% anak mampu melaksankan sholat dengan benar dan khusyuk dari awal hingga akhir. Dari 29 anak ada sekitar 3-4 anak yang belum mampu sholat dengan khusyuk, meskipun demikian progress dari mereka tetap ada. 

 

Refleksi Keberhasilan atau Tantangan

  • Faktor yang mendukung keberhasilan: Berbasis pada praktik langsung menjadikan sebuah pembelajaran dengan aksi nyata membuat anak lebih mudah paham tentang apa yang kita sampaikan. Membimbing anak-anak dari mulai membenarkan gerakan mereka satu per satu hingga membimbing bacaan sholat yang benar dari niat hingga salam.
  • Dampak positif bagi siswa: Sebagian besar siswa mampu mengikuti seluruh rangkaian sholat dengan benar, rapi, tertib dan khusyuk, baik gerakan maupaun bacaannya, dari niat, takbiratul ihram hingga salam. Tumbuh kedisiplinan dasar seperti bersedia mengantre saat wudhu serta merapikan kembali sajadah/karpet dan tempat setelah sholat.
  • Kendala yang dihadapi: Durasi sholat terlalu panjang bagi rentang fokus untuk anak usia kelas 1. Karena di kelas 1 ini, mereka sholat dengan mengeraskan bacaan sholat dan membacanya dengan benar, membuat sholat menjadi lama. Mereka mulai jenuh, mulai melirik temannya, mencolek, dan bercanda saat rukuk dan sujud. 

 

Pelajaran Berharga yang Saya Dapatkan

Saya menyadarai bahwa Allooh yang menggenggam hati-hati anak-anak. Setiap kali mengajarkan sesuatu pada anak-anak, saya minta kepadaNya agar anak-anak dimudahkan memahami apa yang saya sampaikan. Kedewasaan usia anak kelas 1 tentu berbeda dengan orang dewasa. Dari sini saya memahami bahwa kekhusyukan mereka dalam sholat juga tentu berbeda dengan orang dewasa.  

 

Komitmen Perbaikan ke Depan

    • Membuat lembar mutaba’ah, checklist yang wajib diisi orang tua setiap hari untuk memastikan ketertiban sholat di sekolah berlanjut di rumah.
  • Membuat lembar mutaba’ah harian, yang wajib diisi orang tua setiap hari untuk memastikan ketertiban sholat di sekolah berlanjut di rumah.
  • Latihan Keheningan (Mindfulness Singkat), melatih anak untuk diam dan memejamkan mata selama 1 menit sebelum takbiratul ihram guna memfokuskan pikiran mereka.
  • Nonton film tentang hikmah sholat khusyuk.

Harapan untuk Tahun Pelajaran Berikutnya

  • Terbangunnya sinergi yang kuat dengan orang tua melalui program “Sesi Sholat Bersama Orang Tua” sebulan sekali, agar ayah dan ibu tahu standar ketertiban yang diajarkan di sekolah.
  • Anak-anak tidak hanya hafal gerakan dan bacaan, tetapi mulai tertanam rasa senang dan butuh terhadap sholat, sehingga kekhusyukan muncul dari dalam diri mereka sendiri tanpa perlu sering ditegur.

 

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Wali Kelas 1 Al-Khayyam, Lina Pamungkas Sari.

Setiap Gerakan, Setiap Ayat: Perjalanan Membangun Cinta Al-Qur’an

Setiap Gerakan, Setiap Ayat: Perjalanan Membangun Cinta Al-Qur’an

Satu Hal yang Paling Berkesan Tahun Ini

Pengalaman yang paling berkesan selama proses pembelajaran tahun ini adalah menerapkan metode menghafal Al-Qur’an menggunakan gerakan tubuh yang disesuaikan dengan makna ayat. Metode ini mampu menciptakan suasana belajar yang aktif, menyenangkan dan sesuai dengan karakteristik belajar siswa kelas 1 yang cenderung senang bergerak dan belajar melalui pengalaman langsung. Saya melihat siswa menjadi lebih antusias, lebih fokus, serta lebih mudah mengingat hafalan dibandingkan dengan metode menghafal secara konvensional. Dalam kegiatan pembelajaran, saya mengajarkan hafalan surat-surat pendek dengan menggabungkan bacaan, pengulangan (talaqqi dan murojaah), serta gerakan tubuh yang merepresentasikan makna setiap ayat..

Refleksi Keberhasilan dan Tantangan

Keberhasilan pembelajaran ini didukung oleh penggunaan metode yang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia dasar, yakni melibatkan aktivitas fisik, visual dan auditori secara bersamaan. Dampaknya, siswa menjadi lebih aktif, lebih semangat, antusias yang besar terhadap ayat akan dipelajari, serta meningkatnya kemampuan menghafal dan kepercayaan diri. Tantangan yang dihadapi adalah menyederhanakan gerakan yang tetap bermakna, supaya siswa tidak hanya fokus pada gerakan saja namun juga ketepatan bacaan.

