Satu Hal yang Paling Berkesan Tahun Ini

Pembelajaran yang berkesan yaitu pembelajaran ketika BI Star. 

Apa yang Terjadi?

Anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok. Kami membahas tentang “Serunya Membaca, Hebatnya Berbuat Baik. Anak-anak belajar tentang literasi, membaca buku dan menuliskan tentang isi buku. Yaitu menulis tentang judul, nama tokoh, sifat tokohnya, penampilan buku, manfaat setelah membaca buku, dan pesan yang menarik dari buku tersebut. Nah, ada kejadian unik. Ada salah satu kelompok yang anak-anaknya membawa buku untuk di resume. Namun masing-masing ingin agar bukunyalah yang digunakan, akhirnya mereka berdua beradu argument dengan sengit. Dari kejadian ini, kedua anak ini marahan (jutekan) dan diam-dieman. Kemudian teman kelompok lain memberi tahu Ustadzah kalau kelompok ini tidak mengerjakan literasi karena marahan. Kemudian Ustadzah mendekat dan meminta agar mereka menceritakan permasalahan yang terjadi. Setelah Ustadzah faham dengan permasalahan tersebut, Ustadzah memberi solusi agar kedua anak ini membaca bukunya, dan buku temannya.  Selanjutnya Ustadzah meminta mereka berdua berdiskusi untuk menentukan buku siapa yang akan digunakan dalam tugas literasi ini. Masya Alloh, setelah mereka berdiskusi, meraka bisa menentukan salah satu buku, dan ternyata emosi tadi yang muncul langsung hilang, selanjunya mereka tertawa bersama, dan mengungkapkan “Kok kita lucu ya, gara-gara milih buku kita jadi jutekan”. Manfaat dari kejadian ini, mereka mendapat ilmu lebih, karena membaca 2 buku, dan mereka saling menurunkan ego dan bisa berdiskusi dengan teman.

Jelaskan secara singkat situasi atau kegiatan yang dilakukan.

  • Kegiatan yang dilakukan:
    • Membaca bukunya sendiri.
    • Membaca buku temannya.
  • Tujuan kegiatan:
    • Menentukan buku yang akan digunakan dalam tugas literasi. 
  • Hasil yang diperoleh:
    • Dengan hasil diskusi, mereka saling legowo dan bisa menentukan buku yang digunakan.

Refleksi Keberhasilan atau Tantangan

Jika Berhasil

  • Faktor yang mendukung keberhasilan:
    • Anak-anak mau menurunkan ego masing-masing.
    • Kedua bukunya bagus dan menarik.
  • Dampak positif bagi siswa:
    • Senang membaca.
    • Pandai berkreasi.
    • Saling berbaikan.

Jika Belum Berhasil

  • Kendala yang dihadapi:
    • Awal mengerjakan tugas saling bersikeras menentukan buku.
    • Ketika belum ada Solusi, mereka jutekan dan diem dieman..
  • Faktor yang perlu diperbaiki:
    • Jangan langsung marahan, tapi berdiskusi dulu dengan teman.

Pelajaran Berharga yang Saya Dapatkan

Tuliskan hal penting yang dipelajari dari pengalaman tersebut.

  • Saya menyadari bahwa anak-anak ingin usulannya lsngsung diterima.
  • Hal yang perlu saya pertahankan adalah anak-anak agar berbuat baik dengan teman.
  • Hal yang perlu saya tingkatkan adalah dekat dengan anak didik.

Komitmen Perbaikan ke Depan

Langkah nyata yang akan dilakukan pada tahun pelajaran berikutnya:

□ Meningkatkan strategi pembelajaran yang lebih variatif.
□ Memperkuat komunikasi dengan siswa dan orang tua.
□ Mengembangkan kompetensi melalui pelatihan atau belajar mandiri.
□ Memanfaatkan teknologi pembelajaran secara lebih optimal.
□ Lainnya: Pentingnya literasi dan berbuat baik dengan teman.

Harapan untuk Tahun Pelajaran Berikutnya

Serunya Membaca dan Hebatnya Berbuat Baik penting untuk anak didik.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Wali Kelas 2 Ibnu Haitsam, Neneng Siti Nurkhasanah.

