Semarak MPLS SDIT Bina Insani, Sambut Langkah Pertama Murid Baru Menuju Dunia Sekolah Dasar

Semarak MPLS SDIT Bina Insani, Sambut Langkah Pertama Murid Baru Menuju Dunia Sekolah Dasar

Semarang – SDIT Bina Insani menyambut peserta didik baru kelas I dengan penuh semangat melalui kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 yang digelar pada Senin (13/7) di Gedung B Bina Insani. Kegiatan ini menjadi momen awal bagi para murid untuk mengenal lingkungan sekolah, guru, teman-teman, serta budaya belajar yang akan mereka jalani selama menempuh pendidikan di SDIT Bina Insani.

Rangkaian kegiatan diawali dengan apel pembukaan MPLS yang berlangsung dengan tertib dan penuh antusiasme. Pembukaan secara simbolis dilakukan melalui penyematan topi dan cocard kepada perwakilan peserta didik baru, Mahesa Jenar dan Mariyam Greetje Nadira, oleh Kepala SDIT Bina Insani, Hengki Firman Syah. Prosesi tersebut menjadi simbol diterimanya murid baru sebagai bagian dari keluarga besar SDIT Bina Insani.

Ketua Panitia MPLS Tahun Ajaran 2026/2027, Nur Syamsiah Tri Handayani, mengungkapkan rasa syukur atas kelancaran pelaksanaan kegiatan pada hari pertama.

“Alhamdulillah, kegiatan MPLS dapat berjalan dengan lancar. Semoga seluruh peserta didik baru merasa senang, semakin mengenal lingkungan sekolah, serta dapat beradaptasi dengan baik bersama guru dan teman-teman,” ujarnya.

Suasana semakin semarak dengan prosesi pelepasan burung merpati yang dilakukan oleh pimpinan sekolah bersama Ketua Panitia MPLS. Pelepasan burung merpati menjadi simbol harapan agar seluruh peserta didik dapat tumbuh menjadi generasi yang berakhlak mulia, memiliki semangat belajar yang tinggi, serta mampu menggapai cita-cita mereka.

Kegiatan pembukaan ditutup dengan penampilan Sabia dan El yang membawakan lagu Rahmatan Lil ‘Alamin dan Hari Pertama Masuk Sekolah. Penampilan tersebut mengundang antusiasme para murid baru yang ikut bernyanyi dan bertepuk tangan, menciptakan suasana hangat dan penuh keceriaan di hari pertama mereka berada di lingkungan sekolah.

Melalui kegiatan MPLS ini, SDIT Bina Insani berharap peserta didik baru dapat mengenal lingkungan sekolah dengan lebih baik, membangun rasa percaya diri, serta menjalin hubungan yang positif dengan guru dan teman-temannya. Dengan pengenalan yang menyenangkan sejak hari pertama, diharapkan seluruh murid siap mengikuti proses pembelajaran dan berkembang menjadi generasi yang berkarakter, berprestasi, serta berakhlak mulia.

Seni Beradaptasi, Berkolaborasi, dan Menginspirasi

Seni Beradaptasi, Berkolaborasi, dan Menginspirasi

Menjadi seorang pendidik adalah perjalanan yang penuh dengan kejutan dan proses belajar yang tiada henti. Tahun lalu menjadi tonggak sejarah baru dalam karir saya sebagai guru di SD IT Bina Insani. Setelah sekian lama terbiasa menjadi guru wali kelas yang mengampu pelajaran Mmuatan inti standar Dinas, saya mendapatkan amanah baru. Saya dipercaya menjadi guru mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) serta Bahasa Jawa untuk kelas IV sampai kelas VI.

 

Transisi ini menuntut saya adaptasi yang cepat. Menerima secara psikis keputusan kepala sekolah dengan belajar hal baru meskipun mengajar dua mata pelajaran yang sangat kontras—TIK yang modern dengan berbagai aplikasis berbasis internet dan Bahasa Jawa yang sarat akan nilai tradisi seperti tembang Ganbuh dan aksara Jawa—menjadi tantangan tersendiri. Namun, di sinilah keindahan peran baru ini dimulai.