Pelajaran Berharga yang Saya Dapatkan

Metode ini bukan hanya membantu siswa meningkatkan daya ingat, tetapi juga membuat siswa menikmati proses belajar. Ke depan, saya akan mempertahankan suasana belajar yang menyenangkan serta terus mengembangkan metode kreatif tanpa mengurangi ketepatan bacaan dan adab terhadap Al-Qur’an.

Harapan untuk Tahun Pelajaran Berikutnya

Saya berharap pembelajaran tahfidz dengan metode ini dapat terus menjadi salah satu strategi yang efektif dalam membantu siswa menghafal Al-Qur’an. Saya juga berharap dapat terus meningkatkan kompetensi sebagai guru agar mampu memberikan pembelajaran yang kreatif, bermakna dan sesuai dengan kebutuhan belajar setiap anak.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Guru Quran, Shofi Azzura.

Kaos Kaki Alif

Kaos Kaki Alif

Pagi itu terasa berbeda dari pagi biasanya. Kenapa berbeda? Karena pagi itu adalah hari pertama saya kembali menjadi bagian  dari SD IT Bina Insani. Ya, saya kembali mengajar setelah cuti melahirkan putri pertama saya selama 3 bulan. Tepat 90 hari tidak kurang tidak lebih. Pagi itu menjadi momentum peran batin yang sangat hebat dalam hati saya, saya harus meninggalkan anak biologis saya di rumah untuk kembali bertemu dengan anak ideologis saya  di sekolah. Sebagai seorang ibu baru, ini adalah momentum yang berat dan menguras air mata. Dalam hati saya berkata, ini permulaan yang berat namun berujung hebat, insyaAllah. Karena saya diberi amanah untuk mendidik 29 anak plus 1. Tidaklah mudah namun bukan hal mustahil untuk memulai semua dari hal kecil. 

Setiap pagi kami memulai pembelajaran di kelas dengan doa pagi, murajaah dan sholat dhuha berjamaa`ah. Ketiga kegiatan rutin ini selalu dipimpin oleh siswa siswi kelas saya secara bergiliran. Tanpa protes semua melaksanakan tugasnya dengan baik. Alhamdulillah saya mendapatkan komposisi siswa yang “sangat aman” menurut wali kelas lain. Julukan ini bukan hanya sekedar celoteh atau asbun dari mereka, namun ini nyata. Dimana siswa siswi saya sudah semandiri itu untuk menjalankan rutinitas hariannya di sekolah. Baru tiga bulan namun siswa siswi saya sudah sekeren ini. Bukan sulap bukan sihir, ini adalah buah dari kerja keras 2 guru pengganti saya selama saya cuti. Saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk Ustadzah Winda dan Ustadzah Qumairoh. Tanpa beliau berdua, siswa siswi saya tidak akan menjadi semembanggakan ini. Semoga Allah senantiasa memeluk erat kedua hambaNya ini dengan kasih sayangNya. Aamiin. 

Suatu hari seperti biasa saya akan memulai pembelajaran di kelas, namun mata saya tertuju pada kaki salah seorang siswa saya, Alif. Saya merasa ada yang berbeda dan lain dari biasanya. Kakinya telanjang tanpa kaos kaki. Bagi sebgian guru mungkin itu adalah hal wajar karena kaki bagian mata kaki hingga jari bukanlah aurat bagi laki – laki dan melepas alas kaki / sepatu di dalam kelas memang aturan baku di sekolah kami. Namun hal itu tidak wajar bagi saya yang memandang kaos kaki adalah salah satu bagian penting dari kerapian dalam memakai seragam. Lalu saya bertanya, “Alif, kaos kakinya kenapa tidak dipakai ?”. Lalu Alif menjawab, “ Maaf ustadzah, saya lupa memakai kaos kaki karena tadi pagi terburu buru – buru”. Mendengar hal tersebut, saya langsung menghubungi teman guru yang menjual kaos kaki. Setelah bel istirahat pertama saya memberikan satu pasang kaos kaki untuk Alif. Awalnya Alif malu, namun akhirnya dia menerima dan memakainya. “Alhamdulillah, terima kasih ustadzah,” ujarnya. 