Satu Hal yang Paling Berkesan Tahun Ini

Mengajar dikelas 1 adalah hal yang paling saya rasakan yepatepat buat saya karena masa itu adalah peralihan dari taman kanak kanak ke sekolah dasar. Di kelas 1 anak memulai belajar membaca, menulis dan berhitung. Anak memulai dengan menghafal dan menulis huruf.Belajar menulis dan membaca huruf sering terbalik dengan huruf yang mirip,  misalkan huruf b dan d.  Sebagai guru harus memberi pemahaman beda huruf akan beda arti. Memberikan pemahaman yang mudah dihahamdipahami anak, misal huruf  b perut menghadap belakang, b belakang. Huruf d perut menghadap depan, d depan. Dengan cara itu alhamdulillah siswa bisa memahami dengan baik. dan bisa membadakamembedakan mana huruf b dan d. Faktor yang mendukung keberhasilan adalah semangat anak yang ingin bisa membaca dan pendampingan selama bealajabelajar dirumah

Dampak positif bagi siswa yang saya rasakan adalah anak lebih semangat belajar baik dirumah maupun disekolah

Harapan untuk Tahun Pelajaran Berikutnya

Semoga tahun depan akan lebih baik.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Guru Kelas 1, Sri Suparmi.

Satu hal yang paling berkesan tahun ini adalah saat pembelajaran Qur’an berlangsung, siswa siap belajar, fokusnya terjaga, mampu mengajak temannya untuk ikut fokus dan mengikuti pembelajaran dengan baik. Selain itu, iklim kompetisi/fastabiqul khoirot mampu membuat siswa dalam halaqoh berusaha sekuat tenaga bahkan saling membantu dan menyemangati supaya temannya yang tertinggal bisa mengikuti.

Kegiatan yang dilakukan : Pengkondisian siswa sejak awal dengan menerapkan kontrak belajar atau aturan halaqoh dan kegiatan yang membuat mereka bisa siap belajar dan fokus misalnya dengan game tahfidz (tebak surat, sambung ayat, arti surat), tepuk serta energizer. Dengan adanya siswa yang siap belajar dan fokus menjadikan pembelajaran menjadi lebih baik, pemahaman terhadap materi menjadi sangat baik, menghafal juga lebih mudah.

Refleksi Keberhasilan atau Tantangan

Faktor yang mendukung keberhasilan adalah sebagian besar orangtua terlibat aktif dalam pembelajaran di rumah sehingga siswa dapat belajar dengan sangat baik, menjadi lebih cepat paham serta menghafal dengan bahagia. Sedangkan kendala yang dihadapi adalah terkadang siswa terdistraksi oleh keadaan di sekelilingnya.

Pelajaran Berharga yang Saya Dapatkan 

Saya menyadari bahwa pengelolaan halaqoh berawal dari kesiapan guru serta kesiapan siswa itu sendiri. Kesiapan guru berarti kesiapan ruhiyah guru, kedisiplinan waktu serta kesiapan materi yang akan disampaikan kepada siswa. Kesiapan siswa secara fisik misalnya berangkat sekolah sudah sarapan, sedangkan mood yang baik serta siap belajar menjadi kunci keberhasilan pembelajaran, Adapun hal yang perlu saya tingkatkan adalah meningkatkan strategi pembelajaran yang lebih variatif dan memperkuat komunikasi dengan orangtua. 

Saya berharap di tahun pelajaran berikutnya saya bisa menyusun strategi pembelajaran Al Qur’an yang lebih variatif, materi dan target yang tersusun dengan baik, serta meningkatkan komunikasi yang lebih intensif kepada wali murid sehingga mampu melejitkan potensi yang dimiliki oleh setiap siswa.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Guru Quran, Nur Diana.

Pembelajaran Bermakna melalui Program BI Star

Salah satu hal yang paling berkesan dalam pembelajaran di SDIT Bina Insani adalah salah satu program kegiatan BI Star yang memilik tema “Berkarya dan Berdakwah dengan Aksi Nyata untuk bumi dan sesama”. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar memahami materi, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari dalam bentuk hasil krya dan aksi nyata. Kegiatan seperti proyek kepedulian lingkungan, proyek literasi memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. Mereka belajar bekerja sama, berkomunikasi, berfikir kreatif serta menumbuhkan rasa peduli terhadap lingkungan dan sesama. Selain itu kegiatan ini juga melatih keberanian siswa untuk menampilkan hasil karya dan menyampaikan hasilnya di hadapan orang lain. 

Melalui kegiatan BI Star, siswa dapat memahami bahwa pembelajaran tidak hanya berfokus pada teori tetapi juga pada penerapan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini menjadi sarana yang baik untuk mengembangkan karakter kreativitas, dan kepedulian sosial siswa secara seimbang. Pengalaman yang berharga yang saya dapatkan bahwa pembelajaran yang dikemas melalui kegiatan nyata mampu meningkatkan keterlibatan siswa, mengembangkan kreativitas, serta membantu siswa memahami materi dan nilai nilai kehidupan yang lebih baik. Saya menyadari setiap siswa memiliki potensi dan keunikan yang berbeda dengan memberikan ruang untuk berkarya dan berekspresi, mereka dapat menunjukkan kemampuanterbaik yang mungkin tidak selalu terlihat dalam pembelajaran di kelas . 