 

Hal yang paling berkesan bagi saya selama satu tahun ke belakang adalah eratnya kerja sama dengan para guru wali kelas, khususnya di kelas IV. Sebagai guru mata pelajaran, ruang gerak saya tidak terbatas di dalam kelas sendiri. Saya kerap ikut andil dalam menyukseskan berbagai program besar sekolah. Mulai dari kepanitiaan ajang bakat BI Star, hingga mendampingi siswa dalam kegiatan Pendidikan Luar Sekolah (outing class). Oh iya saya juga membina kegiatan Ekstra Multimedia siswa kelas 3, 4 dan 5. ikit juga membina calon peserta lomba MAPSI bidang TIKI.

 

Di luar agenda resmi, kolaborasi kami terwujud dalam aksi saling bantu sehari-hari. Berbekal latar belakang sebagai guru TIK, saya sering membantu rekan wali kelas yang mengalami kendala teknis di ruang kelas. Mulai dari memperbaiki tampilan layar proyektor LCD yang mendadak tidak menyala dengan baik, hingga mengatasi masalah koneksi kabel yang longgar. Tidak jarang pula saya hadir sebagai pelapis, menggantikan wali kelas yang harus absen karena sakit atau sedang menunaikan agenda penting di luar sekolah. Bagi saya, kebersamaan ini bukan sekadar meringankan beban kerja, melainkan lem perekat kekeluargaan antar-guru di SD IT Bina Insani.

 

Dukungan luar biasa dari rekan sejawat ini terasa semakin sempurna berkat karakter para siswa, terutama kelas IV pada tahun pelajaran kemarin. Mereka adalah anak-anak yang luar biasa. Sepanjang tahun, mereka menunjukkan sikap yang santun, tertib, dan sangat patuh terhadap aturan yang sudah kami sepakati bersama di awal semester. Kedisiplinan mereka membuat suasana belajar TIK dan Bahasa Jawa menjadi sangat kondusif dan menyenangkan.

 

Satu tahun telah berlalu dengan cepat, meninggalkan banyak kenangan manis dan pelajaran berharga. Pengalaman beralih peran menjadi guru mata pelajaran ini memperluas cara pandang saya tentang esensi mengajar. Semua momen indah, tantangan teknis yang berhasil teratasi, serta kehangatan kolaborasi di tahun lalu menjadi fondasi kuat bagi saya. Kini, menyambut semester baru yang akan datang, saya merasa lebih siap. 

 

Saya berkomitmen untuk mengembangkan metode mengajar yang lebih kreatif dan terus memberikan kontribusi terbaik demi kemajuan siswa-siswi SD IT Bina Insani.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Guru TIK dan Bahasa Jawa, Teguh Prasetyo.

Jujur Mujur

Jujur Mujur

“Ditemukan uang di parkiran Gedung C, yang merasa memiliki menghubungi pak Teguh”. Bunyi whats app dari Ustdzh Frida menjelang kepulangan sore itu. Alhamdulillah masih di berikan lingkungan kerja yang memiliki tingkat kejujuran yang baik. Kejujuran seringkali di devinisikan kesesuaian apa yang di ucapkan dan apa yang di rasakan. Sifat jujur merupakan sifat yang harusnya di miliki oleh setiap muslim untuk pondasi diri nya sendiri. Kejujuran mencakup jujur pada dirinya sendiri, jujur dalam perbuatan atau perilaku. Setiap orang bahkan guru berupaya selalu menjaga sifat jujurnya, karena akan di contoh oleh para murid muridnya.