Hari demi hari berlalu begitu cepat hingga tibalah hari terakhir sebelum kenaikan kelas. Saya membagikan hasil Sumatif Akhir Semester kepada siswa siswi saya. Saya merasa sangat bangga karena mereka melewati suka duka selama kelas lima ini dengan sangat baik, progress pembelajaran mereka sangat baik. Pembelajaran yang tidak hanya secara akademik, namun secara non akademik juga baik. Tidak hanya sekedar angka yang tertulis di rapot, namun pembelajaran tentang tanggung jawab pada diri sendiri, kemandirian, dan kepedulia terhadap sesama. Usai sholat dhuhur berjamaah saya meminta siswa siswi saya menuliskan kesan dan pesan untuk saya pada selembar kertas origami. Ini adalah rutinitas saya dalam mengakhiri masa mengajar dalam setiap akhir tahun ajaran, sebagai bahan refleksi dan evaluasi bagi diri saya. Saat di rumah dan membaca satu persatu surat cinta dari siswa siswi saya, ada satu surat yang membuat air mata saya terjun bebas mengikuti gaya gravitasi. Surat tersebut dari Alif yang berkata “ Terima kasih ustadzah atas kaos kakinya, saya akan ingat selalu kebaikan ustadzah. Sesuai pesan ustadzah, saya janji untuk lebih giat belajar. Berkat semangat dari ustadzah, nilai saya banyak yang nggak remidi. Terima kasih ustadzah.” 

Ternyata kebaikan kecil yang tidak pernah kita hiaraukan mampu berdampak besar untuk orang lain. Dari cerita ini saya belajar bahwa teruslah berbuat baik sekecil apapun dan kapanpun kita bisa. Dengan berbuat baik pada orang lain, sebenarnya kita sedang berbuat baik pada diri kita sendiri. Karena sejatinya, apa yang kita lakukan akan kembali pada diri kita sendiri.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Wali Kelas 5 Al-Farabi, Winaryanti.

Narasi Refleksi Diri Guru: Menemukan Konsistensi di Teras Gedung A

Narasi Refleksi Diri Guru: Menemukan Konsistensi di Teras Gedung A

Tahun ajaran 2025/2026 memberikan sebuah catatan penting dalam perjalanan saya mengampu mata pelajaran Al-Qur’an untuk kelas 2, 3, dan 5. Di antara sekian banyak dinamika di ruang kelas, ada satu momen yang paling berkesan dan membekas tahun ini, yaitu inisiatif Pelaksanaan Program Pembelajaran Tambahan Yang Digelar Tepat Setelah Bel Pulang Sekolah Berbunyi.

Mengejar Target di Luar Jam Sekolah

Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Program ini dirancang sebagai strategi taktis untuk mengejar ketertinggalan siswa, baik dalam hal target hafalan maupun capaian jilid. Format pembelajarannya sengaja dibuat padat dan langsung pada inti: siswa langsung membaca jilid dan menyetorkan hafalan, tanpa adanya materi teori santun seperti pada jam reguler. hasil yang diperoleh dari program ini terbilang cukup bagus dan signifikan. Melalui jam tambahan ini, anak-anak mendapatkan porsi pembelajaran dua kali lebih banyak daripada hari biasanya. Program ini juga sukses menjadi jaring pengaman atau langkah antisipasi yang efektif bagi siswa yang tidak mengaji lagi saat di rumah. Alhasil, progres capaian jilid dan hafalan siswa berjalan lebih cepat serta konsisten.

Di Antara Dukungan Wali Murid dan Perut yang Lapar

Setiap inovasi tentu membawa cerita keberhasilan sekaligus tantangannya tersendiri. Di sudut keberhasilan, saya sangat bersyukur melihat adanya minat dan keseriusan yang tinggi dari sebagian siswa. Faktor pendukung yang tidak kalah penting adalah luar biasanya dukungan dari sebagian wali siswa. Mereka dengan sukarela membekali anak-anaknya dengan makanan atau uang saku ekstra, menyadari bahwa fisik anak membutuhkan energi tambahan untuk menghadapi jam belajar ekstra. Dampak positifnya pun nyata: kemampuan membaca dan menghafal siswa meningkat, dan target Indikator Welas Asih/Raport (IWR) bisa tercapai, meski ada beberapa yang belum.

Namun, realita di lapangan tidak selalu mulus. Tantangan terbesar datang dari faktor fisik dan psikologis anak; beberapa siswa terkadang sangat sulit diajak mengikuti jam tambahan karena kondisi tubuh yang sudah kecapekan dan perut yang lapar setelah seharian belajar. Di sisi lain, tantangan juga datang dari sudut pandang sebagian wali siswa yang menganggap jam tambahan ini tidak terlalu dibutuhkan, padahal secara objektif anak mereka belum mencapai target yang ditentukan. selain faktor manusia, fasilitas pun menjadi catatan evaluasi saya. Selama ini, kami memanfaatkan teras Gedung A sebagai tempat belajar. Ke depan, faktor yang sangat perlu diperbaiki adalah mencari tempat yang lebih kondusif dan nyaman, seperti ruang kelas yang tertutup.

