Dari Barang Bekas Menjadi Karya Bermakna: Menumbuhkan Kreativitas, Keterampilan, dan Kepercayaan Diri  melalui Project Penampakan Alam dan Student Led Conference (SLC)

Dari Barang Bekas Menjadi Karya Bermakna: Menumbuhkan Kreativitas, Keterampilan, dan Kepercayaan Diri melalui Project Penampakan Alam dan Student Led Conference (SLC)

Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengalami proses belajar secara utuh, mulai dari berkarya, berefleksi, hingga mempresentasikan hasilnya sendiri. Prinsip inilah yang melandasi proyek integrasi mata pelajaran IPAS dan SBDP, di mana siswa ditantang untuk membuat model penampakan alam tiga dimensi (seperti gunung, sungai, dan dataran) dengan memanfaatkan bahan-bahan bekas seperti kertas, botol plastik, dan pewarna.

Proses pembuatan model ini tidak hanya membantu siswa memahami konsep penampakan alam secara konkret, tetapi juga mengasah keterampilan motorik halus mereka melalui aktivitas menggunting, menempel, dan membentuk tekstur. Melalui kerja kelompok, siswa belajar menyusun komposisi bahan serta memadukan warna secara harmonis. Hasilnya sangat menggembirakan; siswa mampu menghasilkan karya kreatif yang estetik sekaligus fungsional sebagai media belajar.

Puncak dari rangkaian proyek ini terjadi pada momen pembagian rapor semester melalui kegiatan Student Led Conference (SLC). Dalam forum ini, kendali presentasi sepenuhnya dipegang oleh siswa. Mereka dengan percaya diri berdiri di hadapan orang tua untuk menceritakan proses belajar, tantangan yang dihadapi, hingga memamerkan hasil karya yang telah dibuat. Kegiatan SLC ini terbukti efektif mengubah ruang kelas menjadi panggung apresiasi, yang tidak hanya menguji pemahaman materi siswa, tetapi juga melejitkan kemampuan komunikasi, refleksi diri, dan rasa bangga mereka atas pencapaian yang diraih. Keberhasilan ini tentu tidak lepas dari dukungan dan apresiasi positif orang tua yang hadir langsung sebagai audiens utama bagi anak-anak mereka.

Berdasarkan pengalaman ini, saya menyadari bahwa pembelajaran berbasis proyek (PjBL) yang terintegrasi secara kontekstual harus tetap dipertahankan karena terbukti mampu menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan. Meski demikian, ada ruang evaluasi yang perlu ditingkatkan, terutama dalam memberikan lebih banyak porsi latihan presentasi agar kemampuan komunikasi lisan maupun tertulis siswa dapat berkembang lebih optimal.

Menatap tahun pelajaran berikutnya, saya berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran dengan menghadirkan strategi yang lebih variatif. Rencana tindak lanjut saya mencakup penerapan pembelajaran berdiferensiasi dan asesmen autentik, serta mengoptimalkan teknologi untuk mendokumentasikan portofolio digital siswa. Dengan memperkuat keterampilan abad ke-21 (4C: Critical Thinking, Creativity, Communication, dan Collaboration), saya berharap dapat terus menciptakan ruang belajar yang tidak hanya berorientasi pada nilai akademik, tetapi juga membentuk karakter siswa yang kreatif, komunikatif, dan percaya diri dalam menunjukkan potensi terbaik mereka kepada dunia.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Wali Kelas 4 Al-Jazari, Damar Asih Setiyowati.

Kedisiplinan dan Kesabaran. Guru Ngaji, Tugas Mulia Menjaga Kalam Ilahi

Kedisiplinan dan Kesabaran. Guru Ngaji, Tugas Mulia Menjaga Kalam Ilahi

Pengalaman yang paling berkesan selama tahun pelajaran 2025/2026 adalah menjalankan amanah sebagai guru ngaji dalam membimbing siswa belajar Al-Qur’an. Saya menyadari bahwa tugas ini merupakan tugas yang mulia karena ikut menjaga dan menanamkan kecintaan terhadap Kalam Ilahi kepada generasi penerus. Dalam prosesnya, saya belajar bahwa kesabaran dan kedisiplinan merupakan kunci utama keberhasilan. Setiap siswa memiliki kemampuan dan kecepatan belajar yang berbeda, sehingga diperlukan kesabaran dalam membimbing mereka satu per satu serta kedisiplinan dalam membiasakan latihan membaca dan menghafal Al-Qur’an. Melalui proses tersebut, saya melihat perkembangan yang menggembirakan pada siswa, baik dalam kemampuan membaca Al-Qur’an maupun dalam sikap mereka terhadap pembelajaran agama. Pengalaman ini semakin menguatkan keyakinan saya bahwa mendidik generasi Qurani membutuhkan keteladanan, ketekunan, dan komitmen yang berkelanjutan.

