Meningkatkan Speaking Skill Siswa melalui Kegiatan Role Play “Seller and Buyer”

Meningkatkan Speaking Skill Siswa melalui Kegiatan Role Play “Seller and Buyer”

Salah satu pengalaman yang paling berkesan dalam pembelajaran tahun ini adalah saat siswa mempelajari materi The Market dalam pelajaran Bahasa Inggris melalui kegiatan role play seller and buyer.  Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempraktikkan Bahasa Inggris secara langsung serta mengembangkan kemampuan speaking skill dengan cara yang menyenangkan.

  • Kegiatan yang dilakukan:  

Dalam pembelajaran ini, siswa mempelajari kosakata tentang makanan dan benda-benda yang ada di pasar (the market). Siswa menggunakan LKPD sebagai panduan untuk mengenal nama barang, harga, serta membuat percakapan sederhana. Setelah memahami materi, siswa melakukan role play sebagai seller dan buyer dengan menggunakan percakaan sederhana dalam Bahasa Ingris.

  • Tujuan kegiatan:

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbicara Bahasa Inggris siswa, menambah penguasaan vocabulary, serta melatih kepercayaan diri siswa dalam berkomunikasi.

  • Hasil yang diperoleh:

Siswa terlihat lebih aktif dan antusias dalam mengikuti pembelajaran. Melalui kegiatan role play, siswa mulai berani berbicara menggunakan Bahasa Inggris, menyebutkan nama barang, menanyakan harga, serta melakukan percakapan sederhana sebagai penjual dan pembeli.

Refleksi Keberhasilan atau Tantangan

  • Faktor yang mendukung keberhasilan: 

Pembelajaran dilakukan melalui praktik langsung sehingga siswa lebih mudah memahami materi. Media gambar, LKPD, dan kegiatan role play membantu siswa mengembangkan vocabulary dan speaking skill.

  • Dampak positif bagi siswa: 

Siswa menjadi lebih percaya diri, mampu bekerja sama, berani berkomunikasi, serta memiliki pengalaman menggunakan Bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari.

  • Tantangan yang dihadapi: 

Masih terdapat beberapa siswa yang membutuhkan pendampingan dalam pengucapan kata, mengingat vocabulary, dan menyusun kalimat sederhana. Perbedaan kemampuan berbicara siswa juga menjadi tantangan dalam proses pembelajaran.

  • Hal yang perlu diperbaiki: 

Perlu memberikan lebih banyak kesempatan kepada siswa untuk berlatih speaking secara bertahap melalui aktivitas yang menarik dan kontekstual.

Pelajaran Berharga yang Saya Dapatkan

Saya menyadari bahwa pembelajaran Bahasa Inggris akan lebih bermakna ketika siswa diberikan kesempatan untuk menggunakan bahasa secara langsung, bukan hanya mempelajari teori.

Hal yang perlu saya pertahankan adalah menciptakan suasana belajar yang aktif, menyenangkan, dan memberikan ruang bagi setiap siswa untuk mencoba.

Hal yang perlu saya tingkatkan adalah mengembangkan lebih banyak kegiatan komunikasi agar kemampuan speaking skill siswa semakin berkembang dan siswa semakin percaya diri menggunakan Bahasa Inggris.

Harapan untuk Tahun Pelajaran Berikutnya

Pada tahun pelajaran berikutnya, saya berharap dapat terus menghadirkan pembelajaran Bahasa Inggris yang lebih menarik, aktif, dan bermakna bagi siswa. Saya berharap siswa semakin percaya diri dalam menggunakan Bahasa Inggris, khususnya dalam kemampuan berbicara (speaking skill), serta berani mencoba berkomunikasi tanpa takut melakukan kesalahan.

Selain itu, saya berharap dapat terus memperbaiki diri sebagai pendidik dengan mengevaluasi setiap proses pembelajaran, memahami kebutuhan siswa, dan memberikan pendampingan terbaik agar setiap siswa dapat berkembang sesuai dengan potensinya.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Wali Kelas 2, Muniroh.