Pelajaran Berharga dan Komitmen ke Depan

Dari seluruh proses ini, saya memetik pelajaran berharga mengenai pentingnya pemetaan kondisi rumah siswa. Saya menyadari bahwa jam tambahan setelah pulang sekolah adalah opsi yang sangat bagus dan krusial bagi siswa yang tidak mendapatkan pendampingan belajar Al-Qur’an dari orang tua di rumah, meski bagi mereka yang sudah didampingi dengan baik di rumah, jam tambahan ini bersifat opsional.

Pengalaman tahun ini membentuk tiga pilar komitmen baru dalam diri saya:

  1. Mempertahankan Konsistensi: Menjaga agar pelaksanaan pembelajaran tambahan ini tetap ajek dan rutin.
  2. Meningkatkan Komunikasi dan Motivasi: Memberikan motivasi secara berkala agar terjadi penyamaan visi dan satu tujuan yang sama antara guru, siswa, dan wali siswa. Hal ini juga sejalan dengan komitmen saya untuk memperkuat komunikasi dengan siswa dan orang tua di tahun ajaran baru.
  3. Peningkatan Strategi: Bertekad untuk meningkatkan strategi pembelajaran yang lebih variatif agar siswa tidak cepat jenuh atau merasa terbebani setelah jam sekolah usai.

Menatap Tahun Pelajaran yang akan datang, harapan besar saya adalah agar kaki ini tetap melangkah konsisten dalam melaksanakan jam tambahan. Di atas segalanya, saya selalu berdoa agar anak-anak didik saya selalu dianugerahi rasa semangat yang tak kunjung padam serta kesabaran yang luas dalam mempelajari dan mencintai Al-Qur’an.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Guru Quran, Ulil Fuat.

Setetes Tinta, Seribu Harapan: Jejak Pengabdian di Dunia Pendidikan

Setetes Tinta, Seribu Harapan: Jejak Pengabdian di Dunia Pendidikan

Satu Hal yang Paling Berkesan Tahun Ini Pengalaman paling berkesan ketika seorang siswa kelas 5 yang awalnya menolak hafalan mufrodat karena “susah dan membosankan”, akhirnya tampil percaya diri membaca percakapan Bahasa Arab di depan kelas. Air matanya jatuh saat selesai membaca, lalu ia berbisik: “Ternyata saya bisa, Bu”. Momen itu mengingatkan saya bahwa setiap tetes tinta ilmu yang kita tuangkan, insyaAllah akan menjadi harapan yang tumbuh.Apa yang Terjadi?

Saya menginisiasi program “5 Menit Arab Ceria” di awal pembelajaran untuk mengubah stigma Bahasa Arab sebagai pelajaran sulit.Game “Bingo Mufrodat” dengan gambar dan gerak tubuh setiap 2x semingguo Hafalan 3 mufrodat/hari lewat lagu pendek berirama anak,hal ini mampu menumbuhkan keberanian dan rasa cinta siswa terhadap Bahasa Arab. Menghafal mufrodat tanpa tekanan, melalui metode fun learning  Hasil yang diperoleh: 90% siswa aktif menjawab saat ditanya kosakata spontan. 1 siswa “menolak hafalan” berubah menjadi relawan maju ke depan.

Refleksi Keberhasilan atau Tantangan Faktor yang mendukung keberhasilan: Penggunaan media visual + gerak membuat memori siswa lebih kuat. saya luangkan waktu 3 menit setiap hari untuk menyapa dan memuji usaha siswa, bukan hanya hasil  Dampak positifnya Siswa lebih percaya diri dan tidak takut salah saat berbahasa Arab, Suasana kelas lebih hidup, siswa menunggu-nunggu pelajaran Bahasa Arab. 

Pelajaran Berharga yang Saya Dapatkan Saya menyadari bahwa keberhasilan pembelajaran tidak dimulai dari metode, tapi dari hati guru yang mau “turun” ke dunia anak.  Hal yang perlu saya pertahankan adalah konsistensi menyapa dan menghargai setiap usaha kecil siswa, karena pujian tulus adalah bahan bakar semangat mereka.  Hal yang perlu saya tingkatkan adalah variasi media digital agar anak yang visual-auditori juga terfasilitasi.

Komitmen Perbaikan ke Depan Meningkatkan strategi pembelajaran yang lebih variatif,Memperkuat komunikasi dengan siswa dan orang tua, Memanfaatkan teknologi pembelajaran secara lebih optimal. Membuat “Buku Harapan Murid” sebagai jurnal doa & target hafalan bersama wali murid.

Saya berharap setiap “setetes tinta” yang saya tuliskan di papan tulis tahun depan benar-benar menjadi “seribu harapan” yang hidup. Semoga seluruh siswa saya tidak hanya bisa membaca dan menghafal Bahasa Arab, tetapi juga mencintai bahasa Al-Qur’an sebagai bekal dunia-akhirat. Aamiin.

 

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Guru Bahasa Arab, Fitriyatul Islah.

