Pagi itu terasa berbeda dari pagi biasanya. Kenapa berbeda? Karena pagi itu adalah hari pertama saya kembali menjadi bagian dari SD IT Bina Insani. Ya, saya kembali mengajar setelah cuti melahirkan putri pertama saya selama 3 bulan. Tepat 90 hari tidak kurang tidak lebih. Pagi itu menjadi momentum peran batin yang sangat hebat dalam hati saya, saya harus meninggalkan anak biologis saya di rumah untuk kembali bertemu dengan anak ideologis saya di sekolah. Sebagai seorang ibu baru, ini adalah momentum yang berat dan menguras air mata. Dalam hati saya berkata, ini permulaan yang berat namun berujung hebat, insyaAllah. Karena saya diberi amanah untuk mendidik 29 anak plus 1. Tidaklah mudah namun bukan hal mustahil untuk memulai semua dari hal kecil.
Setiap pagi kami memulai pembelajaran di kelas dengan doa pagi, murajaah dan sholat dhuha berjamaa`ah. Ketiga kegiatan rutin ini selalu dipimpin oleh siswa siswi kelas saya secara bergiliran. Tanpa protes semua melaksanakan tugasnya dengan baik. Alhamdulillah saya mendapatkan komposisi siswa yang “sangat aman” menurut wali kelas lain. Julukan ini bukan hanya sekedar celoteh atau asbun dari mereka, namun ini nyata. Dimana siswa siswi saya sudah semandiri itu untuk menjalankan rutinitas hariannya di sekolah. Baru tiga bulan namun siswa siswi saya sudah sekeren ini. Bukan sulap bukan sihir, ini adalah buah dari kerja keras 2 guru pengganti saya selama saya cuti. Saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk Ustadzah Winda dan Ustadzah Qumairoh. Tanpa beliau berdua, siswa siswi saya tidak akan menjadi semembanggakan ini. Semoga Allah senantiasa memeluk erat kedua hambaNya ini dengan kasih sayangNya. Aamiin.
Suatu hari seperti biasa saya akan memulai pembelajaran di kelas, namun mata saya tertuju pada kaki salah seorang siswa saya, Alif. Saya merasa ada yang berbeda dan lain dari biasanya. Kakinya telanjang tanpa kaos kaki. Bagi sebgian guru mungkin itu adalah hal wajar karena kaki bagian mata kaki hingga jari bukanlah aurat bagi laki – laki dan melepas alas kaki / sepatu di dalam kelas memang aturan baku di sekolah kami. Namun hal itu tidak wajar bagi saya yang memandang kaos kaki adalah salah satu bagian penting dari kerapian dalam memakai seragam. Lalu saya bertanya, “Alif, kaos kakinya kenapa tidak dipakai ?”. Lalu Alif menjawab, “ Maaf ustadzah, saya lupa memakai kaos kaki karena tadi pagi terburu buru – buru”. Mendengar hal tersebut, saya langsung menghubungi teman guru yang menjual kaos kaki. Setelah bel istirahat pertama saya memberikan satu pasang kaos kaki untuk Alif. Awalnya Alif malu, namun akhirnya dia menerima dan memakainya. “Alhamdulillah, terima kasih ustadzah,” ujarnya.
Hari demi hari berlalu begitu cepat hingga tibalah hari terakhir sebelum kenaikan kelas. Saya membagikan hasil Sumatif Akhir Semester kepada siswa siswi saya. Saya merasa sangat bangga karena mereka melewati suka duka selama kelas lima ini dengan sangat baik, progress pembelajaran mereka sangat baik. Pembelajaran yang tidak hanya secara akademik, namun secara non akademik juga baik. Tidak hanya sekedar angka yang tertulis di rapot, namun pembelajaran tentang tanggung jawab pada diri sendiri, kemandirian, dan kepedulia terhadap sesama. Usai sholat dhuhur berjamaah saya meminta siswa siswi saya menuliskan kesan dan pesan untuk saya pada selembar kertas origami. Ini adalah rutinitas saya dalam mengakhiri masa mengajar dalam setiap akhir tahun ajaran, sebagai bahan refleksi dan evaluasi bagi diri saya. Saat di rumah dan membaca satu persatu surat cinta dari siswa siswi saya, ada satu surat yang membuat air mata saya terjun bebas mengikuti gaya gravitasi. Surat tersebut dari Alif yang berkata “ Terima kasih ustadzah atas kaos kakinya, saya akan ingat selalu kebaikan ustadzah. Sesuai pesan ustadzah, saya janji untuk lebih giat belajar. Berkat semangat dari ustadzah, nilai saya banyak yang nggak remidi. Terima kasih ustadzah.”
Ternyata kebaikan kecil yang tidak pernah kita hiaraukan mampu berdampak besar untuk orang lain. Dari cerita ini saya belajar bahwa teruslah berbuat baik sekecil apapun dan kapanpun kita bisa. Dengan berbuat baik pada orang lain, sebenarnya kita sedang berbuat baik pada diri kita sendiri. Karena sejatinya, apa yang kita lakukan akan kembali pada diri kita sendiri.
*Catatan ini ditulis oleh Wali Kelas 5 Al-Farabi, Winaryanti.