Pada Akhirnya, Bukan Hanya Mereka yang Bertumbuh

Pada Akhirnya, Bukan Hanya Mereka yang Bertumbuh

Kalau ditanya apa yang paling berkesan selama satu tahun mengajar, jawabannya bukan sekadar banyaknya hafalan yang dicapai, melainkan proses kecil yang tumbuh setiap hari. Di tengah berbagai tantangan, saya melihat anak-anak perlahan menjadi lebih berani, lebih percaya diri, dan semakin nyaman belajar Al-Qur’an melalui talaqqi, murojaah, dan hafalan. Harapannya, mereka tidak hanya bertambah hafalannya, tetapi juga tumbuh rasa cinta terhadap Al-Qur’an.

Setahun ini membuat saya semakin sadar bahwa setiap anak memiliki cara bertumbuh yang berbeda. Tidak semua berjalan sesuai harapan, dan ada kalanya saya harus mengulang hal yang sama berkali-kali. Namun, dari situlah saya belajar bahwa menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan materi, tetapi juga tentang membersamai setiap proses yang dijalani anak-anak.

Hal yang sangat saya syukuri adalah semangat anak-anak yang selalu membawa energi baru di setiap pertemuan. Dukungan dari sekolah dan rekan-rekan guru juga menjadi bagian penting yang membuat proses pembelajaran berjalan dengan baik. Dampak yang paling saya rasakan bukan hanya perkembangan hafalan mereka, tetapi juga tumbuhnya kedekatan, rasa percaya diri, dan keberanian mereka untuk terus belajar.

Ternyata, mengajar Al-Qur’an bukan hanya tentang memperbaiki bacaan anak-anak. Sedikit demi sedikit, anak-anak itu juga mengajarkan banyak hal kepada saya. Mereka mengajarkan bahwa proses tidak selalu harus cepat. Mereka mengajarkan bahwa keberhasilan tidak selalu diukur dari target yang tercapai. Dan mereka mengajarkan bahwa terkadang, suasana belajar yang hangat dan penuh tawa juga merupakan bagian dari pendidikan itu sendiri.

Ke depan, saya ingin tetap menjaga hangatnya suasana belajar di kelas dan terus mencari cara agar pembelajaran Al-Qur’an dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi setiap anak, sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan mereka masing-masing. Memasuki tahun pelajaran berikutnya, saya berharap dapat terus bertumbuh sebagai pendidik, membuka diri terhadap hal-hal baru, serta menghadirkan proses belajar yang semakin bermakna melalui kolaborasi yang baik dengan siswa maupun orang tua.

Saya berharap langkah-langkah kecil yang telah diupayakan bersama dapat menjadi bekal yang baik bagi mereka. Semoga setiap ayat yang dipelajari tidak hanya berhenti pada hafalan, tetapi juga perlahan tumbuh menjadi cahaya dan kecintaan yang menetap di hati mereka.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Guru Quran, Nurul Hidayah.

Pubertas: Ketika Siswa Mulai Mengenal Dirinya Sendiri

Pubertas: Ketika Siswa Mulai Mengenal Dirinya Sendiri

Satu Hal yang Paling Berkesan Tahun Ini

Menjadi guru kelas di kelas lima memiliki tantangan tersendiri, karena di fase ini siswa mulai mengalami masa pra pubertas bahkan beberapa sudah mengalami pubertas. Kebetulan sekali di level ini siswa memperoleh materi pembelajaran IPAS tentang pubertas. Menariknya setelah pembelajaran yang saya sampaikan di kelas ternyata membuat siswa semakin penasaran tentang diri mereka sendiri. Padahal yang saya lakukan hanya menyampaikan materi secara klasikal dan lebih banyak melakukan diskusi dua arah dengan siswa. Semua kelas hening saat saya menjelaskan dan ramai menanggapi saat saya bertanya. Melalui pembelajaran ini siswa lebih mengenal sebuah proses perubahan yang terjadi pada diri mereka, seolah-olah mereka sedang menggali tentang diri mereka sendiri dan mencoba berkenalan kembali. 

Setelah pembelajaran selesai, banyak siswa yang kemudian mengerumuni saya sekedar untuk menanyakan lebih jauh tentang istilah-istilah yang ada di materi ini. Tidak sedikit juga yang kemudian memvalidasi diri mereka terkait perubahan-perubahan yang mereka alami, baik perubahan fisik, sosial dan emosinya. Sesampainya di rumah pun orang tua juga tak luput dari undangan untuk berdiskusi oleh mereka terkait materi ini dan mereka kaitkan dengan diri mereka sendiri. 