Hal yang perlu saya pertahankan adalah semangat untuk terus mendampingi siswa, memberikan kesempatan kepada mereka untuk belajar yang menyenangkan, dan yeng terakhir hal yang perlu saya tingkatkan kemampuan dalam merancang kegiatan pembelajaran yang lebih inovatif, mengoptimalkan keterlibatan seluruh siswa, serta memberikan pendampingan yang lebih efektif agar setiap siswa dapat berkembang sesuai potensinya.

Harapan untuk tahun pembelajaran berikutnya memberikan ruang yang lebih luas bagi siswa untuk mengembangkan potensi, kreativitas, serta karakter positif. Semoga seluruh siswa dapat terlibat secara aktif dalam kegiatan, menunjukkan rasa percya diri. Selain itu, saya berharap berkolaborasi antara sekolah, siswa, dan orangtua dapat terus terjalin dengan baik sehingga proses pembelajaran dapat berjalan lebih optimal dan memberikam hasil yang maksumal bagi perkembangan siswa.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Guru Kelas 4, Qumairoh Dwi Safitri.

STRATEGI TES KENAIKAN JILID IWR

STRATEGI TES KENAIKAN JILID IWR

Program IWR/Methode baca Qur’an Ilman Wa Ruuhan menjadi salah satu program unggulan dalam pembelajaran Al-Qur’an di SDIT Bina Insani. Namun dalam pelaksanaan tes kenaikan jilid, ditemukan beberapa kendala. Pertama, siswa cenderung terburu-buru ingin naik jilid sehingga makhraj dan kelancaran belum sempurna. Kedua, masih banyak siswa yang tertahan di jilid 3 dan 4 karena lemah di huruf-huruf yang mirip seperti ha-kha, sin-syin, dan dza-za. Ketiga, hasil tes kadang subjektif tergantung mood penguji. Hal ini berdampak pada kualitas bacaan siswa yang tidak stabil setelah naik jilid. Oleh karena itu, diperlukan strategi tes kenaikan jilid yang tidak hanya menilai, tapi juga menguatkan.

Untuk mengatasi hal tersebut, saya menerapkan Asesmen Formatif Berbasis Penguatan Makharijul Huruf pada saat tes kenaikan jilid IWR. Langkah-langkahnya sebagai berikut:

  1. Pre-Test Diagnostik: Sebelum tes utama, siswa diminta membaca 3 baris halaman terakhir jilid yang akan diujikan. Fokus saya hanya pada makhraj 5 huruf rawan salah di jilid tersebut. Tujuannya memetakan kelemahan dulu.
  2. Metode Talqin-Talaqqi Bertahap: Saat tes, tidak langsung menyuruh siswa baca 1 halaman. Saya bagi jadi 3 potongan. Setiap selesai 1 potongan, saya langsung feedback makhrajnya. Jika salah, saya talqinkan 3x dan siswa mengulang. Ini membuat tes jadi momen belajar, bukan vonis.
  3. Kartu Remedial: Siswa yang belum lolos tidak langsung diberi status “mengulang”. Saya berikan Kartu Remedial berisi 1 huruf yang harus dilatih di rumah dengan video contoh dari guru. Orang tua ikut tanda tangan. Tes ulang dilakukan 3 hari kemudian dengan fokus pada huruf itu saja.
  4. Rubrik Penilaian Transparan: Saya gunakan rubrik 4 aspek: Kelancaran, Makhraj, Panjang-Pendek, dan Adab. Setiap aspek ada skor 1-4. Siswa dan wali kelas bisa melihat hasilnya. Ini mengurangi subjektivitas penguji.

Setelah menerapkan metode ini selama 2 bulan, terjadi peningkatan signifikan. Persentase siswa yang lulus tes kenaikan jilid dalam 1x percobaan naik dari 55% menjadi 82%. Keluhan orang tua tentang “anak saya bolak-balik tidak naik” berkurang drastis karena ada Kartu Remedial yang jelas. Yang paling penting, kualitas makhraj siswa lebih stabil saat sudah masuk jilid berikutnya. Kesimpulannya, tes kenaikan jilid tidak seharusnya menjadi momok, tetapi menjadi bagian dari proses pembelajaran itu sendiri. Dengan asesmen formatif, fungsi guru Qur’an sebagai mu’allim dan murabbi dapat berjalan beriringan. Metode ini akan terus dikembangkan agar target Bina Insani mencetak generasi Qur’ani tercapai.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Guru Quran, Nahrowi.