Guru Amfibi

Guru Amfibi

Biasanya saya berdiri di depan kelas: bawa daftar nilai, mantau anak-anak, terus jelasin pelajaran dengan gaya khas becanda yang anak-anak sering sebut dengan “Jokes bapak-bapak”… wkwk.

Tapi tiap kali penerimaan rapor, plot twist terjadi. Saya duduk di seberang meja wali kelas; bukan sebagai guru, tapi sebagai orang tua yang lagi ambil rapor anak sendiri. 

Dan jujur… rasanya kayak jadi amfibi yang harus hidup di dua alam. Alam guru dan alam ortu. Biar maksimal menjalankan peran ortu, dalam hati, saya langsung mengeluarkan jurus kanuragan ala pendekar Wiro Sableng, “Jurus katak hijau berubah wujud!”…hehe..

Dan ternyata, menjadi orang tua siswa memang membuat jantung lebih mudah deg-degan. Ketika wali kelas mulai berkata, “Untuk ananda, sebenarnya sudah baik, hanya saja…,” 

kata “hanya saja” itu rasanya lebih menegangkan daripada harus ngebut pagi-pagi ngejar finger absen karena takut terlambat. Ada jeda kecil di kepala yang langsung membuat imajinasi bekerja lebih cepat dari logika.

Sebagai guru, saya sebenarnya sudah terbiasa dengan dinamika seperti ini. Selama hampir dua dekade mengajar, saya pernah menerima berbagai macam respons dari orang tua siswa. Ada yang bertanya dengan sopan, ada yang mempertanyakan nilai, ada yang berharap perlakuan khusus, bahkan ada juga yang datang dengan protes yang cukup “panas”.

Dulu, saya melihatnya murni dari sisi guru: tugas menjelaskan, menenangkan, dan tetap profesional. Selesai.

Tapi ketika saya duduk sebagai orang tua, perspektif itu berubah pelan-pelan. Saya mulai sadar, di balik semua bentuk komunikasi itu, ada satu benang merah yang sama: rasa sayang. Hanya saja bentuk ekspresinya tidak selalu rapi.

Rasa sayang itu kadang datang dengan bahasa yang lembut, tetapi kadang juga datang dengan intonasi yang membuat guru ingin menarik napas panjang sambil bersenandung, “Jika semua bersandar padaku… lalu aku bersandar ke mana…”

Dan di sisi lain, saya juga semakin menyadari satu hal penting sebagai guru: rapor tidak pernah benar-benar bisa menceritakan seluruh perjalanan seorang anak.

Anak bukan angka.

Nilai 90 bukan berarti hidupnya langsung “full bar WiFi, stabil tanpa gangguan”. Nilai 60 juga bukan berarti “game over”. Bisa jadi dia sedang upgrade karakter, sedang loading, atau bahkan sedang memperbaiki sistem internalnya di level yang tidak terlihat.

Dari pengalaman duduk di dua kursi ini, saya belajar bahwa menjadi guru dan menjadi orang tua itu seperti membuka dua tab browser yang isinya sama-sama tentang anak, tapi dengan sudut pandang yang berbeda.

Hari itu saya tidak cuma mengambil rapor. Tapi juga mengambil laptop. Laptop saya sendiri lho ya… Saya tulis sebuah refleksi bahwa: menjadi guru mengajarkan saya cara mendidik banyak anak, sedangkan menjadi orang tua mengajarkan saya betapa berharganya satu anak di mata keluarganya.

Ke depan, saya ingin terus menjaga satu hal penting: tidak melihat siswa hanya sebagai data, dan tidak melihat orang tua hanya sebagai penanya atau penilai. Karena di balik itu semua, kita sedang memegang hal yang sama: masa depan anak.

Semoga ke depan, hubungan guru dan orang tua tidak lagi terasa seperti dua pihak yang berdiri di meja berbeda, tetapi seperti dua orang yang duduk di sisi yang sama, hanya dengan peran yang berbeda.

Karena pendidikan bukan tentang siapa yang paling benar atau paling berkuasa. Tapi tentang siapa yang paling mau bekerja sama, agar anak-anak tidak hanya tumbuh pintar, tapi juga tumbuh utuh sebagai manusia.

 

 

*Catatan ditulis oleh Guru PAI, Hartanta.

Membangun Generasi Beradab dengan Pembiasaan Ibadah

Membangun Generasi Beradab dengan Pembiasaan Ibadah

Membangun  Generasi Beradab dengan Pembiasaan Ibadah 

Menjadi wali kelas 6 putra di SDIT Bina Insani merupakan amanah yang penuh tantangan sekaligus kesempatan berharga. Pada awal tahun pelajaran, saya menghadapi kondisi kelas yang cukup menguras energi. Sebagian siswa masih menunjukkan perilaku yang kurang tertib, sulit mengikuti aturan, sering bercanda berlebihan, kurang bertanggung jawab terhadap tugas, dan perlu banyak diingatkan dalam hal kedisiplinan. Sebagai pendidik, saya menyadari bahwa perubahan perilaku tidak dapat dicapai hanya dengan memberikan nasihat atau hukuman. Anak-anak membutuhkan keteladanan, pembiasaan, serta lingkungan yang mendukung tumbuhnya karakter positif. Oleh karena itu, saya berusaha menanamkan nilai-nilai adab dan ibadah sebagai fondasi pembentukan karakter mereka.