Refleksi Keberhasilan atau Tantangan

Menurut saya, faktor yang memengaruhi keberhasilan dari pembelajaran kali tentunya bukan hanya dari metode belajar yang sesederhana itu, tapi karena materi yang disampaikan adalah sebuah ilmu yang mereka butuhkan dan relate dengan kondisi diri mereka saat ini. Dampak yang bisa dinilai dan dirasakan dari keberhasilan materi ini adalah siswa menjadi lebih mengenal dirinya dan secara tidak langsung belajar untuk mengelola perubahan-perubahan yang mereka alami. Karena Sebagian dari mereka sebelumnya bertanya-tanya seperti “kenapa ya aku gampang banget bad mood akhir-akhir ini?”

Pelajaran Berharga yang Saya Dapatkan

Saya menyadari bahwa siswa butuh pemantik untuk merasa perlu dalam mempelajari sesuatu. Karena pada dasarnya semua pembelajaran yang diberikan guru di kelas sangat dekat dan bermanfaat untuk kehidupan mereka sehari-hari, akan tetapi mereka belum merasa perlu untuk mempelajari hal tersebut. Disinilah peran guru diuji dan ditantang.

Komitmen Perbaikan ke Depan

Langkah nyata yang akan dilakukan pada tahun pelajaran berikutnya adalah meningkatkan strategi pembelajaran yang lebih variatif seperti mengadakan talkshow interaktif tentang pubertas yang lebih luas melalui pembicara yang mumpuni dikaitkan dengan ajaran Islam untuk memperkuat pondasinya. 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Wali Kelas 5 Al-Farghani, Ocktavia Cristyari Suwandi.

Pelan-Pelan, Anak-Anak Mulai Mencintai Al-Qur’an

Pelan-Pelan, Anak-Anak Mulai Mencintai Al-Qur’an

Tahun pelajaran ini menjadi pengalaman yang berkesan bagi saya sebagai guru Qur’an. Hal yang paling saya syukuri adalah melihat anak-anak perlahan mulai berani membaca Al-Qur’an. Di awal pembelajaran, ada yang masih malu, suaranya sangat pelan, atau ragu karena takut salah. Ada juga yang masih sering keliru pada makhraj, panjang pendek bacaan, dan kelancaran saat menyambung ayat. Namun dari proses itu saya belajar bahwa mengajar Al-Qur’an bukan hanya soal mengejar target, tetapi juga tentang mendampingi anak-anak agar tumbuh rasa percaya diri dan cinta kepada Al-Qur’an.

Kegiatan yang saya lakukan selama pembelajaran adalah membimbing tahsin, baca-simak, setoran hafalan, dan murojaah. Saat anak membaca, saya menyimak dengan teliti, lalu mengoreksi bacaan yang belum tepat secara pelan dan lembut. Saya berusaha menjaga suasana halaqah tetap nyaman agar anak-anak tidak merasa takut ketika salah. Tujuannya sederhana, yaitu membantu mereka membaca Al-Qur’an dengan lebih tartil, menjaga hafalan, serta membiasakan adab ketika belajar, seperti duduk tertib, menyimak teman, dan menerima koreksi dengan baik.

Alhamdulillah, sedikit demi sedikit mulai terlihat perubahan. Beberapa anak yang awalnya malu mulai berani membaca. Ada yang mulai lebih lancar, lebih tertib, dan lebih siap saat murojaah. Walaupun perkembangan setiap anak tidak sama, perubahan kecil itu tetap menjadi kebahagiaan tersendiri. Saya menyadari bahwa setiap anak memiliki prosesnya masing-masing, sehingga guru perlu sabar, konsisten, dan terus memberi semangat.

Tantangan yang saya hadapi adalah kemampuan siswa yang beragam. Ada anak yang cepat mengikuti, tetapi ada juga yang membutuhkan pendampingan lebih sering. Selain itu, murojaah di rumah belum semuanya berjalan rutin. Karena itu, saya merasa perlu memperbaiki catatan perkembangan siswa, mengelompokkan pembelajaran sesuai kemampuan, serta memperkuat komunikasi dengan orang tua agar pendampingan di sekolah dan di rumah bisa berjalan searah.