           Dengan membimbing siswa membaca Al qur’an secara bertahap sesuai kaidah tajwid dengan penuh kesabaran dan kedisplinan. Siswa juga melaksanakan persiapan hafalan dan murojaah secara rutin di rumah dengan pendampingan orang tua sebelum siswa berangkat ke sekolah. Alhamdulillah, siswa semakin cinta dan dekat dengan Al qur’an saat pembiasan kesabaran dan kedisplinan dilaksanakan, Dengan begitu, InsyaAlloh kemudahan dalam membaca dan menghafal Al qur’an akan didapat.

          Banyak Faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam belajar, namun ada hal penting yaitu keridhoan dari Orang tua, guru dan murid itu sendiri dalam menggapai ilmu. Saya menyadari sebagai Guru Ngaji masih banyak kekurangan dan kekhilafan saat mengajar, namun saya percaya dengan semangat belajar , kesabaran dan kesdiplinan bisa mempengaruhi hasil belajar.

          Pengalaman tahun ini mengajarkan saya bahwa hasil belajar mengaji tidak hanya ditentukan oleh kemampuan siswa, tetapi juga oleh kesabaran dalam membimbing dan kedisiplinan dalam berlatih. Ketika kedua hal tersebut berjalan dengan baik, perkembangan kemampuan membaca Al-Qur’an siswa menjadi lebih optimal.

        Saya berharap dapat terus menjadi bagian dari ikhtiar menjaga Kalam Ilahi dengan membimbing siswa agar semakin mencintai Al-Qur’an, mampu membaca dan menghafalnya dengan baik, serta menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Semoga lahir generasi yang berakhlak mulia, berilmu, dan dekat dengan Al-Qur’an.

 Terimakasih

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Guru Quran, Dewi Fatimah.

Keberhasilan Pembelajaran IPAS melalui Metode Experimental Learning  pada Materi Sifat-Sifat Cahaya

Keberhasilan Pembelajaran IPAS melalui Metode Experimental Learning pada Materi Sifat-Sifat Cahaya

Latar Belakang dan Pelaksanaan

Pembelajaran IPAS di Sekolah Dasar memerlukan pengalaman nyata agar konsep yang dipelajari lebih mudah dipahami siswa. Pada materi sifat-sifat cahaya, saya mencermati bahwa siswa akan lebih mudah memahami konsep jika mereka dapat mengamati dan membuktikannya secara langsung melalui percobaan (learning by doing). Oleh karena itu, saya menerapkan metode Experimental Learning pada materi sifat-sifat cahaya. Siswa melakukan berbagai percobaan sederhana untuk membuktikan bahwa cahaya merambat lurus, menembus benda bening, dapat dibiaskan, diuraikan, dan dipantulkan. Selama kegiatan berlangsung, siswa bekerja secara berkelompok, melakukan pengamatan, mencatat hasil percobaan, berdiskusi, dan menyampaikan kesimpulan berdasarkan pengalaman yang mereka peroleh.

Alhamdulillah, penerapan metode Experimental Learning memberikan hasil yang positif. Siswa menjadi lebih antusias, aktif, dan fokus selama pembelajaran berlangsung. Melalui kegiatan eksperimen, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, rasa ingin tahu, kerja sama, dan kepercayaan diri. Konsep-konsep tentang sifat-sifat cahaya menjadi lebih mudah dipahami dan diingat, karena siswa mengalami dan membuktikannya sendiri. Hasil evaluasi pembelajaran dan Sumatif Akhir Semester (SAS) menunjukkan sebagian besar siswa mampu mencapai bahkan melampaui target pembelajaran yang telah ditetapkan.