Menanamkan Adab Melalui Pembiasaan Ibadah

Salah satu program yang saya terapkan adalah pembiasaan ibadah secara konsisten. Setiap hari saya melakukan pengecekan rutin pelaksanaan sholat wajib siswa, terutama sholat berjamaah di masjid. Kegiatan ini tidak sekadar memantau, tetapi juga menjadi sarana membangun kesadaran bahwa sholat adalah kebutuhan seorang muslim, bukan sekadar kewajiban yang harus dipenuhi. Selain itu, saya mengajak siswa untuk membiasakan puasa sunah Senin dan Kamis secara bersama-sama. Setiap pekan kami saling mengingatkan dan memberikan motivasi agar mereka dapat menjalankan puasa dengan penuh semangat. Kebersamaan dalam menjalankan ibadah ini menciptakan suasana positif yang mendorong mereka untuk saling mendukung dalam kebaikan. Perlahan tetapi pasti, pembiasaan ibadah tersebut mulai memberikan pengaruh yang nyata. Anak-anak menjadi lebih mudah diarahkan, lebih menghargai aturan, serta menunjukkan sikap yang lebih santun kepada guru maupun teman-temannya.

Pengalaman Paling Berkesan

Pengalaman yang paling berkesan bagi saya terjadi ketika melihat perubahan sikap beberapa siswa yang pada awalnya dikenal paling sulit diatur. Ada siswa yang sering terlambat, kurang disiplin, bahkan beberapa kali mendapat teguran karena perilakunya di kelas. Namun setelah beberapa bulan menjalani pembiasaan ibadah dan pendampingan yang intensif, mereka mulai menunjukkan perubahan yang luar biasa. Mereka tidak hanya lebih rajin melaksanakan sholat berjamaah, tetapi juga mulai berinisiatif mengingatkan teman-temannya untuk sholat dan menjaga ketertiban. Momen yang sangat menyentuh adalah ketika suatu hari saya melihat beberapa siswa yang dahulu sering membuat kegaduhan justru menjadi penggerak teman-temannya untuk berwudhu dan berangkat ke masjid. Saat itu saya menyadari bahwa pendidikan karakter yang dilakukan dengan kesabaran dan konsistensi dapat menghasilkan perubahan yang nyata.

Refleksi Keberhasilan

Keberhasilan terbesar yang saya rasakan bukanlah ketika nilai akademik siswa meningkat, melainkan ketika saya melihat perubahan perilaku dan akhlak mereka. Anak-anak yang dahulu sulit dikendalikan kini menjadi lebih tertib, lebih dewasa dalam bersikap, dan lebih bertanggung jawab terhadap tugas serta amanah yang diberikan. Saya menyadari bahwa keberhasilan tersebut tidak terlepas dari beberapa faktor penting, yaitu: Konsistensi dalam pembinaan (pembiasaan yang dilakukan setiap hari memberikan pengaruh yang kuat terhadap karakter siswa), Keteladanan guru (Anak-anak lebih mudah mengikuti apa yang mereka lihat daripada apa yang hanya mereka dengar), Pendekatan yang humanis (membangun hubungan yang dekat membuat siswa merasa dihargai dan lebih terbuka menerima arahan) dan Penguatan nilai agama (Ibadah yang dilakukan secara rutin menjadi sarana efektif dalam membentuk kedisiplinan dan pengendalian diri). Melalui proses tersebut, saya semakin yakin bahwa pendidikan karakter harus menjadi prioritas utama dalam pembelajaran.

Tantangan yang Dihadapi

Perjalanan ini tentu tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi siswa dalam menjalankan pembiasaan yang telah disepakati. Ada kalanya semangat mereka menurun, terutama ketika menghadapi banyak kegiatan sekolah atau ketika pengaruh lingkungan luar mulai terasa. Selain itu, karakter setiap siswa berbeda-beda. Ada yang mudah menerima arahan, tetapi ada pula yang membutuhkan pendekatan khusus dan pendampingan yang lebih intensif. Sebagai wali kelas, saya harus belajar memahami latar belakang, kebutuhan, dan cara belajar setiap anak agar pembinaan yang dilakukan lebih efektif. Tantangan lainnya adalah menjaga semangat diri sendiri untuk tetap sabar dan optimis. Tidak semua perubahan dapat terlihat dalam waktu singkat. Terkadang hasil dari usaha yang dilakukan baru tampak setelah berbulan-bulan proses pembinaan berlangsung.