Pelajaran berharga yang saya dapatkan adalah bahwa mengajar Al-Qur’an membutuhkan hati yang lapang. Anak-anak perlu dibimbing, disapa, dimotivasi, dan diberi contoh adab yang baik. Ke depan, saya ingin mempertahankan cara membimbing yang lembut, sekaligus meningkatkan variasi pembelajaran, pemantauan capaian siswa, dan penggunaan media sederhana untuk membantu murojaah. Harapan saya, tahun depan anak-anak semakin dekat dengan Al-Qur’an, bacaan dan hafalannya meningkat, serta adab Qur’ani semakin terlihat dalam keseharian mereka.

 

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Guru Quran, Endang Nurcayaningsih.

Membangun Pemahaman Meter dan Sentimeter Melalui Pembelajaran Interaktif

Membangun Pemahaman Meter dan Sentimeter Melalui Pembelajaran Interaktif

Pengalaman yang paling berkesan tahun ini adalah saat mengajarkan materi satuan panjang meter dan sentimeter. Pembelajaran menjadi bermakna karena siswa tidak hanya mempelajari konsep secara teori, tetapi juga melakukan pengukuran secara langsung menggunakan pita ukur 1 meter dan penggaris 1 meter. Kegiatan ini membuat siswa lebih antusias, aktif, dan mudah memahami hubungan antara meter dan sentimeter.

Dalam pembelajaran, saya menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar utama dengan dukungan bahasa Indonesia pada bagian-bagian yang membutuhkan penjelasan lebih mendalam. Pendekatan bilingual ini membantu siswa memahami konsep sekaligus memperkaya kosakata mereka.

Kegiatan pembelajaran meliputi memperkirakan panjang benda, mengenal bahwa 1 meter sama dengan 100 sentimeter, melakukan konversi satuan panjang, mengukur benda di sekitar, serta mengerjakan latihan secara mandiri. Tujuan utama kegiatan ini adalah membantu siswa memahami konsep satuan panjang, melakukan konversi satuan, dan menerapkannya dalam penyelesaian masalah sederhana.

Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa sebagian besar siswa telah memahami hubungan antara meter dan sentimeter serta mampu melakukan konversi dasar. Siswa juga lebih percaya diri menggunakan istilah matematika dalam bahasa Inggris dan lebih mudah memahami materi melalui pembelajaran yang konkret dan interaktif. Namun, beberapa siswa masih memerlukan bimbingan dalam menyelesaikan soal cerita dan konversi yang lebih kompleks.

Keberhasilan pembelajaran didukung oleh penggunaan alat peraga nyata, pendekatan bilingual yang seimbang, serta kegiatan praktik langsung. Dampak positifnya terlihat dari meningkatnya pemahaman konsep dan kemampuan menghubungkan matematika dengan kehidupan sehari-hari.

Tantangan yang dihadapi antara lain perbedaan kemampuan bahasa Inggris siswa, kesulitan sebagian siswa dalam mengubah sentimeter ke meter dan sentimeter, kurangnya ketelitian saat membaca alat ukur, serta keterbatasan waktu untuk memberikan latihan yang cukup.

Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa siswa kelas 3 lebih mudah memahami matematika melalui benda konkret dan pengalaman langsung. Saya juga menyadari pentingnya penggunaan bahasa Indonesia sebagai pendukung pembelajaran bilingual. Ke depan, saya berkomitmen untuk menerapkan strategi pembelajaran yang lebih variatif, meningkatkan komunikasi dengan siswa dan orang tua, serta memperbanyak kegiatan pengukuran nyata.

Saya berharap pada tahun pelajaran berikutnya siswa dapat belajar matematika dengan lebih percaya diri, aktif, dan menyenangkan, serta mampu memahami dan menerapkan konsep satuan panjang secara lebih mendalam dalam kehidupan sehari-hari. 

 

 

 

*Catatan ditulis oleh Wali Kelas 3 Ibnu Nafis, Dydaesturi Jalarno.

Guruku adalah Sahabatku

Guruku adalah Sahabatku

Bismillahirrahmaanirrahim. Izinkan Saya memulainya dengan salah satu cerita singkat.