Menjadi Penjaga Tumbuh Kembang Anak Perempuan di Masa Peralihan

Menjadi Penjaga Tumbuh Kembang Anak Perempuan di Masa Peralihan

Tahun pelajaran ini kembali menjadi perjalanan yang sangat berkesan bagi saya. Untuk dua tahun berturut-turut, saya dipercaya menjadi guru kelas VI khusus putri. Amanah ini menghadirkan tantangan yang berbeda dibandingkan mengajar di kelas-kelas sebelumnya. Di usia 11–12 tahun, anak-anak tidak lagi sepenuhnya berada pada fase kanak-kanak, tetapi sedang berada di gerbang menuju masa remaja. Pada fase ini, peran guru tidak hanya sebatas mendampingi dan membimbing mereka secara akademis, tetapi juga menjadi pendengar, penuntun, sekaligus penjaga agar mereka mampu melewati masa transisi ini dengan baik.

Banyak perubahan yang terjadi pada diri mereka, baik secara biologis, emosional, maupun sosial. Perubahan hormon reproduksi mulai memunculkan rasa ketertarikan terhadap lawan jenis. Di sisi lain, pengaruh lingkungan pertemanan, perkembangan teknologi, paparan media sosial, serta pola pengasuhan di rumah turut membentuk cara mereka berpikir dan berperilaku. Semua hal tersebut menjadikan tugas mendidik siswa kelas VI putri sebagai amanah yang membutuhkan kesabaran, kepekaan, dan kerja sama dari berbagai pihak.

Selama mendampingi mereka, ada beberapa permasalahan yang cukup banyak muncul. Salah satunya adalah ketertarikan terhadap lawan jenis yang perlu diluruskan dan diarahkan. Beberapa siswa mulai menunjukkan pola interaksi yang kurang sesuai dengan usianya, seperti menjalin hubungan dengan lawan jenis yang menyerupai pacaran, berkomunikasi dengan lawan jenis hingga larut malam, bermain gim daring bersama dalam kelompok, hingga membuat saluran komunikasi pribadi demi mendapatkan pengakuan dari teman sebaya. Hampir seluruh permasalahan tersebut memiliki keterkaitan yang erat dengan penggunaan gadget tanpa pendampingan yang memadai dari orang tua di rumah. Padahal, di sekolah siswa tidak diperkenankan membawa gadget. Namun, ketika akses terhadap dunia digital tidak diimbangi dengan pengawasan, anak-anak yang masih berada pada tahap perkembangan akan sangat mudah terpengaruh oleh tontonan, tren, maupun gaya hidup yang belum layak mereka tiru. Hal ini tentu dapat menggeser fokus belajar, menurunkan kualitas interaksi sosial, mengganggu waktu istirahat, serta memengaruhi pembentukan karakter mereka.

Selain itu, saya juga menemukan beberapa siswa yang mengalami ketidakpercayaan diri. Perasaan minder dan rasa tidak aman terhadap diri sendiri membuat mereka beranggapan bahwa teman-temannya tidak menyukai keberadaan mereka. Akibatnya, mereka cenderung menarik diri, enggan bergaul, dan menyimpan prasangka yang sebenarnya belum tentu terjadi. Permasalahan lain yang juga cukup sering muncul adalah konflik antarteman sebaya atau circle pertemanan. Perselisihan kecil dapat berkembang menjadi saling sindir, saling menjauh, bahkan bermusuhan jika tidak segera diselesaikan.

Menghadapi berbagai situasi tersebut, saya menyadari bahwa mendidik anak tidak mungkin dilakukan seorang diri. Oleh karena itu, saya menjalin kerja sama dengan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Bu Damar, orang tua siswa yang bersangkutan, serta seorang praktisi neurosains, yang bernama Bunda Citra. Bunda Citra mendampingi siswa dan orang tua dalam sesi yang berbeda untuk menelusuri akar permasalahan yang terjadi, sekaligus memberikan masukan mengenai langkah-langkah yang dapat dilakukan di rumah. Alhamdulillah, orang tua siswa sangat kooperatif dan terbuka dalam menerima berbagai saran yang diberikan. Tidak ada sikap penolakan ataupun menyangkal kondisi yang terjadi, melainkan semangat untuk bersama-sama mencari solusi terbaik bagi tumbuh kembang anak-anak mereka.

