Tahun pelajaran ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya karena merupakan awal perjalanan saya sebagai guru Al-Qur’an. Memulai peran sebagai seorang pendidik memberikan banyak pembelajaran baru, mulai dari beradaptasi dengan lingkungan sekolah, mengenal karakter siswa, hingga belajar menemukan cara untuk mendampingi mereka dalam belajar dan menghafal Al-Qur’an. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika pertama kali berkenalan dengan para siswa. Mereka menyambut kehadiran saya dengan penuh antusias, rasa ingin tahu, dan semangat yang begitu besar. Momen sederhana tersebut menjadi awal yang baik untuk membangun kedekatan dan kepercayaan antara guru dan siswa. Dalam perjalanan pembelajaran, saya dihadapkan pada tantangan ketika mengajar siswa kelas 2 yang masih berada pada fase aktif bermain dan belum mampu mempertahankan fokus dalam waktu yang lama. Pada beberapa kesempatan, perhatian mereka mudah teralihkan sehingga proses pembelajaran membutuhkan kesabaran dan strategi yang tepat. Dari kondisi tersebut, saya menyadari bahwa anak-anak tidak cukup hanya diberikan arahan, tetapi juga membutuhkan pendekatan yang lebih personal.
Dengan mengajak mereka berkomunikasi, mendekati mereka satu per satu, serta memberikan perhatian yang lebih, perlahan mereka mulai merasa nyaman dan bersedia mengikuti arahan yang diberikan. Hubungan yang terbangun dengan baik membuat mereka lebih mudah diajak belajar, lebih fokus, dan lebih antusias selama pembelajaran berlangsung. Pengalaman berharga lainnya terjadi saat kegiatan talaqqi hafalan Qur’an. Saya melihat semangat yang luar biasa ketika siswa mendengarkan bacaan dengan saksama dan berusaha mengulang hafalan yang diberikan. Meskipun terdapat beberapa siswa yang mengalami kesulitan dan sesekali mengeluh saat menghafal, mereka tetap berusaha mengikuti proses pembelajaran hingga selesai. Dengan pendampingan, pengulangan, dan motivasi yang terus diberikan, pada akhirnya mereka mampu menghafalkan ayat demi ayat dengan baik. Pengalaman ini menunjukkan bahwa ketika anak-anak diberikan perhatian dan pendampingan yang tepat, mereka memiliki potensi yang sangat besar untuk berkembang.
Dari berbagai pengalaman tersebut, saya mendapatkan banyak pelajaran berharga sebagai seorang pendidik. Saya belajar bahwa setiap anak memiliki karakter, kemampuan, dan cara belajar yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan yang berbeda pula. Saya juga memahami bahwa keberhasilan pembelajaran Al-Qur’an tidak hanya ditentukan oleh metode mengajar, tetapi juga oleh kedekatan emosional yang dibangun antara guru dan siswa. Ketika anak-anak merasa didengar, dihargai, dan diperhatikan, mereka akan lebih mudah membangun rasa percaya, mengikuti arahan, serta menunjukkan semangat belajar yang lebih baik.
Pengalaman ini semakin menguatkan keyakinan saya bahwa menjadi guru Al-Qur’an bukan sekadar mengajarkan hafalan, melainkan juga mendampingi proses tumbuh kembang anak, menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an, serta membangun karakter mereka dengan penuh kesabaran, kasih sayang, dan keteladanan. Kedepannya, saya berharap dapat terus menghadirkan pembelajaran Al-Qur’an yang hangat, menyenangkan, dan bermakna, sehingga siswa dapat tumbuh menjadi generasi yang mencintai Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
*Catatan ini ditulis oleh Guru Quran, Zahron Hur Azizah.