Dalam kehidupan sehari hari kejujuran bisa di terapkan dalam berbagai hal, misalnya mengembalikan barang tepat waktu, berani mengakui kesalahan, tidak menuduh orang lain, hingga menyampaikan informasi seuai fakta tidak di tambah tambahi maupun di kurangi. Tapi pada kenyataanya kita masih sering menjumpai hal hal yang masih jauh dari kejujuran. Misal meminjam tanpa ijin, mengambil hak teman kita, keluar tempat kerja tanpa keterangan apapun atau bahkan memberikan keterangan yang masih di ragukan kebenaranya. Bahkan hal tersebut dilakukan berulang kali dan menjadikan sebuah pembenaran karena tidak ada teguran atau tindakan.

Dalam sair romawi kuno menyebutkan “banyak orang berkata yang jujur pasti hancur, karena jaman sudah edan jujur tidak makan” tantangan menjaga kejujuran merupakan bisa datang dari lingkungan atau dari ego pribadi. Di tengah kompetisi yang ketat atau tuntutan yang tinggi, maka nilai kejujuran di pertaruhkan seorang individu untuk tidak ikut terjerumus dalam praktek praktek memanipulasi hasil kerja. Pentingnya menjaga kejujuran tidak hanya berdampak pada citra positif pada diri sendiri karena juga bisa mempererat hubungan sosial. Biasanya orang yang biasa jujur tidak takut atau tidak ada beban untuk bertemu dengan orang lain, tapi bagi orang yang biasa berbohong atau tidak jujur akan selalu malu, minder bahkan takut kalau bertemu denagn orang lain.

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (bersaksi atau jujur tentang kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (Q.S. Al-Maidah: 8). Semoga Allah SWT selalu menjaga kita dari marabahaya, fitnah serta sifat iri, dengki, hasat dan menjaga para pemimpin kita dengan kejujuran menuju BINA INSANI yang adil, cerdas dan sejahtera.

 

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Guru PJOK, Dwi Purwanto.

Melayani dengan Amanah

Melayani dengan Amanah

Pengalaman yang paling berkesan selama tahun pelajaran ini adalah menjalankan tugas sebagai staff tata usaha dalam mengelola administrasi pembayaran SPP berbasis sistem. Pekerjaan ini menjadi bentuk amanah yang menuntut ketelitian, tanggung jawab, dan konsistensi dalam memberikan pelayanan kepada orang tua siswa.

 

Selama tahun pelajaran ini, saya bertugas mengelola pembayaran SPP baik secara tunai maupun transfer. Setiap transaksi diverifikasi terlebih dahulu sebelum dicatat ke dalam sistem agar data yang tersimpan akurat. Setelah pembayaran dicatat, sistem secara otomatis mengirimkan notifikasi kepada orang tua sebagai bukti pembayaran.

 

Sistem juga mengirimkan notifikasi tagihan setiap bulan. Namun, sempat terjadi kendala pada pengiriman notifikasi karena adanya pembatasan dari aplikasi WhatsApp, sehingga pengiriman dilakukan secara manual dan bertahap serta tidak selalu dapat dilakukan pada tanggal 1 setiap bulan. Selain itu, setiap tiga bulan dilakukan pengiriman surat tagihan kepada orang tua yang masih memiliki tunggakan.

 

Menjelang pembagian rapor, dilakukan pengecekan administrasi seluruh siswa. Bagi orang tua yang masih memiliki tunggakan, sekolah menyampaikan surat undangan untuk bertemu dengan Kepala Sekolah sebagai tindak lanjut penyelesaian administrasi sebelum pengambilan rapor.

 

Pelaksanaan administrasi berbasis sistem membantu menciptakan pencatatan yang lebih tertib dan transparan. Orang tua menerima notifikasi setiap kali pembayaran telah diverifikasi dan dicatat, sehingga status pembayaran dapat diketahui dengan jelas. Meskipun terdapat kendala teknis dalam pengiriman notifikasi, proses administrasi tetap dapat berjalan melalui penyesuaian secara manual dan bertahap.