Pelajaran Berharga yang Saya Dapatkan

Dari pengalaman ini, saya memperoleh banyak pelajaran berharga. Saya belajar bahwa mendidik bukan sekadar mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk hati dan karakter peserta didik. Saya juga memahami bahwa perubahan besar sering kali berawal dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara terus-menerus. Ketika anak dibiasakan menjaga sholat, berpuasa sunnah, dan beradab dalam keseharian, maka perlahan karakter positif akan tumbuh dalam dirinya. Selain itu, saya belajar bahwa setiap anak memiliki potensi kebaikan yang dapat berkembang apabila mendapatkan bimbingan, perhatian, dan kesempatan yang tepat. Tugas guru adalah membantu menemukan dan menumbuhkan potensi tersebut dengan penuh kesabaran.

Harapan untuk Tahun Pelajaran Berikutnya

Memasuki tahun pelajaran berikutnya, saya berharap budaya adab dan ibadah yang telah terbentuk dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan. Saya ingin pembinaan karakter tidak hanya menjadi program kelas, tetapi menjadi budaya yang hidup dalam seluruh lingkungan sekolah. Saya juga berharap semakin banyak siswa yang tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia, disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki kesadaran beribadah yang kuat. Dengan demikian, mereka tidak hanya sukses secara akademik, tetapi juga menjadi generasi muslim yang siap menghadapi tantangan masa depan dengan iman dan akhlak yang kokoh. Sebagai guru dan wali kelas, saya menyadari bahwa keberhasilan sejati bukanlah ketika siswa selalu berada di bawah pengawasan kita, melainkan ketika mereka tetap memilih melakukan kebaikan meskipun tidak ada yang melihat. Itulah tujuan pendidikan karakter yang sesungguhnya, dan itulah harapan terbesar yang ingin terus saya perjuangkan di SDIT Bina Insani.

 

 

 

 

*Catatan ditulis oleh Wali Kelas 6 Al-Battani, Kiki Indriasari.

Menjaga Integritas Guru di Zaman Modern

Seperti kata pepatah, guru itu digugu lan ditiru (dipercaya dan ditiru). Hal ini menjadi pertanyaan sekaligus pengingat besar dalam diri, “Sudahkah saya benar-benar menjaga amanah sebagai sosok yang layak digugu lan ditiru?”

Setiap hari di kelas saya berkata, “Anak-anak, jangan lupa belajar,” “Jangan lupa sholat, sholatnya berjamaah dan tepat waktu,” “Jangan lupa mengerjakan tugas,” “Jangan buang sampah sembarangan,” “Jangan minum atau makan sambil berdiri” “Jangan merundung (bully) temannya,” dan kalimat ajakan atau larangan yang lainnya. Refleksi terbesar saya tahun ini adalah kenyataan bahwa sebelum menuntut anak-anak melakukan semua itu, saya sendiri harus menjadi cerminan pertama yang mempraktikkannya secara konsisten. Saya harus memastikan bahwa saya rutin belajar setiap hari, sholat tepat waktu, makan dan minum sambil duduk, menyelesaikan tugas sekolah tepat waktu, serta menjaga sikap agar tidak merundung rekan sejawat dalam bentuk apa pun.

Dalam pembelajaran Pancasila dan IPAS misalnya, saya menekankan nilai-nilai Pancasila untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk pentingnya hadir dan berkontribusi secara nyata di tengah masyarakat, bukan hanya saat perayaan 17 Agustus saja. Begitu pula saat mengajarkan anak-anak bahwa kita harus menjaga lingkungan agar keindahan alam ini bisa dinikmati oleh generasi berikutnya.

Tantangan terbesar sebagai guru di zaman ini adalah menjaga integritas tersebut agar tidak runtuh oleh arus kepraktisan modern. Setiap tahun kita mengajarkan tentang kerusakan alam, global warming, dan mengingatkan anak-anak bahwa sebagai umat Islam, kita diamanahkan bumi oleh Allah untuk dijaga. Namun, di dunia pendidikan saat ini, muncul ironi besar ketika teknologi seperti generate gambar AI mulai masif digunakan untuk keperluan pekerjaan demi mengejar kepraktisan atau visual yang instan.

Secara kritis saya menyadari bahwa aktivitas digital tersebut memicu pemborosan listrik raksasa yang setara dengan mengisi daya penuh sebuah ponsel hanya untuk satu gambar, membuang-buang ribuan liter air bersih, dan melepaskan emisi karbon masif yang mempercepat pemanasan global. Di sinilah komitmen saya diuji, “Ketika saya meminta anak-anak untuk tidak merusak lingkungan, maka saya sendiri harus konsisten untuk tidak ikut-ikutan menggunakan teknologi instan yang membawa dampak kerusakan besar bagi bumi tersebut.”