“Kring….kring…kring..” bel berbunyi bertanda istirahat telah usai dan mulai memasuki pelajaran selanjutnya, yaitu pembelajaran Al Qur’an. Ada anak-anak yang masih bermain sepak bola, makan bekal di sudut tangga, berlarian mengambi wudhu, namun ada juga anak-anak yang bergegas memasuki kelasnya masing-masing untuk mengambil Al-Qur’an dan buku prestasinya kemudian pergi menuju ruangan halaqoh masing-masing. Tibalah saatnya shift terakhir bagi saya untuk mengajar kelas enam putra. Saat langkah kaki ini menuju ruangan kelas halaqoh. Dari sudut kejauhan lorong lantai 2, ada empat langkah kaki berlarian menghampiri saya, salah satu diantara anak tsb berkata “Ustadzah Lala, Us.. dengerin aku, kakiku berdarah tadi habis main bola. Tapi gak papah” ia menceritakan kesedihan dengan penuh tawa. Dengan tenang saya menanggapi “Beneran ndak papa?”, dengan mengernyitkan dahinya ia menjawab “gak papa nanti juga sembuh”. Dengan gusar teman-temannya menceritakan kejadian, “tadi to us, waktu main bola, dia didorong sama anak kelas sebelah, jadinya berdarah deh”. Saya pun menanyakan untuk kedua kali kepada anak tsb “Beneran ndak papa, apa ndak sakit?, ia menjawab dengan senyum terpaksa “sedikit sakit si, tapi gak papa”.

Pembelajaran pun berlangsung dengan lancar. Namun ketika pembelajaran selesai ditutup dan teman-temannya sudah kembali ke kelasnya masing-masing. Ada sesuatu yang ganjil dari anak tersebut. Wajahnya menjadi pucat dan ia memegang perutnya. Saya bertanya dengan penasaran “Kamu kenapa dari tadi memegang perut?”. Ia justru menjawab kalimat yang tidak saya duga “Ustadzah kenapa gak marah-marah kaya mamaku?”, ia menjawab dengan nada datar dan kembali ke kelasnya.

2025-2026

Alhamdulillah selama kurang lebih satu tahun saya membersamai mereka. Cerita di atas adalah salah satu cerita menarik bagi saya, karena masih banyak cerita lainnya. Saya tidak pernah berfikir bahwa tahun 2025-2026 akan menjadi perjalanan yang cukup singkat untuk mengajar di SDIT Bina Insani. Terkhusus ketika saya diamanahi untuk mengajar kelas enam putra. Dimana mereka bukan lagi berada di masa kanak-kanak lagi, melainkan peralihan masa kanak-kanak menuju masa remaja. Anak-anak yang lebih membutuhkan telinga daripada sebuah kata, anak-anak yang lebih membutuhkan tindakan daripada pernyataan, anak-anak yang lebih membutuhkan senyuman daripada tepuk tangan, dan anak-anak yang lebih membutuhkan seorang sahabat yang selalu bisa menerimanya daripada seorang guru.

Banyak cerita yang tidak bisa disampaikan hanya sekedar melalui kalimat maupun kata. Ada banyak keinginan anak-anak yang hanya sekadar menjadi angan. Ada banyak lembarang-lembaran anak-anak yang masih tersimpan pada harapan. Ada banyak kenangan bersama anak-anak yang masih menggenang di kening seseorang. Ada rasa amarah anak-anak yang dibalas dengan keramahan seseorang. Ada tangis anak-anak yang pada akhirnya berbuah manis. Dan ada juga beberapa capaian yang patut diberi pujian. Sebagai seorang pendidik, sudah sepatutnya peran kita bukan hanya sebagai seorang guru, melainkan juga sebagai orangtua, seorang teman dan seorang sahabat yang mau dan mampu menerima, mendengarkan segala pelik dan luka dari anak-anak kita semua. Wallahua’lam bisshawab.

 

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Guru Quran, Millati Azka.