Pelajaran Berharga yang Saya Dapatkan

Saya menyadari bahwa siswa akan lebih mudah memahami konsep apabila mereka terlibat langsung dalam proses pembelajaran dan memperoleh pengalaman nyata melalui kegiatan praktik atau percobaan.Hal yang perlu saya pertahankan adalah kemauan untuk terus belajar, percaya diri, serta meyakini bahwa setiap proses yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan memberikan hasil yang baik. Saya berharap dapat terus menghadirkan pembelajaran yang aktif, menyenangkan, dan bermakna sehingga siswa semakin antusias belajar, memiliki karakter yang baik, serta mampu mencapai hasil belajar yang optimal sesuai potensi yang dimiliki.

 

Komitmen Perbaikan ke Depan

Pada tahun pelajaran berikutnya, saya berkomitmen untuk:

  • Mengembangkan lebih banyak kegiatan eksperimen dan pembelajaran kontekstual yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.
  • Meningkatkan strategi pembelajaran yang lebih variatif.
  • Memanfaatkan teknologi pembelajaran secara lebih optimal.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Wali Kelas 5, Relita Aprisa.

More Than Just Flashcards: What First Year of Teaching Taught Me

More Than Just Flashcards: What First Year of Teaching Taught Me

Tahun pertama resmi menjadi guru sepertinya akan sangat menyenangkan, batin saya. Saya mendapat amanah untuk menjadi wali kelas 2 serta mengampu mata pelajaran bahasa Inggris di 3 kelas lainnya. Semua memori tentang materi TEYL (Teaching English for Young Learners) melalui storytelling, buku-buku berbahasa Inggris, hand puppets, pop-up book, flashcard, dan sebagainya kembali berputar di kepala, berharap bisa saya terapkan di kelas nantinya. 

Hari pertama, pekan pertama, bulan pertama berlalu. Saya pikir, saya berekspektasi terlalu tinggi. Konsep fun learning yang saya harapkan tidak berjalan sesuai rencana. Banyak sekali hal yang harus saya cerna, lakukan, dan selesaikan. Ternyata banyak hal yang harus diperhatikan sebelum saya bisa totalitas “bereksperimen” dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Mulai dari siswa yang masih terkendala dengan kemampuan membaca dan menulisnya, siswa yang masih belajar bagaimana cara mengelola emosinya, hingga siswa yang berjuang melawan rasa inferior di dalam dirinya. Pada akhirnya, saya merasa kehabisan waktu untuk merancang dan mengevaluasi pembelajaran yang fun.

Di antara para siswa yang masih berjuang tersebut, saya mencoba untuk terus belajar dan memahami, serta mencoba mencari solusi agar mereka bisa lebih nyaman dalam belajar maupun bersosialisasi. Sembari mempelajari metode pendidikan seperti Montessori sebagai referensi tambahan, pelan-pelan saya mulai bisa beradaptasi. Saya mencoba menerapkan beberapa variasi metode pembelajaran di kelas-kelas yang saya ampu. Meski hasilnya belum sesuai standar yang saya inginkan, setidaknya dari perjalanan tahun pertama ini saya kembali diingatkan akan satu hal; jangan tinggalkan identitas sebagai lifelong learner. Dan kunci dari hal tersebut adalah curiosity, willing to learn, dan resilience. Di samping itu, guru tidak bisa hanya fokus pada peningkatan kualitas pembelajaran, namun juga memperhatikan aspek lain seperti adab dan perilaku siswa, apakah sudah sesuai dengan kriteria kurikulum Aqil-Baligh yang dicanangkan sekolah.

Dari berbagai hal yang saya alami sepanjang tahun ajaran ini, saya menyimpulkan bahwa tugas guru memang bukan hanya membagikan ilmu dan mendampingi tumbuh-kembang siswa, namun juga terus belajar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan di lapangan. Berbekal pengalaman tersebut, saya ingin membawa semangat belajar ini ke tahun pelajaran berikutnya. Dengan tetap membuka diri pada hal-hal baru dan kebutuhan riil anak-anak di lapangan, saya berharap bisa pelan-pelan menghadirkan proses belajar bahasa yang lebih fun dan lebih bermakna—baik untuk akademik maupun pembentukan karakter mereka.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Wali Kelas 2, Fatma Auliya Salsabila.