Di lingkungan kelas, saya juga melakukan penguatan secara klasikal kepada seluruh siswa, baik yang sedang mengalami permasalahan maupun yang tidak. Berbagai nasihat, motivasi, dan penguatan nilai-nilai keislaman terus saya sampaikan agar menjadi bekal dalam kehidupan mereka. Selain itu, pendekatan personal melalui percakapan dari hati ke hati juga menjadi cara yang saya lakukan untuk memahami isi pikiran dan perasaan mereka. Ketika terjadi konflik antarsiswa, saya mengajak mereka duduk bersama, saling mendengarkan, menemukan akar permasalahan, lalu membangun keberanian untuk meminta maaf dan saling memaafkan. Saya ingin mereka memahami bahwa perbedaan pendapat dan kesalahpahaman adalah bagian dari kehidupan yang dapat diselesaikan dengan komunikasi yang baik.

Dari seluruh proses ini, saya memperoleh banyak pelajaran berharga. Saya semakin menyadari bahwa menjadi guru bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran, melainkan hadir sebagai sosok yang membersamai perjalanan tumbuh kembang anak secara utuh. Saya belajar bahwa setiap perilaku anak selalu memiliki alasan yang perlu dipahami, bukan sekadar dihakimi. Saya juga belajar bahwa membangun karakter jauh lebih penting daripada sekadar mengejar prestasi akademik. Selain itu, komunikasi yang terbuka antara sekolah dan orang tua menjadi kunci utama dalam mendampingi anak-anak di era digital yang penuh tantangan ini. Saya pun semakin memahami bahwa anak-anak di usia peralihan sangat membutuhkan sosok dewasa yang mampu mendengar, memahami, dan mengarahkan mereka dengan kasih sayang.

Ke depan, saya berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pendampingan kepada siswa, baik ketika mengajar di kelas homogen maupun heterogen. Saya ingin lebih proaktif dalam membangun komunikasi dengan orang tua sejak awal tahun ajaran, memperkuat pendidikan karakter, serta menghadirkan ruang-ruang diskusi yang aman bagi siswa untuk menyampaikan perasaan dan permasalahan yang mereka hadapi. Saya juga akan terus memperkaya diri dengan ilmu tentang perkembangan psikologis anak dan remaja agar dapat memberikan pendampingan yang lebih tepat. Selain itu, saya ingin membiasakan program penguatan literasi digital dan etika bermedia sosial sebagai upaya preventif dalam menghadapi tantangan perkembangan teknologi.

Pada akhirnya, saya memiliki harapan besar di masa depan. Untuk diri saya sendiri, saya berharap dapat terus menjadi guru yang bertumbuh, belajar, dan hadir dengan hati dalam mendampingi setiap anak. Untuk para siswa, saya berharap mereka tumbuh menjadi generasi yang beradab, berakhlak mulia, memiliki jati diri yang kuat, serta mampu menjaga diri dari berbagai pengaruh negatif di sekitarnya. Untuk sekolah, saya berharap sekolah dapat terus menjadi pusat akademisi yang sehat, nyaman, dan menjadi rumah kedua yang menumbuhkan karakter unggul bagi setiap peserta didik. Untuk orang tua, saya berharap terjalin sinergi yang semakin erat dalam mendampingi anak-anak di rumah, khususnya dalam penggunaan teknologi dan pembentukan kebiasaan positif. Karena pendampingan dari rumah sangatlah penting untuk tumbuh kembang anak. Dan untuk masyarakat, saya berharap tercipta lingkungan yang mendukung lahirnya generasi yang cerdas, berprestasi, dan memiliki fondasi keimanan yang kokoh. Sebab, sesungguhnya membesarkan anak bukanlah tugas satu pihak saja, melainkan tanggung jawab bersama. Ketika sekolah, keluarga, dan masyarakat berjalan beriringan, insyaallah akan lahir generasi yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga memiliki adab, akhlak, dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan zaman.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Wali Kelas 6, Indri Tjunduk Nur Fatonah.

Story Telling Community: Implementasi Nilai SIDIQ dalam Pembelajaran

Story Telling Community: Implementasi Nilai SIDIQ dalam Pembelajaran

Alhamdulillah, pada tahun ajaran ini nilai-nilai Bina Insani yang terangkum dalam akronim SIDIQ (Sinergi, Iman, Dakwah, Inovatif, dan Qurani) mulai diimplementasikan secara bertahap dalam berbagai program sekolah. Nilai-nilai ini hadir sebagai pedoman bersama bagi seluruh warga sekolah dalam berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan, sehingga terbentuk budaya sekolah yang kuat dan selaras dengan visi Bina Insani.

Salah satu wujud nyata implementasi SIDIQ adalah Story Telling Community, sebuah komunitas mendongeng yang menjadi bagian dari program unggulan kelas 4, Funtastic Four. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan literasi siswa, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter melalui pengalaman belajar yang bermakna.