MENUMBUHKAN ADAB DAN KECINTAAN TERHADAP AL-QUR’AN SEBAGAI FONDASI PEMBELAJARAN

MENUMBUHKAN ADAB DAN KECINTAAN TERHADAP AL-QUR’AN SEBAGAI FONDASI PEMBELAJARAN

Menjadi seorang guru memiliki slogan yang melekat dalam diri kita yaitu “guru iku digugu lan ditiru”. Maka dari itu sebagai seorang guru tugas kita bukan hanya mentransfer ilmu saja tapi bagaimana kita membimbing mereka untuk memiliki adab dan karakter yang baik. Salah satu upaya supaya anak anak didik kita memiliki adab yang baik adalah dengan memberikan contoh atau pedoman melalui diri kita. Apa yang dilihat, didengar dan dirasakan siswa dari gurunya akan menjadi pelajaran yang tak kalah penting. Sebagai guru Qur’an saya menyadari bahwa membentuk karakter dan adab siswa merupakan proses yang membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan keteladanan. Pengalaman yang paling berkesan selama tahun pelajaran ini adalah ketika melihat perubahan perilaku siswa yang sedikit demi sedikit semakin baik, entah dalam berinteraksi dengan guru, teman, maupun terhadap Al-Qur’an. Mungkin  masih ada beberapa siswa yang perlu diingatkan untuk menjaga sikap, fokus saat belajar, serta menerapkan adab yang baik. Namun seiring berjalannya waktu, melalui pembiasaan dan penguatan adab yang dilakukan secara rutin, perubahan positif mulai terlihat.

Kegiatan yang saya lakukan tidak hanya berfokus pada pencapaian target hafalan dan tilawah, tetapi juga pada pembiasaan adab terhadap Al-Qur’an dan adab terhadap sesama. Setiap pertemuan diawali dengan doa, murojaah, serta pengingat tentang pentingnya menghormati guru, menyayangi teman, dan menjaga adab terhadap Al-Qur’an. Melalui pendekatan tersebut, saya melihat siswa menjadi lebih tertib, lebih santun dalam berbicara, serta lebih antusias mengikuti pembelajaran.

Meskipun dalam hal capaian hafalan dan tilawah masih ada beberapa siswa belum mencapai target yang diharapkan,menurut  saya keberhasilan pembelajaran tidak hanya diukur dari banyaknya hafalan yang dimiliki siswa, tapi perubahan sikap, tumbuhnya rasa hormat, kedisiplinan, dan kecintaan terhadap Al-Qur’an merupakan pencapaian yang sangat berharga. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa fondasi utama dalam pembelajaran Al-Qur’an adalah adab. Ketika adab telah tertanam dengan baik, maka proses belajar dan pencapaian akademik akan lebih mudah berkembang.

Dari pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa keteladanan seorang guru memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan siswa. Oleh karena itu, saya berkomitmen untuk terus memperbaiki diri, meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat komunikasi dengan siswa dan orang tua, serta mengembangkan metode yang lebih menarik agar siswa semakin mencintai Al-Qur’an. Harapan saya, pada tahun pelajaran berikutnya siswa tidak hanya mengalami peningkatan dalam kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga tumbuh menjadi generasi yang berakhlak mulia, beradab, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Guru Quran, Nadia Ainun Kholishoh.

Program Sholat Subuh Berjamaah di Masjid: Pembiasaan Disiplin dan Ketakwaan

Program Sholat Subuh Berjamaah di Masjid: Pembiasaan Disiplin dan Ketakwaan

Sholat subuh berjamaah merupakan salah satu program pembinaan karakter yang sangat relevan untuk membentuk kedisiplinan, tanggung jawab, dan kecintaan terhadap ibadah. Dengan membiasakan siswa bangun lebih awal, berangkat ke masjid, dan melaksanakan sholat berjamaah, guru menanamkan nilai ketaatan serta komitmen pada perintah agama.

Guru berperan besar dalam memastikan program ini berjalan efektif, antara lain:

  1. Membangun Kesadaran

Guru memberikan pemahaman bahwa sholat subuh adalah tiang utama penentu keberkahan hari. Siswa diajak tidak sekadar melaksanakan, tetapi memahami keutamaannya.

  1. Pendampingan dan Monitoring

Guru membuat sistem monitoring yang sehat tanpa menimbulkan tekanan. Pendataan kehadiran di masjid dapat dilakukan melalui laporan siswa atau koordinasi dengan takmir masjid sekitar tempat tinggal mereka.