Menata Ritme Keseimbangan: Refleksi Skala Prioritas, Amanah Mengajar Qur’an, dan Seni Mengelola Diri

Tahun ini menjadi sebuah fase pendewasaan yang penuh dinamika di lingkungan sekolah, sebuah momen refleksi yang bertepatan dengan langkah saya memasuki usia kepala tiga. Saya dipercaya mengemban amanah sebagai guru Al-Qur’an untuk tiga jenjang yang memiliki karakteristik sangat kontras, yaitu kelas 1, kelas 4, dan kelas 6. Perbedaan mendasar di antara ketiga level ini terletak pada karakter siswanya yang menuntut pendekatan mengajar yang sangat berbeda. Menghadapi kelas 1 berarti menyelami dunia anak yang masih transisi, membutuhkan kesabaran ekstra untuk meletakkan fondasi dasar makhraj lewat pendekatan bermain yang menyenangkan. Sementara kelas 4 mulai memasuki masa peralihan di mana kedisiplinan dan kemandirian mulai dibentuk. Di tingkat paling atas, kelas 6 menuntut bimbingan yang lebih mendalam, bukan hanya soal kelancaran tajwid, melainkan pembentukan karakter teladan dan kesiapan mental mereka sebagai lulusan. Di samping tugas utama yang membutuhkan kelenturan emosi tersebut, tanggung jawab di bidang desain grafis sekolah juga menuntut perhatian visual dan tenggat waktu yang ketat. Sekilas, tumpukan tanggung jawab ini tampak luar biasa padat, namun di sinilah titik balik itu dimulai; saya merasa terdorong untuk tidak sekadar bertahan di tengah kesibukan, melainkan mulai menata ulang manajemen tugas dan kehidupan personal secara sadar.

Kunci utama dari perubahan besar setahun ini adalah keberhasilan dalam memaksimalkan skala prioritas dan menjaga manajemen waktu. Saya menyadari bahwa tumpukan pekerjaan yang terlihat banyak akan melunak ketika dihadapi dengan perencanaan yang matang. Menariknya, ketika waktu kerja berhasil dikendalikan, sebuah ruang baru justru tercipta untuk diri saya sendiri. Saya kini bisa mulai aktif berolahraga demi menjaga stamina dan secara perlahan menyisihkan energi untuk belajar hal-hal baru di luar rutinitas harian. Menjaga kesehatan fisik ternyata berdampak langsung pada kejernihan pikiran, sehingga saya bisa menyelesaikan tugas utama maupun tambahan dengan kualitas yang jauh lebih baik.

Proses menata diri ini juga membawa sebuah kesadaran mendalam: semakin ke sini, menjadi semakin jelas batas antara apa yang benar-benar kita pahami dan apa yang sekadar kita tahu. Dahulu, banyak teori tentang karakteristik perkembangan anak atau manajemen stres yang mungkin hanya sekadar saya ketahui di permukaan. Namun, melalui ujian praktik menghadapi tiga karakter kelas yang berbeda tahun ini, saya menyadari bahwa pemahaman sejati hanya lahir ketika ilmu tersebut dipraktikkan langsung di ruang kelas dan di meja kerja. Mengerti sebuah teori tidak sama dengan mengakarinya sebagai sebuah keterampilan hidup. Kesadaran inilah yang membuat saya lebih bijak dalam memilah informasi dan fokus pada hal-hal yang benar-benar berdampak nyata bagi siswa dan perkembangan diri saya.

Tentu saja, perjalanan setahun ini tidak berjalan tanpa cela. Masih banyak hal yang terlewat dan target yang meleset di sana-sini. Namun, ada perbedaan besar dalam cara saya merespons ketidaksempurnaan tersebut. Dibandingkan tahun lalu, kini jauh lebih banyak aspek pekerjaan dan kehidupan pribadi yang berhasil tertata dengan rapi. Saya merasa mampu menyelesaikan lebih banyak tanggung jawab dengan hasil yang optimal, tanpa harus mengorbankan kedamaian mental. Pada akhirnya, refleksi satu tahun ini bukan tentang menuntut kesempurnaan mutlak, melainkan tentang merayakan sebuah progres—bahwa dengan prioritas yang tepat, kita bisa terus bertumbuh, menjaga kesehatan, dan menyelesaikan amanah dengan hati yang lebih tenang dan bebas dari stres berlebih.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Guru Quran, Irham Setyawan.

MEMBANGUN KECINTAAN TERHADAP AL-QUR’AN MELALUI PENDEKATAN PERSONAL DALAM PEMBELAJARAN TAHFIDZ

Tahun pelajaran ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya karena merupakan awal perjalanan saya sebagai guru Al-Qur’an. Memulai peran sebagai seorang pendidik memberikan banyak pembelajaran baru, mulai dari beradaptasi dengan lingkungan sekolah, mengenal karakter siswa, hingga belajar menemukan cara untuk mendampingi mereka dalam belajar dan menghafal Al-Qur’an. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika pertama kali berkenalan dengan para siswa. Mereka menyambut kehadiran saya dengan penuh antusias, rasa ingin tahu, dan semangat yang begitu besar. Momen sederhana tersebut menjadi awal yang baik untuk membangun kedekatan dan kepercayaan antara guru dan siswa. Dalam perjalanan pembelajaran, saya dihadapkan pada tantangan ketika mengajar siswa kelas 2 yang masih berada pada fase aktif bermain dan belum mampu mempertahankan fokus dalam waktu yang lama. Pada beberapa kesempatan, perhatian mereka mudah teralihkan sehingga proses pembelajaran membutuhkan kesabaran dan strategi yang tepat. Dari kondisi tersebut, saya menyadari bahwa anak-anak tidak cukup hanya diberikan arahan, tetapi juga membutuhkan pendekatan yang lebih personal.

Dengan mengajak mereka berkomunikasi, mendekati mereka satu per satu, serta memberikan perhatian yang lebih, perlahan mereka mulai merasa nyaman dan bersedia mengikuti arahan yang diberikan. Hubungan yang terbangun dengan baik membuat mereka lebih mudah diajak belajar, lebih fokus, dan lebih antusias selama pembelajaran berlangsung. Pengalaman berharga lainnya terjadi saat kegiatan talaqqi hafalan Qur’an. Saya melihat semangat yang luar biasa ketika siswa mendengarkan bacaan dengan saksama dan berusaha mengulang hafalan yang diberikan. Meskipun terdapat beberapa siswa yang mengalami kesulitan dan sesekali mengeluh saat menghafal, mereka tetap berusaha mengikuti proses pembelajaran hingga selesai. Dengan pendampingan, pengulangan, dan motivasi yang terus diberikan, pada akhirnya mereka mampu menghafalkan ayat demi ayat dengan baik. Pengalaman ini menunjukkan bahwa ketika anak-anak diberikan perhatian dan pendampingan yang tepat, mereka memiliki potensi yang sangat besar untuk berkembang.

Dari berbagai pengalaman tersebut, saya mendapatkan banyak pelajaran berharga sebagai seorang pendidik. Saya belajar bahwa setiap anak memiliki karakter, kemampuan, dan cara belajar yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan yang berbeda pula. Saya juga memahami bahwa keberhasilan pembelajaran Al-Qur’an tidak hanya ditentukan oleh metode mengajar, tetapi juga oleh kedekatan emosional yang dibangun antara guru dan siswa. Ketika anak-anak merasa didengar, dihargai, dan diperhatikan, mereka akan lebih mudah membangun rasa percaya, mengikuti arahan, serta menunjukkan semangat belajar yang lebih baik.

Pengalaman ini semakin menguatkan keyakinan saya bahwa menjadi guru Al-Qur’an bukan sekadar mengajarkan hafalan, melainkan juga mendampingi proses tumbuh kembang anak, menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an, serta membangun karakter mereka dengan penuh kesabaran, kasih sayang, dan keteladanan. Kedepannya, saya berharap dapat terus menghadirkan pembelajaran Al-Qur’an yang hangat, menyenangkan, dan bermakna, sehingga siswa dapat tumbuh menjadi generasi yang mencintai Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Guru Quran, Zahron Hur Azizah.

