Tahun ajaran 2025/2026 telah menjadi periode yang sangat bermakna bagi saya dalam menjalankan tugas sebagai pustakawan. Secara umum, program-program yang berjalan, seperti Aksi Literasi Serempak, pemberian penghargaan bagi pembaca terajin, lomba literasi saat classmeeting, serta sosialisasi perpustakaan untuk siswa baru, berhasil menciptakan ekosistem literasi yang lebih hidup di sekolah. Diantara program-program tersebut, pengalaman paling berkesan bagi saya yaitu Aksi Literasi Serempak: Merayakan Bulan Bahasa. Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kecintaan terhadap literasi sejak dini melalui pendekatan yang menyenangkan dan kolaboratif. Hasil yang diperoleh dari kegiatan ini sangat memuaskan, diantaranya: Pertama, terjadi peningkatan jumlah koleksi buku perpustakaan secara signifikan berkat sumbangan dari siswa kelas 1 dan 2. Kedua, siswa kelas 3 dan 4 tidak hanya membaca, tetapi juga mampu mengasah kemampuan berpikir kritis mereka melalui pembuatan mind map unsur-unsur intrinsik cerita. Selain itu, mereka juga bisa mendapat bacaan yang berbeda melalui tukar buku. Ketiga, kreativitas siswa kelas 5 dan 6 terpantik melalui pembuatan ilustrasi dari fiksi mini yang dibaca serta kegiatan Menyusun artikel acak, yang secara tidak langsung melatih pemahaman mereka terhadap struktur teks.
Keberhasilan ini tidak lepas dari beberapa faktor pendukung. Kerjasama yang solid dengan guru-guru kelas sangat krusial, mulai dari koordinasi jadwal hingga pendampingan siswa selama kegiatan ini berlangsung. Dukungan dari Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Semarang melalui layanan perpustakaan keliling juga menjadi nilai tambah yang membuat suasana kegiatan lebih meriah dan variatif. Selain itu, antusiasme siswa yang tinggi menjadi energi utama yang membuat seluruh rangkaian acara berjalan lancar. Dampak dari kegiatan ini cukup terlihat. Terjadi peningkatan minat baca yang terlihat dari meningkatnya jumlah kunjungan siswa ke perpustakaan pada bulan-bulan setelah kegiatan, khususnya para siswa kelas bawah. Kreativitas dan daya pikir kritis siswa juga dapat terlihat dari worksheet-worksheet yang mereka kerjakan. Keberhasilan yang telah diraih tentu harus dipertahankan, terutama adalah model pembelajaran literasi aktif dan kolaboratif seperti pada Aksi Litrasi Serempak. Pendekatan ini terbukti efektif membuat siswa tidak merasa bosan.
Meskipun secara teknis jadwal kegiatan telah tersusun rapi dan tidak saling tumpang tindih antarkelas, masih terdapat kendala teknis yang cukup signifikan, yaitu pada sesi membaca koleksi perpustakaan keliling untuk kelas 1 dan 2. Dengan jumlah siswa mencapai lebih dari 200 anak yang harus mengakses satu unit koleksi buku perpustakaan keliling secara bergiliran, terjadi kepadatan dan antrean yang kurang tertib (desak-desakan) di area baca. Kondisi ini menyulitkan petugas dalam mengawasi jalannya kegiatan dan membuat sebagian siswa kurang leluasa memilih buku karena terburu-buru menunggu giliran. Hal ini menunjukkan bahwa rasio antara jumlah koleksi buku yang tersedia dengan jumlah siswa pengguna masih sangat timpang, sehingga perlu adanya strategi distribusi akses baca yang lebih matang.
Saya berharap program-program yang telah dirintis tahun ini dapat terus berkembang, menjangkau lebih banyak siswa, dan mampu beradaptasi dengan kebutuhan literasi di era digital. Semoga tahun depan kita dapat kembali merayakan Bulan Bahasa dengan semangat yang lebih membara dan karya yang lebih luar biasa.
*Catatan ini ditulis oleh Pustakawan Al-Ma’rifah, Noorma Paramitha.