  1. Memberikan Apresiasi

Setiap upaya baik siswa harus dihargai. Guru dapat memberi apresiasi sederhana, seperti pujian, bintang kebaikan, atau sertifikat bulanan untuk menumbuhkan motivasi. Pembiasaan seperti ini melatih karakter disiplin, tanggung jawab, dan spiritualitas sejak dini, sehingga nilai-nilai tersebut tertanam kuat sampai mereka dewasa. Korelasi pembiasaan karakter yang baik dengan prestasi akademik siswa. 

Berdasarkan data yang dicatat dalam jurnal harian ada korelasi positif antara kesolihan siswa dengan prestasi akademik. Data pembiasaan ibadah dalam membentuk karakter siswa dengan prestasi akademik.  

Dari data tersebut dapat dilihat bahwa nilai raport dengan rata-rata di atas 80 ada 24 siswa artinya 89% siswa yang dengan pembiasaan ibadah yang baik akan membentuk karakter takwa dan berdampak positif pada prestasi akademik siswa yang dibuktikan dengan nilai raport. 

Adapun tantangan dalam penerapan program pembiasaan ibadah dan pembentukan karakter yang ditemui guru saat pelaksanaan program adalah sebagai berikut :

  1. Tantangan dalam Program Sholat Subuh Berjamaah di Masjid
  • Faktor Kedisiplinan Siswa

Tidak semua siswa memiliki kebiasaan bangun pagi. Beberapa siswa sering terlambat bangun, sulit tidur lebih awal, atau kurang disiplin menjalankan kewajiban bangun Subuh.

  • Kurangnya Peran atau Pengawasan Orang Tua

Sebagian orang tua belum terbiasa membangunkan anak untuk sholat Subuh dan mengarahkan mereka ke masjid. Akibatnya, partisipasi siswa tidak merata.

  • Variasi Kondisi Lingkungan Keluarga

Beberapa keluarga memiliki dinamika internal seperti kesibukan orang tua, kondisi ekonomi, atau kurangnya budaya ibadah, yang membuat pendampingan ibadah di rumah tidak optimal.

Sehingga di butuhkan komitmen orang tua yang besar agar program ini berjalan dengan lancar.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Wali Kelas 6 Al-Biruni, Catur Rahayu.

Saat Senang Mengaji Menjadi Kunci Kemudahan

Saat Senang Mengaji Menjadi Kunci Kemudahan

Satu Hal yang Paling Berkesan Tahun Ini Mendapatkan amanah sebagai guru Al-Qur’an kelas 5 Halaqoh 2. Saya diberikan amanah untuk membersamai anak-anak yang masih jilid 4 dan belum mencapai target. saya memilih metode membangun rasa senang dan nyaman ketika pembelajaran Al-Qur’an. ketika anak merasa bahagia dan memiliki kedekatan dengan gurunya, maka proses belajar akan berjalan lebih mudah. Sebelum pembelajaran dimulai saya menyiapkan kuis ringan yang menarik. Saya menanamkan kedisiplinan dalam halaqoh. Saya menerapkan pembelajaran tahsin secara klasikal setiap hari. Fokus utama adalah memahamkan anak terhadap materi-materi di jilid 4. Melalui pembiasaan tahsin klasikal secara konsisten, anak-anak menjadi lebih mudah memahami kaidah bacaan. Momen yang paling berkesan bagi saya adalah melihat seluruh anak di halaqoh ini berhasil menyelesaikan tahap jilid dan melanjutkan ke jenjang Al-Qur’an dalam kurun waktu enam bulan. 

Refleksi Keberhasilan atau Tantangan Faktor keberhasilan di antaranya kedekatan yang terjalin antara guru dan peserta didik, serta pembelajaran tahsin secara klasikal. Salah satu tantangan terbesar adalah menjaga fokus anak saat pembelajaran berlangsung. Pembelajaran Al-Qur’an kelas 5 dilaksanakan pada siang hari ketika kondisi fisik sudah lelah. Guru dituntut bisa membuat pembelajaran yang menarik agar konsentrasi anak tetap terjaga.

Pelajaran Berharga yang Saya Dapatkan Setiap anak memiliki potensi untuk berkembang apabila diberikan pendampingan yang tepat, kesabaran, ketelatenan, dan suasana belajar yang menyenangkan. Ketika hubungan yang baik berhasil dibangun, maka pembelajaran akan menjadi lebih bermakna dan tujuan yang diharapkan dapat tercapai bersama.