Kegagalan Bukanlah Akhir Dari Proses Belajar

Kegagalan Bukanlah Akhir Dari Proses Belajar

Selama mendidik sebagai Guru Al-Qur’an di SDIT Bina Insani pada tahun ajaran 2025/2026, pengalaman yang paling berkesan bagi saya adalah saat mengajar kelompok siswa dengan kemampuan dan karaktristik yang sangat beragam. Momen yang paling menyentuh hati adalah ketika melihat perjuangan siswa yang harus mengulang tes kenaikan jilid beberapa kali, namun mereka tidak patah semangat. Hingga akhirnya berkat ketekunan tersebut, mereka berhasil lulus dengan baik dan melanjutkan ke jilid berikutnya.

Dalam kegiatan pembelajaran, agar siswa bisa melalui tes kenaikan jilid dengan baik, saya mengajak siswa mengulang kembali materi jilid yang belum dikuasai, serta melakukan murajaah surat-surat pendek yang sudah dihafal sebelumnya. Tujuannya untuk memastikan siswa menguasai materi jilid dengan matang sehingga siswa bisa menyelesaikan target jilid mereka, memahami materi dengan baik, dan mampu mempertahankan hafalan suratnya melalui pembiasaan yang konsisten.

Keberhasilan siswa dalam melewati tes kenaikan jilid ini didukung oleh semangat dan antusiasme yang tinggi dari dalam diri siswa sendiri saat mengikuti pembelajaran Al-Qur’an. Pencapaian para siswa membuat mereka lebih percaya diri, semakin menumbuhkan kecintaan mereka terhadap Al-Qur’an, dan membuktikan bahwa kegagalan di awal bukanlah akhir dari proses belajar. Di sisi lain, proses ini tidak luput dari tantangan. Kendala yang dihadapi adalah kondisi siswa yang terkadang kurang fokus dan konsentrasi saat pembelajaran. Selain itu, walaupun pengulangan dan murajaah terus dilakukan, beberapa siswa terkadang masih belum tepat dalam pelafalan.

Saya menyadari bahwa siswa memiliki kemampuan dan karaktristik yang sangat beragam. Maka suasana belajar yang asyik, nyaman, dan menyenangkan bisa meningkatkan motivasi dan semangat belajar siswa. Yang perlu saya pertahankan adalah konsistensi dalam memberikan pendampingan yang sabar bagi siswa serta metode murajaah yang terjadwal. Hal yang perlu saya tingkatkan adalah ketelitian dan kefasihan dalam pelafalan bacaan siswa.

Harapan ke depan, saya sebagai guru akan meningkatkan srategi pembelajaran yang lebih variatif dan memberikan perhatian pada ketepatan bacaan dan kefasihan pelafalan, bukan hanya mengejar kuantitas pencapaian siswa. Serta memberikan pengalaman belajar yang menarik bagi siswa sehingga bisa meningkatkan fokus dan semangat belajar Al-Qur’an siswa di SDIT Bina Insani.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Guru Quran, Asiyah Sekar Pambekti.

Gotong Royong dalam Menumbuhkan Tanggung Jawab Siswa Kelas 3

Gotong Royong dalam Menumbuhkan Tanggung Jawab Siswa Kelas 3

Salah satu nilai yang perlu ditanamkan kepada peserta didik sejak dini adalah semangat gotong royong. Saya melaksanakan pembelajaran Pendidikan Pancasila dengan tema gotong royong yang memberikan pengalaman berharga bagi saya maupun peserta didik.

Kegiatan yang dilakukan adalah membersihkan kelas bersama-sama. Seluruh siswa terlibat aktif dalam berbagai tugas, seperti menyapu lantai, mengepel, membuang sampah, dan mengelap kaca. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk pembelajaran nyata mengenai pentingnya kerja sama dan tanggung jawab dalam menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Tujuan utama kegiatan ini adalah menanamkan rasa tanggung jawab kepada siswa terhadap lingkungan belajar mereka Pelaksanaan gotong royong memberikan hasil yang positif. Kelas menjadi bersih, rapi, dan nyaman untuk digunakan dalam proses pembelajaran. Siswa juga menunjukkan antusiasme yang tinggi selama kegiatan berlangsung.Meskipun kegiatan berjalan dengan baik, terdapat beberapa kendala yang perlu diperhatikan. Salah satu tantangan utama adalah menjaga konsistensi siswa dalam melakukan kebiasaan baik secara berulang. Sebagian siswa masih perlu diingatkan untuk melaksanakan tugas kebersihan secara rutin dan tidak hanya ketika ada arahan dari guru.

Dari pengalaman ini, saya memperoleh pelajaran bahwa gotong royong merupakan sarana yang efektif untuk mengajarkan tanggung jawab kepada siswa.. Sementara itu, hal yang perlu saya tingkatkan adalah kemampuan membimbing dan memotivasi siswa agar terbiasa melakukan kegiatan gotong royong secara mandiri tanpa harus selalu diingatkan.Saya berkomitmen untuk terus menumbuhkan kebiasaan gotong royong melalui kegiatan yang terjadwal dan berkelanjutan. Saya juga akan meningkatkan komunikasi dengan siswa mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekolah serta memberikan teladan yang baik dalam pelaksanaannya.Harapan saya, siswa dapat memiliki kesadaran yang lebih tinggi terhadap kebersihan dan tanggung jawab bersama, sehingga budaya gotong royong menjadi bagian dari karakter mereka dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Wali Kelas 3, Yanit Oktafaningrum.

Merayakan Bulan Bahasa dan Literasi: Catatan Refleksi Seorang Pustakawan

Merayakan Bulan Bahasa dan Literasi: Catatan Refleksi Seorang Pustakawan

Tahun ajaran 2025/2026 telah menjadi periode yang sangat bermakna bagi saya dalam menjalankan tugas sebagai pustakawan. Secara umum, program-program yang berjalan, seperti Aksi Literasi Serempak, pemberian penghargaan bagi pembaca terajin, lomba literasi saat classmeeting, serta sosialisasi perpustakaan untuk siswa baru, berhasil menciptakan ekosistem literasi yang lebih hidup di sekolah. Diantara program-program tersebut, pengalaman paling berkesan bagi saya yaitu Aksi Literasi Serempak: Merayakan Bulan Bahasa. Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kecintaan terhadap literasi sejak dini melalui pendekatan yang menyenangkan dan kolaboratif. Hasil yang diperoleh dari kegiatan ini sangat memuaskan, diantaranya: Pertama, terjadi peningkatan jumlah koleksi buku perpustakaan secara signifikan berkat sumbangan dari siswa kelas 1 dan 2. Kedua, siswa kelas 3 dan 4 tidak hanya membaca, tetapi juga mampu mengasah kemampuan berpikir kritis mereka melalui pembuatan mind map unsur-unsur intrinsik cerita. Selain itu, mereka juga bisa mendapat bacaan yang berbeda melalui tukar buku. Ketiga, kreativitas siswa kelas 5 dan 6 terpantik melalui pembuatan ilustrasi dari fiksi mini yang dibaca serta kegiatan Menyusun artikel acak, yang secara tidak langsung melatih pemahaman mereka terhadap struktur teks.

Keberhasilan ini tidak lepas dari beberapa faktor pendukung. Kerjasama yang solid dengan guru-guru kelas sangat krusial, mulai dari koordinasi jadwal hingga pendampingan siswa selama kegiatan ini berlangsung. Dukungan dari Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Semarang melalui layanan perpustakaan keliling juga menjadi nilai tambah yang membuat suasana kegiatan lebih meriah dan variatif. Selain itu, antusiasme siswa yang tinggi menjadi energi utama yang membuat seluruh rangkaian acara berjalan lancar. Dampak dari kegiatan ini cukup terlihat. Terjadi peningkatan minat baca yang terlihat dari meningkatnya jumlah kunjungan siswa ke perpustakaan pada bulan-bulan setelah kegiatan, khususnya para siswa kelas bawah. Kreativitas dan daya pikir kritis siswa juga dapat terlihat dari worksheet-worksheet yang mereka kerjakan. Keberhasilan yang telah diraih tentu harus dipertahankan, terutama adalah model pembelajaran literasi aktif dan kolaboratif seperti pada Aksi Litrasi Serempak. Pendekatan ini terbukti efektif membuat siswa tidak merasa bosan.