 

Saya menyadari bahwa tugas sebagai staff tata usaha bukan hanya pekerjaan administrasi, tetapi juga amanah yang harus dijaga dengan ketelitian dan kejujuran. Komunikasi yang baik serta kemampuan beradaptasi terhadap kendala teknis menjadi hal penting dalam mendukung kelancaran pelayanan.

 

Saya berharap ke depan sistem pembayaran SPP dapat semakin mudah, praktis, dan terintegrasi sehingga orang tua dapat dengan mudah mengecek tagihan, melakukan pembayaran, serta memantau riwayat transaksi secara mandiri. Dengan sistem yang lebih baik, pelayanan administrasi diharapkan menjadi lebih efisien, transparan, dan semakin meningkatkan kepercayaan antara sekolah dan orang tua.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Petugas Tata Usaha, Nunik Susiyanti.

Empati Adalah Kunci Pendidikan

Empati Adalah Kunci Pendidikan

Selama menjadi guru beberapa tahun terakhir, banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil dari berbagai peristiwa yang berhubungan dengan dunia pendidikan, salah satunya adalah pentingnya menanamkan empati kepada setiap siswa 

Empati bukan hanya slogan semata yang bisa digaungkan oleh setiap insan, akan tetapi empati adalah sesuatu yang mengakar dalam ucapan dan perilaku tanpa harus memandang dia guru ataupun murid. Ketika pendidikan diajarkan tanpa adanya empati, maka akan melahirkan para insan sombong yang tidak tahu diri sebagai penerus bangsa kita. 

Contoh kongkrit yang pernah saya temui dalam dunia pendidikan bagaimana masih banyaknya para siswa yang acuh pada teman, lingkungan, maupun dirinya sendiri. Mereka acuh terhadap sampah yang berserakan, mereka acuh dengan temannya yang kesusahan, merekapun acuh dengan dirinya sendiri yang menjadi ranah kewajibannya. Mereka berdalih bukan urusan saya, bukan milik saya, bukan kewajiban saya dan sebagainya.

Dari berbagai permasalahan yang ada diatas, muaranya adalah tidak adanya empati yang tertanam didalam diri seorang siswa, maka dari itu ada tugas besar yang harus diemban seorang guru untuk mengajarkan empati kepada siswanya dan bisa dimulai oleh gurunya sendiri untuk mencontohkan bagaimana menjadi manusia berempati. Guru juga berhak mengajak orang tua siswa untuk bekerja sama dalam menanamkan nilai nilai empati kepada anaknya sejak mulai dari rumah, yakni memberikan contoh langsung kepada anak bagaimana menjadi manusia berempati. 

Saya berharap banyak guru dan orang tua yang sadar kedepan, betapa pentingnya empati dalam dunia Pendidikan, karena empati adalah hal terbaik yang bisa dimiliki oleh seorang manusia.   

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Guru Quran, Ibrahim Abdullah.

Satu Hal yang Paling Berkesan Tahun Ini
Pengalaman yang paling berkesan adalah melihat perkembangan kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an siswa yang semakin baik melalui pembelajaran yang rutin, pendampingan intensif, serta kerja sama yang baik dengan orang tua.

Apa yang Terjadi?
Kegiatan yang dilakukan: Pembelajaran Al-Qur’an (tilawah, tahsin, dan hafalan) secara rutin disertai evaluasi berkala.

Tujuan kegiatan: Meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an sesuai kaidah tajwid serta menumbuhkan kecintaan siswa terhadap Al-Qur’an.

Hasil yang diperoleh: Sebagian besar siswa menunjukkan peningkatan dalam kelancaran membaca, hafalan, dan kedisiplinan mengikuti pembelajaran.

*Refleksi Keberhasilan*

Faktor yang mendukung keberhasilan:
1. Konsistensi pembelajaran.
2. Dukungan dari orang tua dan sekolah.
3. Semangat belajar siswa.
Dampak positif bagi siswa:
1. Kemampuan membaca Al-Qur’an meningkat.
2. Hafalan bertambah.
4. Tumbuh sikap disiplin, percaya diri, dan cinta Al-Qur’an.

Jika Belum Berhasil
Kendala yang dihadapi:
1. Kemampuan siswa yang beragam.
2. Waktu pembelajaran yang terbatas.
3. Sebagian siswa masih memerlukan pendampingan lebih intensif.

*Faktor yang perlu diperbaiki:*
1. Diferensiasi pembelajaran sesuai kemampuan siswa.
2. Menambah variasi metode dan media pembelajaran.

*Pelajaran Berharga yang Saya Dapatkan*

1. Saya menyadari bahwa kesabaran dan konsistensi merupakan kunci keberhasilan dalam mengajar Al-Qur’an.
2. Hal yang perlu saya pertahankan adalah kedisiplinan, semangat, dan pendekatan yang humanis kepada siswa.
3. Hal yang perlu saya tingkatkan adalah inovasi metode pembelajaran dan pemanfaatan teknologi.

*Komitmen Perbaikan ke Depan*

1. Memperkuat komunikasi dengan orang tua.
2. Mengembangkan kompetensi melalui pelatihan dan belajar mandiri.

*Harapan untuk Tahun Pelajaran Berikutnya*

Semoga proses pembelajaran Al-Qur’an semakin berkualitas, seluruh siswa mengalami peningkatan kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an, serta tumbuh menjadi generasi yang berakhlak mulia dan mencintai Al-Qur’an.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Guru Quran, Suroto.

Menjaga Akurasi Data, Membangun Kepercayaan

Menjaga Akurasi Data, Membangun Kepercayaan

Pengelolaan data di sebuah lembaga pendidikan bukan sekadar deretan angka dan nama tanpa makna. Di balik layar, pengelolaan data merupakan fondasi utama yang menentukan hidup atau matinya kelancaran seluruh ekosistem sekolah. Hal inilah yang menjadi urat nadi dari perjalanan profesional saya dalam mengemban amanah sebagai Admin Data di SDIT Bina Insani sepanjang tahun pelajaran 2025/2026. Tahun ini, dinamika di ruang kerja administrasi menuntut konsistensi dan tanggung jawab yang sangat tinggi. Peran krusial yang sejak awal melekat pada posisi saya adalah menjadi proktor untuk berbagai agenda besar kedinasan, mulai dari Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK), Tes Kemampuan Akademik (TKA), hingga ajang bergengsi Olimpiade Sains Nasional (OSN).

Mengawal jalannya asesmen digital ini menjadi ujian ketahanan mental yang sesungguhnya. Detik-detik menegangkan sering kali terjadi saat proses sinkronisasi sistem harus berkejaran dengan batas waktu (deadline) nasional. Di saat yang sama, stabilitas jaringan dan kesiapan gawai harus dipastikan tetap prima. Semua itu berjalan beriringan dengan tugas rutin pengelolaan administrasi vital sekolah lainnya, seperti pemutakhiran data Dapodik, manajemen mutasi keluar-masuk siswa, hingga penerbitan e-Ijazah serta e-Rapor yang menuntut akurasi tingkat tinggi.

Mengubah Tantangan Komunikasi Menjadi Kepercayaan

Meski seluruh rekapitulasi data berhasil diselesaikan tepat waktu dan ujian berbasis digital berjalan sukses, sebuah perjalanan profesional tidak pernah luput dari kerikil tajam. Tantangan nyata sempat hadir ketika terjadi keterbatasan penyampaian informasi teknis pelaksanaan ujian kepada orang tua murid, yang memicu riak komunikasi dan memerlukan klarifikasi intensif. 

Momen kritis ini justru menjadi titik balik penting yang menguji kedewasaan profesional dan kecepatan manajemen krisis di lapangan. Melalui ruang keterbukaan, penyampaian yang santun, serta langkah sigap dalam meluruskan informasi, kendala komunikasi tersebut berhasil diredam dengan baik. Menariknya, penyelesaian masalah ini justru membuahkan dampak yang jauh lebih positif. Alih-alih merenggang, hubungan emosional antara pihak sekolah dan orang tua murid justru semakin erat. Di sini, orang tua dapat melihat langsung komitmen nyata sekolah dalam menjaga transparansi dan bertanggung jawab penuh atas kenyamanan anak-anak mereka.

Komitmen dan Langkah Strategis ke Depan

Tantangan yang berhasil dilewati ini memberikan pelajaran berharga mengenai pentingnya penyelarasan informasi satu pintu sebelum dilempar ke ranah publik. Akurasi data administrasi dan ketepatan strategi komunikasi adalah dua pilar kembar yang menjaga kredibilitas dan nama baik SDIT Bina Insani.

Menatap masa depan, ada tiga fokus utama yang akan diakselerasi. 

  1. Memperkuat sistem komunikasi berlapis satu pintu dengan orang tua murid agar setiap draf informasi publik tersusun lebih terstruktur, jelas, dan mudah dipahami. 
  2. Terus meningkatkan kompetensi mandiri dalam mengelola administrasi perlombaan maupun operasional sekolah sehari-hari. 
  3. Memaksimalkan pemanfaatan teknologi administrasi mutakhir demi efisiensi kerja yang lebih optimal.

Melalui komitmen dan pembenahan berkelanjutan ini, target besar berikutnya adalah mewujudkan sistem integrasi data yang bersih dari kendala teknis maupun verbal. Dengan demikian, pelayanan prima yang membanggakan dapat terus dipersembahkan bagi seluruh warga sekolah dan masyarakat luas.

 

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Petugas Tata Usaha, Isna Musarofah.

Membangun Disiplin Halaqoh Melalui Keteladanan dan Kesepakatan Kreatif

Alhamdulillah, selama satu tahun ini saya diamanahkan untuk mengajar Al-Qur’an di
kelas 6. Pembelajaran dilakukan pada siang hari, tepatnya pukul 12.45–13.45 WIB, sesudah
jam istirahat, shalat, dan makan (ISHOMA). Biasanya, begitu bel masuk berbunyi pada pukul
12.45, para murid diharapkan segera memasuki kelas masing-masing.
Namun, kendala utama yang sering muncul adalah banyaknya murid yang terlambat
masuk kelas karena keasyikan bermain bola di lapangan. Akibatnya, waktu pembelajaran
yang hanya berdurasi 60 menit harus terpotong sekitar 10 menit untuk pengkondisian murid.
Efektivitas belajar pun berkurang menjadi hanya 50 menit.
Sebagai guru, saya mencari solusi agar waktu awal tidak terbuang sia-sia. Setelah
mengamati situasi selama seminggu, saya mengajak murid kelas 6 berdiskusi untuk
membuat kesepakatan kelas yang adil dan kontekstual terkait keterlambatan ini. Kami pun
menyepakati aturan unik:
• Konsekuensi Murid: Jika murid terlambat masuk dari pukul 12.45, mereka harus
melakukan push-up atau plank sebanyak 20 kali/detik.
• Konsekuensi Guru: Sebaliknya, jika saya yang terlambat, saya wajib mentraktir
seluruh murid halaqoh dengan jajanan minimal Rp1.000 per anak.
Kesepakatan yang mulai berlaku keesokan harinya ini membawa perubahan positif yang
signifikan. Murid-murid mulai menyadari pentingnya disiplin waktu. Sebagai guru, saya pun
konsisten memberikan keteladanan dengan hadir sebelum pukul 12.45.
Perubahan perilaku anak-anak pun sangat menarik. Saat melihat saya berjalan agak
cepat menuju kelas, mereka yang sedang bermain di lapangan atau balkon langsung panik
dan saling berteriak, “Eh, Pak Mujahid datang! Pak Mujahid woy!” lalu berlari menuju kelas.
Bahkan, ada yang sengaja masuk kelas lebih awal demi mengamankan presensi, lalu
meminta izin dengan berbagai alasan agar tidak dianggap terlambat.
Uniknya, hal yang paling dinantikan murid justru adalah keterlambatan gurunya. Demi
mendapatkan traktiran jajanan, mereka kadang sengaja mencepatkan jam dinding kelas
sekitar dua hingga tiga menit. Saya sendiri beberapa kali sempat terkena “hukuman”
mentraktir mereka.
Bagi saya, nominal traktiran bukanlah masalah. Poin krusialnya adalah memberikan
keteladanan nyata, menanamkan rasa malu jika tidak tepat waktu, dan mengajarkan sikap
menghargai waktu. Anak-anak akan lebih mudah terdidik jika melihat gurunya disiplin
secara konsisten.
Meskipun kesepakatan ini dinilai berhasil, masih banyak pekerjaan rumah (PR) di
lingkungan sekolah yang harus dibenahi, salah satunya adalah masalah perundungan
(bullying) yang kerap terjadi di berbagai lembaga pendidikan. Kasus seperti ini tentu
memerlukan rancangan kesepakatan yang lebih canggih, solid, dan kontekstual agar
mampu menyadarkan anak-anak untuk saling menyayangi. Bagi saya, penyelesaian
masalah besar di sekolah harus selalu dimulai dari langkah-langkah sederhana yang
konsisten. Jika hal kecil bisa diselesaikan dengan baik, insyaallah masalah yang lebih
kompleks pun dapat diatasi

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Guru Quran, Mujahid Al Fahdlullah.

Di Balik Pintu UKS, Saya Belajar Menjadi Guru

Di Balik Pintu UKS, Saya Belajar Menjadi Guru

Sebagian orang menganggap UKS hanyalah tempat siswa beristirahat ketika sakit. Namun, bagi saya, UKS adalah ruang belajar yang penuh makna. Di sanalah saya belajar bahwa menjadi guru bukan hanya mengajar di dalam kelas, tetapi juga hadir untuk memberikan rasa aman, nyaman, dan kepedulian kepada setiap siswa.

Hampir empat tahun saya menjalankan amanah sebagai guru sekaligus petugas UKS. Setiap hari saya menemui berbagai kondisi siswa, mulai dari demam, mimisan, terjatuh saat bermain, hingga sekadar datang karena merasa cemas atau takut. Dari setiap kejadian tersebut, saya belajar bahwa sebelum mengobati luka, saya harus terlebih dahulu menenangkan hati mereka.

Pengalaman yang paling berkesan adalah ketika beberapa siswa membutuhkan pertolongan dalam waktu yang hampir bersamaan. Situasi itu mengajarkan saya untuk tetap tenang, sigap menentukan prioritas, serta menjalin komunikasi yang baik dengan wali kelas dan orang tua. Saya menyadari bahwa ketenangan seorang guru dapat memberikan rasa nyaman bagi siswa yang sedang mengalami kesulitan.

Selain memberikan pelayanan kesehatan, saya juga berusaha mengedukasi siswa tentang pentingnya menjaga kebersihan dan menerapkan pola hidup sehat. Kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan, menjaga kebersihan diri, dan beristirahat yang cukup menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran kesehatan sejak dini.

Dari perjalanan ini, saya belajar bahwa UKS bukan hanya tempat memberikan pertolongan pertama, tetapi juga tempat menumbuhkan kepedulian. Senyum siswa yang kembali setelah merasa lebih baik menjadi kebahagiaan tersendiri dan mengingatkan saya bahwa perhatian yang tulus sering kali menjadi bagian dari proses penyembuhan.

Ke depan, saya berkomitmen untuk terus meningkatkan pelayanan UKS, memperkuat edukasi kesehatan, serta membangun kerja sama yang baik dengan guru dan orang tua. Saya berharap UKS dapat menjadi tempat yang tidak hanya membantu siswa saat sakit, tetapi juga membentuk kebiasaan hidup sehat di lingkungan sekolah.

Pada akhirnya, saya menyadari bahwa menjadi guru UKS bukan sekadar merawat siswa yang sedang sakit. Lebih dari itu, saya belajar untuk hadir, mendengar, dan mendampingi mereka dengan sepenuh hati. Karena terkadang, kesembuhan tidak hanya datang dari obat, tetapi juga dari perhatian dan kasih sayang.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Guru UKS, Arfiana Afanin Zahro.

Keberhasilan Pembelajaran Melalui Presentasi Model Rumah Tahan Gempa dan Edukasi Mitigasi Bencana

Satu Hal yang Paling Berkesan Tahun Ini

Pembelajaran yang bermakna tidak hanya diukur dari kemampuan siswa memahami materi, tetapi juga dari keberanian mereka untuk menyampaikan pengetahuan yang telah dipelajari kepada orang lain. Salah satu keberhasilan pembelajaran yang membanggakan terlihat ketika siswa mampu mempresentasikan hasil karya model rumah tahan gempa di depan kelas dengan penuh percaya diri sekaligus memberikan edukasi kepada audiens tentang pentingnya mitigasi bencana gempa bumi.

 

Kegiatan ini merupakan salah satu bagian dari program BI STAR Kelas 3 Semester 2 yang bertemakan “ Aku Anak Tanggap ” , dan merupakan kegiatan yang mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Siswa tidak hanya mempelajari teori tentang gempa bumi dan dampaknya, tetapi juga mengaplikasikan pemahamannya melalui pembuatan model rumah tahan gempa dari berbagai bahan sederhana. Proses tersebut melatih kreativitas, kemampuan berpikir kritis, kerja sama, dan pemecahan masalah dalam merancang bangunan yang lebih aman saat terjadi gempa.

 

Refleksi Keberhasilan atau Tantangan

Keberhasilan yang paling terlihat adalah tumbuhnya rasa percaya diri siswa saat tampil di depan audiens. Dengan penuh semangat, mereka menjelaskan bagian-bagian rumah yang dirancang untuk mengurangi risiko kerusakan akibat gempa. Siswa mampu menjelaskan alasan penggunaan struktur tertentu, manfaat fondasi yang kuat, serta pentingnya konstruksi bangunan yang sesuai dengan kondisi daerah rawan gempa. Kemampuan berbicara di depan umum ini menunjukkan bahwa mereka tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu mengomunikasikannya secara jelas dan sistematis.

 

Pelajaran Berharga yang Saya Dapatkan

Pembelajaran seperti ini sejalan dengan pendekatan Deep Learning dalam Kurikulum Merdeka yang menekankan pemahaman mendalam, pembelajaran kontekstual, dan pengalaman nyata. Siswa tidak hanya menghafal konsep mitigasi bencana, tetapi juga mengalami proses belajar yang mendorong mereka untuk berpikir, berkarya, berkomunikasi, dan berkontribusi dalam menyelesaikan masalah di lingkungan sekitar.

 

Komitmen Perbaikan ke Depan

Keberhasilan pembelajaran ini menjadi bukti bahwa ketika siswa diberikan kesempatan untuk bereksplorasi, berkarya, dan menyampaikan gagasannya, mereka mampu berkembang menjadi pembelajar yang aktif dan percaya diri. Lebih dari itu, mereka juga tumbuh menjadi generasi yang memiliki kepedulian terhadap keselamatan diri dan lingkungan melalui pemahaman tentang mitigasi bencana. Maka pada tahun berikutnya perlu ditingkatkan Kembali strategi pembelajaran yang lebih variatif dengan konsep yang lebih matang dan terencana dengan baik.

 

Harapan untuk Tahun Pelajaran Berikutnya

Harapannya, kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sehingga siswa semakin terampil dalam berkomunikasi, berkolaborasi, dan menerapkan ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya menghasilkan siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter tangguh, kreatif, dan siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Wali Kelas 3 Ibnu Shuja, Nur Siswiyati.