Menjadi Penjaga Tumbuh Kembang Anak Perempuan di Masa Peralihan

Menjadi Penjaga Tumbuh Kembang Anak Perempuan di Masa Peralihan

Tahun pelajaran ini kembali menjadi perjalanan yang sangat berkesan bagi saya. Untuk dua tahun berturut-turut, saya dipercaya menjadi guru kelas VI khusus putri. Amanah ini menghadirkan tantangan yang berbeda dibandingkan mengajar di kelas-kelas sebelumnya. Di usia 11–12 tahun, anak-anak tidak lagi sepenuhnya berada pada fase kanak-kanak, tetapi sedang berada di gerbang menuju masa remaja. Pada fase ini, peran guru tidak hanya sebatas mendampingi dan membimbing mereka secara akademis, tetapi juga menjadi pendengar, penuntun, sekaligus penjaga agar mereka mampu melewati masa transisi ini dengan baik.

Banyak perubahan yang terjadi pada diri mereka, baik secara biologis, emosional, maupun sosial. Perubahan hormon reproduksi mulai memunculkan rasa ketertarikan terhadap lawan jenis. Di sisi lain, pengaruh lingkungan pertemanan, perkembangan teknologi, paparan media sosial, serta pola pengasuhan di rumah turut membentuk cara mereka berpikir dan berperilaku. Semua hal tersebut menjadikan tugas mendidik siswa kelas VI putri sebagai amanah yang membutuhkan kesabaran, kepekaan, dan kerja sama dari berbagai pihak.

Selama mendampingi mereka, ada beberapa permasalahan yang cukup banyak muncul. Salah satunya adalah ketertarikan terhadap lawan jenis yang perlu diluruskan dan diarahkan. Beberapa siswa mulai menunjukkan pola interaksi yang kurang sesuai dengan usianya, seperti menjalin hubungan dengan lawan jenis yang menyerupai pacaran, berkomunikasi dengan lawan jenis hingga larut malam, bermain gim daring bersama dalam kelompok, hingga membuat saluran komunikasi pribadi demi mendapatkan pengakuan dari teman sebaya. Hampir seluruh permasalahan tersebut memiliki keterkaitan yang erat dengan penggunaan gadget tanpa pendampingan yang memadai dari orang tua di rumah. Padahal, di sekolah siswa tidak diperkenankan membawa gadget. Namun, ketika akses terhadap dunia digital tidak diimbangi dengan pengawasan, anak-anak yang masih berada pada tahap perkembangan akan sangat mudah terpengaruh oleh tontonan, tren, maupun gaya hidup yang belum layak mereka tiru. Hal ini tentu dapat menggeser fokus belajar, menurunkan kualitas interaksi sosial, mengganggu waktu istirahat, serta memengaruhi pembentukan karakter mereka.

Selain itu, saya juga menemukan beberapa siswa yang mengalami ketidakpercayaan diri. Perasaan minder dan rasa tidak aman terhadap diri sendiri membuat mereka beranggapan bahwa teman-temannya tidak menyukai keberadaan mereka. Akibatnya, mereka cenderung menarik diri, enggan bergaul, dan menyimpan prasangka yang sebenarnya belum tentu terjadi. Permasalahan lain yang juga cukup sering muncul adalah konflik antarteman sebaya atau circle pertemanan. Perselisihan kecil dapat berkembang menjadi saling sindir, saling menjauh, bahkan bermusuhan jika tidak segera diselesaikan.

Menghadapi berbagai situasi tersebut, saya menyadari bahwa mendidik anak tidak mungkin dilakukan seorang diri. Oleh karena itu, saya menjalin kerja sama dengan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Bu Damar, orang tua siswa yang bersangkutan, serta seorang praktisi neurosains, yang bernama Bunda Citra. Bunda Citra mendampingi siswa dan orang tua dalam sesi yang berbeda untuk menelusuri akar permasalahan yang terjadi, sekaligus memberikan masukan mengenai langkah-langkah yang dapat dilakukan di rumah. Alhamdulillah, orang tua siswa sangat kooperatif dan terbuka dalam menerima berbagai saran yang diberikan. Tidak ada sikap penolakan ataupun menyangkal kondisi yang terjadi, melainkan semangat untuk bersama-sama mencari solusi terbaik bagi tumbuh kembang anak-anak mereka.