Meskipun secara teknis jadwal kegiatan telah tersusun rapi dan tidak saling tumpang tindih antarkelas, masih terdapat kendala teknis yang cukup signifikan, yaitu pada sesi membaca koleksi perpustakaan keliling untuk kelas 1 dan 2. Dengan jumlah siswa mencapai lebih dari 200 anak yang harus mengakses satu unit koleksi buku perpustakaan keliling secara bergiliran, terjadi kepadatan dan antrean yang kurang tertib (desak-desakan) di area baca. Kondisi ini menyulitkan petugas dalam mengawasi jalannya kegiatan dan membuat sebagian siswa kurang leluasa memilih buku karena terburu-buru menunggu giliran. Hal ini menunjukkan bahwa rasio antara jumlah koleksi buku yang tersedia dengan jumlah siswa pengguna masih sangat timpang, sehingga perlu adanya strategi distribusi akses baca yang lebih matang.

Saya berharap program-program yang telah dirintis tahun ini dapat terus berkembang, menjangkau lebih banyak siswa, dan mampu beradaptasi dengan kebutuhan literasi di era digital. Semoga tahun depan kita dapat kembali merayakan Bulan Bahasa dengan semangat yang lebih membara dan karya yang lebih luar biasa.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Pustakawan Al-Ma’rifah, Noorma Paramitha.

Menanamkan Metode Ilman Wa Ruhan Melalui Pendekatan Ruh dan Halaqah Melingkar

Menanamkan Metode Ilman Wa Ruhan Melalui Pendekatan Ruh dan Halaqah Melingkar

Tahun ini, momen paling berkesan bagi saya adalah melihat transformasi siswa kelas 1 yang awalnya sangat kaku dan pemalu dalam melafalkan huruf-huruf hijaiyah, perlahan-lahan tumbuh menjadi anak yang fasih, berani, serta penuh rasa percaya diri. Menghadapi anak usia transisi dari TK ke SD memang membutuhkan pasokan kesabaran ekstra serta pendekatan yang jauh lebih personal. Melalui konsistensi tahapan mengajar metode Ilman Wa Ruhan mulai dari pembukaan untuk mengondisikan jiwa anak, penjelasan bersama di depan kelas, hingga simakan individu, saya berusaha keras membangun kedekatan emosional agar mereka merasa aman, nyaman, dan tidak menganggap jam Al-Qur’an sebagai sebuah beban yang menakutkan. Hasilnya sangat disyukuri, anak-anak yang tadinya suka mogok mengaji kini justru sangat antusias dan bangga setiap kali maju menyetorkan hafalan jilid mereka dengan ritme panjang-pendek yang teratur.

​Namun, proses ini bukan tanpa tantangan. Kendala utama yang kerap dihadapi adalah terbatasnya durasi jam pelajaran serta pendeknya rentang fokus anak kelas 1, yang sering kali memicu kejenuhan dan kebisingan saat mereka harus menunggu antrean simakan. Untuk mengatasi hal tersebut, saya mengevaluasi faktor yang perlu diperbaiki dengan memanfaatkan buku jilid milik siswa sebagai bahan bacaan mandiri dan murojaah. Selain itu, saya juga melatih siswa untuk belajar menyimak bacaan temannya yang sedang maju secara khusyuk dari tempatnya masing-masing demi menumbuhkan rasa empati. Pengalaman berharga ini menyadarkan saya bahwa kunci utama keberhasilan mengajar Al-Qur’an di kelas 1 bukanlah sekadar menuntaskan target halaman, melainkan hadirnya telinga guru yang tulus menyimak dan hati yang sabar merangkul setiap proses mereka sesuai dengan prinsip ruh.

​Ke depan, saya berkomitmen penuh untuk merapikan manajemen halaqah melingkar agar suasana antrean tetap kondusif, memperkuat variasi strategi mengajar yang menyenangkan, serta memberikan catatan perkembangan jilid dan hafalan yang detail kepada orang tua agar proses simakan dengan metode yang sama bisa disinkronkan di rumah. Harapan besar saya, kelas Al-Qur’an ini akan selalu menjadi tempat meneduhkan yang selalu dirindukan oleh anak-anak, sekaligus mampu menanamkan fondasi jiwa yang tulus mencintai Al-Qur’an hingga mereka tumbuh dewasa nanti.

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Guru Quran, Asfi.