Nilai Sinergi terlihat ketika siswa bekerja sama dalam kelompok untuk merancang dan menampilkan sebuah cerita. Mereka belajar berdiskusi, berbagi tugas, serta menghargai peran setiap anggota tim. Nilai Iman diwujudkan melalui pembiasaan dan monitoring ibadah selama program berlangsung. Sementara itu, nilai Dakwah dan Qurani hadir melalui pemilihan tema cerita yang mengandung pesan-pesan Islami dan kebaikan, kemudian disampaikan kepada adik-adik TK sebagai media berbagi inspirasi. Adapun nilai Inovatif tampak dalam proses kreatif siswa saat menyusun alur cerita, membuat dialog, merancang panggung mini, dan menciptakan puppet atau wayang sebagai media pertunjukan.

Selama empat pekan, siswa mengikuti berbagai tahapan kegiatan, mulai dari menentukan ide cerita, menyusun naskah dan dialog, membuat karakter tokoh, merancang puppet, hingga berlatih mendongeng. Puncak kegiatan dilaksanakan melalui pertunjukan dongeng menggunakan puppet di hadapan siswa TK Bina Insani. Melalui proses tersebut, siswa tidak hanya mengembangkan kemampuan membaca, menulis, berbicara, dan menyimak, tetapi juga belajar berkreasi, berkolaborasi, peduli terhadap teman, serta membangun rasa percaya diri.

Di awal pelaksanaan, berbagai tantangan masih ditemui. Sebagian siswa belum terbiasa bekerja sama, masih ragu menyampaikan ide, dan bingung menentukan langkah yang harus dilakukan. Namun, dengan pendampingan guru serta proses yang berkelanjutan, mereka mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan. Siswa menjadi lebih aktif, bertanggung jawab, dan mampu menyelesaikan tugas sesuai target yang telah ditentukan. Pada akhirnya, mereka berhasil tampil dengan percaya diri dan menunjukkan hasil kerja terbaiknya.

Program ini memberikan pelajaran berharga bahwa siswa dapat berkembang secara optimal ketika diberikan ruang untuk bereksplorasi, pendampingan yang konsisten, serta kesempatan untuk belajar melalui pengalaman nyata. Peran guru sebagai fasilitator juga terbukti mampu mendorong tumbuhnya kemandirian dan kreativitas siswa.

Ke depan, program ini diharapkan dapat menjadi kegiatan rutin tahunan dengan beberapa penyempurnaan, seperti penguatan pemahaman nilai SIDIQ selama proses kegiatan, variasi tema cerita yang lebih beragam, penyampaian pesan moral yang lebih kuat, serta kesempatan tampil yang lebih luas bagi siswa. Dengan demikian, Story Telling Community tidak hanya menjadi sarana pengembangan literasi, tetapi juga menjadi media efektif dalam menanamkan nilai-nilai SIDIQ kepada peserta didik.

Harapannya, semakin banyak kegiatan pembelajaran yang dirancang berlandaskan nilai SIDIQ sehingga budaya positif Bina Insani semakin kuat dan mampu melahirkan generasi yang berintegritas, kreatif, berakhlak mulia, serta siap memberikan manfaat bagi masyarakat.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Waka Kurikulum, Laksmina Yussi.

Bacaan Al Quran Anak Lebih Cepat Stabil dengan Metode Pengajaran Talaqqi

Bacaan Al Quran Anak Lebih Cepat Stabil dengan Metode Pengajaran Talaqqi

Satu hal yang membuat saya bahagia saat mengajar Al Quran adalah ketika anak-anak antusias memperhatikan dan menirukan bacaan Al Quran yang saya perdengarkan. Dulu sebelum menerapkan metode talaqqi, saya menuntun dan memotivasi mereka agar cepat lulus jilid 4 dan segera naik di Quran. Alhamdulillah satu persatu anak kelas 5 yang saya ampuh berhasil naik jilid dan perlahan mulai belajar membaca Al Quran secara langsung. Rasanya berat di awal ketika meminta mereka mulai membaca dan merangkai kata demi kata dalam Al Quran. Anak-anak masih beradaptasi dalam merangkai bacaan yang lebih panjang dari biasanya, wajar ketika panjang pendek masih berantakan dan tajwid tidak diperhatikan. Tapi kondisi seperti ini justru membuat saya lebih semangat dalam membimbing mereka. Saya optimis kemampuan anak-anak dalam membaca Al Quran bisa berkembang. Tidak hanya sekadar bisa baca saja, tapi juga stabil dan enak didengar. 

Dipakailah metode talaqqi untuk menuntun mereka cara membaca Al Quran sesuai dengan kaidah dengan terlebih dulu saya mencontohkan kea nak-anak bagaimana bunyi bacaan yang benar. Biasanya saya mentalaqqi mereka setengah halaman dengan membagi 1 ayat menjadi beberapa bagian tergantung tingkat kepanjangan dan level kesulitan ayat. Saya akan mencontohkan secara tartil dengan memperhatikan panjang pendek, tajwid hingga makhorijul huruf. Setelah saya selesai mencontohkan anak-anak akan menirukan setelah ada kode “A ba ta”. Saya akan memperhatikan mereka satu persatu, ketika ada yang keliru, saya akan meminta anak tersebut untuk mengulang kembali sampai bacaan mereka betul dan seperti apa yang saya contohkan. Tidak hanya mentalaqqi saja, di sela-sela pembelajaran Quran saya juga mengajarkan mereka teori tajwid, sifat huruf dan makhorijul huruf. Sesi ini menjadi seru karena mereka harus praktik satu persatu memperagakan bunyi huruf yang seringkali mengundang gelak tawa ketika salah satu dari mereka salah dalam pengucapan huruf atau ketika mereka memperlihatkan wajah dan mulut yang terlihat lucu. Saya selalu bilang ke mereka “ Kalau mau cepat bisa, gapapa kelihatan jelek. Kalau emang mulutnya harus mencucu ya mencucu, kalua harus meringis ya meringis. Jangan malu-malu.” Tidak hanya malu, kadang kendala yang saya hadapi saat mengajar mereka adalah kecilnya suara beberapa anak yang membuat saya susah dalam mengoreksi. 

Meskipun begitu, alhamdulillah biidznillah. Progress anak-anak dalam membaca Al Quran sudah sangat baik jika dibandingkan dengan awal mula mereka naik di Quran. Meski belum mengenal semua teori tajwid, tapi secara bacaan insyaallah sudah mulai stabil dan enak didengar. Semoga ini menjadi pondasi yang baik untuk terus berkembang dalam pembelajaran Al Quran di fase yang mendatang. 

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Guru Quran, Fika Indah Febriyani.

Membangun Kelas yang Positif dan Bermakna melalui Pendekatan Personal

Membangun Kelas yang Positif dan Bermakna melalui Pendekatan Personal

Guru adalah satu kata yang penuh makna. Dulu, profesi ini menjadi cita-cita banyak anak, termasuk saya. Namun, setelah menjalaninya, saya menyadari bahwa menjadi guru tidak hanya tentang mentransfer ilmu. Guru juga bertugas membantu anak-anak tumbuh sesuai potensinya dan menjadi versi terbaik dirinya sendiri.

Salah satu momen yang paling berkesan terjadi pada hari terakhir sekolah. Saat itu, saya menerima sepucuk surat kecil dari seorang murid yang diselipkan di dalam buku kenangan. Dalam surat tersebut, ia menulis bahwa dirinya merasa didengar dan disayangi apa adanya.

Oh Allah, I did it. Alhamdulillah.

Kalimat itu sederhana, tetapi berhasil membuat hati saya berdebar. Saya merasa sangat bahagia karena ternyata usaha kecil yang selama ini dilakukan benar-benar sampai kepada anak tersebut.

Saya masih ingat ketika awal tahun ada beberapa catatan mengenai dirinya. Namun, saya memilih untuk tidak langsung menilai. Saya mencoba mendekatinya, mengajaknya bercerita, mendengarkan sudut pandangnya, dan memberikan motivasi secara konsisten. Dari proses itu, saya mengetahui bahwa ia sedang menghadapi tantangan dalam pertemanan di kelas dan dirumah. 

Tujuan saya sederhana, yaitu memahami sisi lain dari diri anak yang mungkin tidak terlihat oleh banyak orang. Hasilnya, ia merasa dihargai, didengar, dan diterima. Seiring berjalannya waktu, kepercayaan dirinya tumbuh, motivasi belajarnya meningkat, dan tanggung jawabnya terhadap tugas-tugas sekolah menjadi lebih baik.

Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa menjadi guru berarti hadir bukan hanya untuk mengajar, tetapi juga untuk mendengarkan. Empati dan kasih sayang menjadi hal yang sangat penting dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Saya ingin terus mempertahankan kebiasaan mendengarkan tanpa menghakimi dan belajar menjadi pendamping yang lebih baik bagi setiap murid.

Harapan saya di tahun pelajaran berikutnya adalah tetap menjadi guru yang mau mendengar isi hati anak-anak. Saya juga ingin terus belajar, meningkatkan kemampuan diri, dan memberikan pendampingan yang lebih baik agar setiap anak merasa dihargai, didengar, dan memiliki kesempatan untuk berkembang sesuai potensinya.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Wali Kelas 5, Frida.

Menepis Batas, Membentuk Karakter: Refleksi Pengajaran PJOK di SDIT Bina Insani Semarang

Menepis Batas, Membentuk Karakter: Refleksi Pengajaran PJOK di SDIT Bina Insani Semarang

Menjadi guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di sekolah dasar berbasis Islam terpadu seperti SDIT Bina Insani Semarang selalu menghadirkan cerita tersendiri. Setiap minggu, saat bel pelajaran PJOK berbunyi atau waktu istirahat tiba, lorong-lorong sekolah langsung dipenuhi riuh rendah langkah kaki anak-anak yang tidak sabar untuk bergerak. Bagi mereka, lapangan adalah ruang kebebasan. Namun bagi saya, lapangan adalah ruang kelas yang sesungguhnya—tempat di mana karakter, kedisiplinan, dan nilai-nilai Islami diuji secara nyata.

Mengubah Keterbatasan Menjadi Kreativitas dengan Keadilan

Secara realistis, mengajar olahraga di lingkungan sekolah perkotaan sering kali membentur tantangan yang sama: luas lahan yang terbatas namun jumlah siswa yang banyak. Di SDIT Bina Insani, tantangan ini dijawab bukan dengan pembatasan, melainkan dengan keadilan manajemen ruang. Kami menerapkan Jadwal Penggunaan Lapangan Olahraga yang memastikan seluruh siswa, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6, mendapatkan hak bermain yang seimbang.

Sistem zonasi dan waktu dibuat dengan detail. Lapangan Utama digunakan secara bergantian oleh kelas-kelas tinggi (kelas 3 sampai 6) seperti kelas Al Baghdadi, Al Jahiz, Al Fazari, hingga Ibnu Sina, baik untuk sesi pagi sebelum masuk kelas maupun di jam istirahat. Sementara itu, Lapangan Depan Kelas 1 difokuskan untuk adik-adik kelas kecil (kelas 1 dan 2) seperti kelas Ibnu Hayyan dan Al Khawarizmi. Dengan adanya pembagian yang adil ini, tidak ada lagi dominasi kakak kelas atas adik kelasnya. Semua mendapat porsi yang sama untuk bergerak aktif. 

Bebas Namun Tetap Tertib: Pembiasaan Karakter Lewat Aturan

Apakah dengan jadwal yang padat ini lapangan menjadi semrawut? Di sinilah keindahan refleksinya. Anak-anak dilepaskan untuk bermain dengan bebas, namun kebebasan mereka dibingkai oleh 15 Peraturan Lapangan yang wajib ditaati oleh seluruh siswa putra maupun putri. 

Aturan-aturan ini bukan sekadar tulisan di papan pengumuman, melainkan instrumen konkret untuk mengajarkan karakter dan tarbiyah di luar kelas:

  • Kemandirian dan Tanggung Jawab: Siswa dibiasakan membawa bola dari kelas sendiri dan wajib mengembalikannya jika meminjam. Mereka juga bertanggung jawab atas barang bawaan pribadi serta kebersihan lapangan. 
  • Keselamatan dan Kesehatan: Aturan wajib memakai alas kaki mengajarkan mereka pentingnya menjaga keselamatan diri saat beraktivitas fisik. 
  • Integrasi Budaya 5R & 5S: Di lapangan, mereka tidak hanya mengejar bola. Siswa dituntut menerapkan budaya 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) serta menjaga adab Islami melalui budaya 5S (Salam, Senyum, Sapa, Sopan, Santun)
  • Konsekuensi Kedisiplinan: Jika ada kelas yang memakai lapangan di luar jadwal yang ditentukan, sanksi kedisiplinan akan ditegakkan secara tegas namun mendidik. 

Melalui aturan seperti larangan bermain bola di dalam kelas atau lorong sekolah, anak-anak belajar memahami batasan ruang. Mereka tahu kapan dan di mana mereka bisa mengekspresikan energi mereka secara tepat. 

Lebih dari Sekadar Keringat

Fokus utama refleksi saya selama mengajar adalah bagaimana manajemen lapangan dan aktivitas fisik ini melahirkan sportivitas tinggi. Mengakui kekalahan, berbagi ruang secara bergantian, dan menaati peraturan lapangan adalah bentuk kejujuran dan ketaatan yang nyata. 

Pelajaran PJOK dan waktu bermain di lapangan bukan sekadar “jam bebas” atau pelengkap kurikulum. Dari pengaturan jadwal yang presisi dan penegakan aturan di SDIT Bina Insani ini, kami sedang mengikhtiarkan lahirnya generasi Muslim yang kuat secara fisik (Qowiyyul Jism), disiplin terhadap waktu, sekaligus bersih secara hati. Karena dari lapangan yang tertib inilah, karakter pemimpin masa depan sedang dibentuk.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Guru PJOK, Deni Pribadi.