Tanpa disadari, sangat mudah bagi seorang pendidik di zaman sekarang untuk terjebak dalam rutinitas pekerjaan demi menghasilkan pendapatan, hingga mengabaikan keselarasan antara apa yang diajarkan dengan dampak dari tindakan nyata sehari-hari. Jika saya bercermin pada ayat yang Allah turunkan dalam Surah As-Shaff ayat 2, “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?”, ayat ini menjadi alarm keras bagi saya agar tidak menjadi guru yang pandai memberi instruksi namun lalai dalam mencontohkan. Jangan sampai sifat buruk yang dibawa anak-anak di kemudian hari ternyata adalah akibat dari kegagalan kita dalam memberikan keteladanan. Astaghfirullah.

Menjadi guru memang bukanlah hal yang mudah, tetapi ketika saya sudah memilih jalan ini, maka tanggung jawab itu melekat sepenuhnya. Saya tidak dituntut untuk langsung menjadi manusia sempurna tanpa cela, namun saya dituntut untuk jujur pada proses dan konsisten berakar pada nilai-nilai yang saya ajarkan sendiri.

Langkah nyata yang terus saya usahakan adalah membatasi penggunaan teknologi terbarukan secara bijak jika berdampak buruk pada bumi, menyelaraskan ucapan dengan tindakan di kelas, serta terus merefleksikan diri. Menjadi sosok yang digugu lan ditiru adalah perjalanan seumur hidup. Semoga Allah mengampuni segala kekhilafan saya di masa lalu dan menguatkan langkah saya untuk menjadi guru yang tidak hanya mengajar dengan kata-kata, tetapi menuntun dengan akhlak dan tindakan nyata.

 

 

 

*Catatan ditulis oleh Wali Kelas 4 Al-Jahiz, Kamilatun Nisa.

Meracik Kesabaran dan Garam: Pengalaman Membuat Telur Asin

Meracik Kesabaran dan Garam: Pengalaman Membuat Telur Asin

Pengalaman yang Paling Berkesan

Pengalaman yang paling berkesan selama proses pembelajaran tahun ini adalah saat siswa kelas VI melakukan praktik pembuatan telur asin. Kegiatan ini menjadi pengalaman yang menarik karena siswa tidak hanya mempelajari materi secara teori, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pembuatan produk makanan tradisional. Siswa melakukan berbagai tahapan kegiatan, mulai dari menyiapkan alat dan bahan, membersihkan telur bebek dengan mencucinya secara hati-hati, membuat campuran garam dan bubuk batu bata, membalut telur bebek dengan adonan, menyimpan telur ke dalam wadah tertutup dalam waktu kurang lebih 1 minggu untuk proses pengasinan. Hingga proses mengkukus dan mendistribusikannya. Tidak hanya itu, pembuatan telur asin ini merupakan salah satu kegiatan yang di dalamnya juga memerlukan keterampilan dalam matematika, kreativitas, dan juga ilmu tentang berdagang dalam Islam. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan kepada siswa proses pengawetan makanan tradisional, melatih keterampilan praktik, serta menumbuhkan sikap teliti, sabar, dan bertanggung jawab. 

Refleksi Keberhasilan atau Tantangan

Semangat siswa dalam mengikuti setiap tahapan praktik serta penggunaan bahan dan alat yang mudah diperoleh membuat kegiatan ini berhasil. Pembelajaran yang dilakukan secara langsung memberikan pengalaman yang lebih bermakna sehingga siswa lebih mudah memahami materi yang disampaikan. Dampak positif dari kegiatan ini siswa memperoleh pengetahuan baru tentang pengolahan makanan tradisional, meningkatnya keterampilan, serta berkembangnya sikap kerja sama dan tanggung jawab.

Pelajaran Berharga yang Saya Dapatkan

Saya menyadari bahwa pembelajaran yang melibatkan praktik langsung dapat meningkatkan minat dan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari. Siswa menjadi lebih aktif, antusias, dan mudah mengingat konsep ketika mereka terlibat secara langsung dalam kegiatan pembelajaran. Hal yang perlu saya pertahankan salah satunya yaitu memberikan pengalaman belajar yang kontekstual dan bermakna melalui kegiatan praktik. 

Harapan untuk Tahun Pelajaran Berikutnya

Saya berharap dapat terus menghadirkan kegiatan pembelajaran yang menarik, inovatif, dan memberikan pengalaman nyata kepada siswa. Selain meningkatkan pemahaman akademik, saya berharap kegiatan praktik seperti pembuatan telur asin dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan hidup, sikap tanggung jawab, kerja sama, serta kecintaan terhadap kearifan lokal. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berfokus pada hasil, tetapi juga pada proses dan pengalaman yang bermakna bagi siswa.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Wali Kelas 6 Al-Baitar, Jenia Indah Fitriani.