Harapan untuk Tahun Pelajaran Berikutnya Saya berharap dapat menghadirkan pembelajaran Al-Qur’an yang lebih kreatif, variatif, dan menyenangkan sehingga semangat belajar anak semakin meningkat. Saya juga berharap dapat mempertahankan budaya disiplin dan kedekatan yang telah terbangun, serta mengembangkan strategi pembelajaran yang mampu menjaga fokus anak meskipun dilaksanakan pada siang hari. 

 

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Guru Quran, Novi Aryana.

Kebiasaan Kecil Hari Ini, Generasi Hebat Esok Hari

Kebiasaan Kecil Hari Ini, Generasi Hebat Esok Hari

“Mengajar bukan hanya sekedar memaparkan sebuah materi di setiap harinya, melainkan pengorbanan dan pengabdian untuk bisa membangun karakter yang mulia. Ilmu pengetahuan adalah hal yang penting namun ada adab yang harus berada di atasnya. Ilmu tanpa adab bagaikan pohon tanpa buah sedangkan adab tanpa ilmu bagaikan berjalan tanpa arah. Maka dari itu kita sebagai guru harus mampu mendidik anak anak kami menjadi pribadi yang memiliki adab yang mulia dan berpengetahuan yang luas.” 

Satu tahun saya mengajar di kelas IV Al Jauhari saya merasakan banyak hal positif dari dalam diri mereka. Mereka adalah anak yang tumbuh dari berbagai latar belakang yang berbeda tapi datang dengan tujuan yang sama yaitu menuntut ilmu. Tentu dengan adanya perkembangan zaman kita harus mampu membersamai mereka sesuai dengan zamannya. Tentu PR besar bagi saya yang harus mengajar dengan kekinian dan paling utama menanamkan adab yang baik. Saya melakukan pendekatan dengan membahas hal-hal baru yang mereka sukai, hal tersebut merupakan salah satu langkah awal untuk membangun kedekatan dengan mereka. Setelah terbangun kedekatan, maka saya menanamkan pembiasan-pembiasan positif untuk mereka. Beberapa hal tentang adab yang saya sampaikan adalah ketika ketika izin untuk keluar (baik ke toilet atau hanya sekedar mencuci tangan). Mereka harus izin dari dekat dan ketika kembali wajib mendekat dan mengucapkan terima kasih kepada guru yang sedang mengajar. Selama satu bulan anak-anak masih sering harus diingatakan. Saya menekankan pentingnya peran saling mengingatkan baik dari guru maupun teman. Setelah berjalan lebih dari satu bulan anak-anak sudah mampu melaksanakannya sebagai sebuah kebiasaan. Mereka selalu berusaha untuk terus mengingatkan satu sama lain. Hal yang memang terlihat sangat sederhana dan sering telupakan terkait adab anak-anak izin ke luar ruangan. Menutup pintu juga merupakan hal yang sederhana lainnya, terkadang anak-anak menutup pintu tanpa memegang gagangnya. Sehingga menimbulkan suara dan mudah merusak pintu. Saya terus mengingatkan anak-anak tentang bagaimana menutup pintu dengan baik yaitu dengan memegang gagang pintu dan menutupnya dengan pelan. Untuk hal ini terjadi pada beberapa murid dan harus terus diingatkan supaya menjadi sebuah kebiasaan. Selanjutnya adalah anak-anak harus terbiasa menyapa guru ketika bertemu atau hanya sekadar berpapasan. Dimulai dengan pemberian poin terbanyak bagi siswa yang mampu menyapa guru lebih dari 10 guru. Yang awalnya merupakan sebuah kompetisi maka semakin lama mampu menjadi sebuah kebiasaan. Di kelas, anak-anak memang harus selalu disampaikan tentang sebuah tanggung jawab dan peran sebagai seorang murid, karena anak anak zaman sekarang bukannya tidak bisa, tapi mereka kurang terbiasa. Menanamkan kebiasaan baik sederhana perlu dilakukan dengan sabar dan terus berulang-ulang. Semoga anak-anak di kelas IV Al Jauhari insyaallah memiliki adab yang baik dimanapun mereka berada dan saya juga terus mampu untuk belajar dan membersamai semua siswa dengan baik dan maskimal.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Wali Kelas 4 Al-Jauhari, Desvika Restu Setyaningsih.