“Ditemukan uang di parkiran Gedung C, yang merasa memiliki menghubungi pak Teguh”. Bunyi whats app dari Ustdzh Frida menjelang kepulangan sore itu. Alhamdulillah masih di berikan lingkungan kerja yang memiliki tingkat kejujuran yang baik. Kejujuran seringkali di devinisikan kesesuaian apa yang di ucapkan dan apa yang di rasakan. Sifat jujur merupakan sifat yang harusnya di miliki oleh setiap muslim untuk pondasi diri nya sendiri. Kejujuran mencakup jujur pada dirinya sendiri, jujur dalam perbuatan atau perilaku. Setiap orang bahkan guru berupaya selalu menjaga sifat jujurnya, karena akan di contoh oleh para murid muridnya.
Dalam kehidupan sehari hari kejujuran bisa di terapkan dalam berbagai hal, misalnya mengembalikan barang tepat waktu, berani mengakui kesalahan, tidak menuduh orang lain, hingga menyampaikan informasi seuai fakta tidak di tambah tambahi maupun di kurangi. Tapi pada kenyataanya kita masih sering menjumpai hal hal yang masih jauh dari kejujuran. Misal meminjam tanpa ijin, mengambil hak teman kita, keluar tempat kerja tanpa keterangan apapun atau bahkan memberikan keterangan yang masih di ragukan kebenaranya. Bahkan hal tersebut dilakukan berulang kali dan menjadikan sebuah pembenaran karena tidak ada teguran atau tindakan.
Dalam sair romawi kuno menyebutkan “banyak orang berkata yang jujur pasti hancur, karena jaman sudah edan jujur tidak makan” tantangan menjaga kejujuran merupakan bisa datang dari lingkungan atau dari ego pribadi. Di tengah kompetisi yang ketat atau tuntutan yang tinggi, maka nilai kejujuran di pertaruhkan seorang individu untuk tidak ikut terjerumus dalam praktek praktek memanipulasi hasil kerja. Pentingnya menjaga kejujuran tidak hanya berdampak pada citra positif pada diri sendiri karena juga bisa mempererat hubungan sosial. Biasanya orang yang biasa jujur tidak takut atau tidak ada beban untuk bertemu dengan orang lain, tapi bagi orang yang biasa berbohong atau tidak jujur akan selalu malu, minder bahkan takut kalau bertemu denagn orang lain.
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (bersaksi atau jujur tentang kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (Q.S. Al-Maidah: 8). Semoga Allah SWT selalu menjaga kita dari marabahaya, fitnah serta sifat iri, dengki, hasat dan menjaga para pemimpin kita dengan kejujuran menuju BINA INSANI yang adil, cerdas dan sejahtera.
*Catatan ini ditulis oleh Guru PJOK, Dwi Purwanto.