Di lingkungan kelas, saya juga melakukan penguatan secara klasikal kepada seluruh siswa, baik yang sedang mengalami permasalahan maupun yang tidak. Berbagai nasihat, motivasi, dan penguatan nilai-nilai keislaman terus saya sampaikan agar menjadi bekal dalam kehidupan mereka. Selain itu, pendekatan personal melalui percakapan dari hati ke hati juga menjadi cara yang saya lakukan untuk memahami isi pikiran dan perasaan mereka. Ketika terjadi konflik antarsiswa, saya mengajak mereka duduk bersama, saling mendengarkan, menemukan akar permasalahan, lalu membangun keberanian untuk meminta maaf dan saling memaafkan. Saya ingin mereka memahami bahwa perbedaan pendapat dan kesalahpahaman adalah bagian dari kehidupan yang dapat diselesaikan dengan komunikasi yang baik.

Dari seluruh proses ini, saya memperoleh banyak pelajaran berharga. Saya semakin menyadari bahwa menjadi guru bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran, melainkan hadir sebagai sosok yang membersamai perjalanan tumbuh kembang anak secara utuh. Saya belajar bahwa setiap perilaku anak selalu memiliki alasan yang perlu dipahami, bukan sekadar dihakimi. Saya juga belajar bahwa membangun karakter jauh lebih penting daripada sekadar mengejar prestasi akademik. Selain itu, komunikasi yang terbuka antara sekolah dan orang tua menjadi kunci utama dalam mendampingi anak-anak di era digital yang penuh tantangan ini. Saya pun semakin memahami bahwa anak-anak di usia peralihan sangat membutuhkan sosok dewasa yang mampu mendengar, memahami, dan mengarahkan mereka dengan kasih sayang.

Ke depan, saya berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pendampingan kepada siswa, baik ketika mengajar di kelas homogen maupun heterogen. Saya ingin lebih proaktif dalam membangun komunikasi dengan orang tua sejak awal tahun ajaran, memperkuat pendidikan karakter, serta menghadirkan ruang-ruang diskusi yang aman bagi siswa untuk menyampaikan perasaan dan permasalahan yang mereka hadapi. Saya juga akan terus memperkaya diri dengan ilmu tentang perkembangan psikologis anak dan remaja agar dapat memberikan pendampingan yang lebih tepat. Selain itu, saya ingin membiasakan program penguatan literasi digital dan etika bermedia sosial sebagai upaya preventif dalam menghadapi tantangan perkembangan teknologi.

Pada akhirnya, saya memiliki harapan besar di masa depan. Untuk diri saya sendiri, saya berharap dapat terus menjadi guru yang bertumbuh, belajar, dan hadir dengan hati dalam mendampingi setiap anak. Untuk para siswa, saya berharap mereka tumbuh menjadi generasi yang beradab, berakhlak mulia, memiliki jati diri yang kuat, serta mampu menjaga diri dari berbagai pengaruh negatif di sekitarnya. Untuk sekolah, saya berharap sekolah dapat terus menjadi pusat akademisi yang sehat, nyaman, dan menjadi rumah kedua yang menumbuhkan karakter unggul bagi setiap peserta didik. Untuk orang tua, saya berharap terjalin sinergi yang semakin erat dalam mendampingi anak-anak di rumah, khususnya dalam penggunaan teknologi dan pembentukan kebiasaan positif. Karena pendampingan dari rumah sangatlah penting untuk tumbuh kembang anak. Dan untuk masyarakat, saya berharap tercipta lingkungan yang mendukung lahirnya generasi yang cerdas, berprestasi, dan memiliki fondasi keimanan yang kokoh. Sebab, sesungguhnya membesarkan anak bukanlah tugas satu pihak saja, melainkan tanggung jawab bersama. Ketika sekolah, keluarga, dan masyarakat berjalan beriringan, insyaallah akan lahir generasi yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga memiliki adab, akhlak, dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan zaman.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Wali Kelas 6, Indri Tjunduk Nur Fatonah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *