Pubertas: Ketika Siswa Mulai Mengenal Dirinya Sendiri

Pubertas: Ketika Siswa Mulai Mengenal Dirinya Sendiri

Satu Hal yang Paling Berkesan Tahun Ini

Menjadi guru kelas di kelas lima memiliki tantangan tersendiri, karena di fase ini siswa mulai mengalami masa pra pubertas bahkan beberapa sudah mengalami pubertas. Kebetulan sekali di level ini siswa memperoleh materi pembelajaran IPAS tentang pubertas. Menariknya setelah pembelajaran yang saya sampaikan di kelas ternyata membuat siswa semakin penasaran tentang diri mereka sendiri. Padahal yang saya lakukan hanya menyampaikan materi secara klasikal dan lebih banyak melakukan diskusi dua arah dengan siswa. Semua kelas hening saat saya menjelaskan dan ramai menanggapi saat saya bertanya. Melalui pembelajaran ini siswa lebih mengenal sebuah proses perubahan yang terjadi pada diri mereka, seolah-olah mereka sedang menggali tentang diri mereka sendiri dan mencoba berkenalan kembali. 

Setelah pembelajaran selesai, banyak siswa yang kemudian mengerumuni saya sekedar untuk menanyakan lebih jauh tentang istilah-istilah yang ada di materi ini. Tidak sedikit juga yang kemudian memvalidasi diri mereka terkait perubahan-perubahan yang mereka alami, baik perubahan fisik, sosial dan emosinya. Sesampainya di rumah pun orang tua juga tak luput dari undangan untuk berdiskusi oleh mereka terkait materi ini dan mereka kaitkan dengan diri mereka sendiri. 

Refleksi Keberhasilan atau Tantangan

Menurut saya, faktor yang memengaruhi keberhasilan dari pembelajaran kali tentunya bukan hanya dari metode belajar yang sesederhana itu, tapi karena materi yang disampaikan adalah sebuah ilmu yang mereka butuhkan dan relate dengan kondisi diri mereka saat ini. Dampak yang bisa dinilai dan dirasakan dari keberhasilan materi ini adalah siswa menjadi lebih mengenal dirinya dan secara tidak langsung belajar untuk mengelola perubahan-perubahan yang mereka alami. Karena Sebagian dari mereka sebelumnya bertanya-tanya seperti “kenapa ya aku gampang banget bad mood akhir-akhir ini?”

Pelajaran Berharga yang Saya Dapatkan

Saya menyadari bahwa siswa butuh pemantik untuk merasa perlu dalam mempelajari sesuatu. Karena pada dasarnya semua pembelajaran yang diberikan guru di kelas sangat dekat dan bermanfaat untuk kehidupan mereka sehari-hari, akan tetapi mereka belum merasa perlu untuk mempelajari hal tersebut. Disinilah peran guru diuji dan ditantang.

Komitmen Perbaikan ke Depan

Langkah nyata yang akan dilakukan pada tahun pelajaran berikutnya adalah meningkatkan strategi pembelajaran yang lebih variatif seperti mengadakan talkshow interaktif tentang pubertas yang lebih luas melalui pembicara yang mumpuni dikaitkan dengan ajaran Islam untuk memperkuat pondasinya. 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Wali Kelas 5 Al-Farghani, Ocktavia Cristyari Suwandi.

Pelan-Pelan, Anak-Anak Mulai Mencintai Al-Qur’an

Pelan-Pelan, Anak-Anak Mulai Mencintai Al-Qur’an

Tahun pelajaran ini menjadi pengalaman yang berkesan bagi saya sebagai guru Qur’an. Hal yang paling saya syukuri adalah melihat anak-anak perlahan mulai berani membaca Al-Qur’an. Di awal pembelajaran, ada yang masih malu, suaranya sangat pelan, atau ragu karena takut salah. Ada juga yang masih sering keliru pada makhraj, panjang pendek bacaan, dan kelancaran saat menyambung ayat. Namun dari proses itu saya belajar bahwa mengajar Al-Qur’an bukan hanya soal mengejar target, tetapi juga tentang mendampingi anak-anak agar tumbuh rasa percaya diri dan cinta kepada Al-Qur’an.

Kegiatan yang saya lakukan selama pembelajaran adalah membimbing tahsin, baca-simak, setoran hafalan, dan murojaah. Saat anak membaca, saya menyimak dengan teliti, lalu mengoreksi bacaan yang belum tepat secara pelan dan lembut. Saya berusaha menjaga suasana halaqah tetap nyaman agar anak-anak tidak merasa takut ketika salah. Tujuannya sederhana, yaitu membantu mereka membaca Al-Qur’an dengan lebih tartil, menjaga hafalan, serta membiasakan adab ketika belajar, seperti duduk tertib, menyimak teman, dan menerima koreksi dengan baik.

Alhamdulillah, sedikit demi sedikit mulai terlihat perubahan. Beberapa anak yang awalnya malu mulai berani membaca. Ada yang mulai lebih lancar, lebih tertib, dan lebih siap saat murojaah. Walaupun perkembangan setiap anak tidak sama, perubahan kecil itu tetap menjadi kebahagiaan tersendiri. Saya menyadari bahwa setiap anak memiliki prosesnya masing-masing, sehingga guru perlu sabar, konsisten, dan terus memberi semangat.

Tantangan yang saya hadapi adalah kemampuan siswa yang beragam. Ada anak yang cepat mengikuti, tetapi ada juga yang membutuhkan pendampingan lebih sering. Selain itu, murojaah di rumah belum semuanya berjalan rutin. Karena itu, saya merasa perlu memperbaiki catatan perkembangan siswa, mengelompokkan pembelajaran sesuai kemampuan, serta memperkuat komunikasi dengan orang tua agar pendampingan di sekolah dan di rumah bisa berjalan searah.

Pelajaran berharga yang saya dapatkan adalah bahwa mengajar Al-Qur’an membutuhkan hati yang lapang. Anak-anak perlu dibimbing, disapa, dimotivasi, dan diberi contoh adab yang baik. Ke depan, saya ingin mempertahankan cara membimbing yang lembut, sekaligus meningkatkan variasi pembelajaran, pemantauan capaian siswa, dan penggunaan media sederhana untuk membantu murojaah. Harapan saya, tahun depan anak-anak semakin dekat dengan Al-Qur’an, bacaan dan hafalannya meningkat, serta adab Qur’ani semakin terlihat dalam keseharian mereka.

 

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Guru Quran, Endang Nurcayaningsih.

Membangun Pemahaman Meter dan Sentimeter Melalui Pembelajaran Interaktif

Membangun Pemahaman Meter dan Sentimeter Melalui Pembelajaran Interaktif

Pengalaman yang paling berkesan tahun ini adalah saat mengajarkan materi satuan panjang meter dan sentimeter. Pembelajaran menjadi bermakna karena siswa tidak hanya mempelajari konsep secara teori, tetapi juga melakukan pengukuran secara langsung menggunakan pita ukur 1 meter dan penggaris 1 meter. Kegiatan ini membuat siswa lebih antusias, aktif, dan mudah memahami hubungan antara meter dan sentimeter.

Dalam pembelajaran, saya menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar utama dengan dukungan bahasa Indonesia pada bagian-bagian yang membutuhkan penjelasan lebih mendalam. Pendekatan bilingual ini membantu siswa memahami konsep sekaligus memperkaya kosakata mereka.

Kegiatan pembelajaran meliputi memperkirakan panjang benda, mengenal bahwa 1 meter sama dengan 100 sentimeter, melakukan konversi satuan panjang, mengukur benda di sekitar, serta mengerjakan latihan secara mandiri. Tujuan utama kegiatan ini adalah membantu siswa memahami konsep satuan panjang, melakukan konversi satuan, dan menerapkannya dalam penyelesaian masalah sederhana.

Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa sebagian besar siswa telah memahami hubungan antara meter dan sentimeter serta mampu melakukan konversi dasar. Siswa juga lebih percaya diri menggunakan istilah matematika dalam bahasa Inggris dan lebih mudah memahami materi melalui pembelajaran yang konkret dan interaktif. Namun, beberapa siswa masih memerlukan bimbingan dalam menyelesaikan soal cerita dan konversi yang lebih kompleks.

Keberhasilan pembelajaran didukung oleh penggunaan alat peraga nyata, pendekatan bilingual yang seimbang, serta kegiatan praktik langsung. Dampak positifnya terlihat dari meningkatnya pemahaman konsep dan kemampuan menghubungkan matematika dengan kehidupan sehari-hari.

Tantangan yang dihadapi antara lain perbedaan kemampuan bahasa Inggris siswa, kesulitan sebagian siswa dalam mengubah sentimeter ke meter dan sentimeter, kurangnya ketelitian saat membaca alat ukur, serta keterbatasan waktu untuk memberikan latihan yang cukup.

Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa siswa kelas 3 lebih mudah memahami matematika melalui benda konkret dan pengalaman langsung. Saya juga menyadari pentingnya penggunaan bahasa Indonesia sebagai pendukung pembelajaran bilingual. Ke depan, saya berkomitmen untuk menerapkan strategi pembelajaran yang lebih variatif, meningkatkan komunikasi dengan siswa dan orang tua, serta memperbanyak kegiatan pengukuran nyata.

Saya berharap pada tahun pelajaran berikutnya siswa dapat belajar matematika dengan lebih percaya diri, aktif, dan menyenangkan, serta mampu memahami dan menerapkan konsep satuan panjang secara lebih mendalam dalam kehidupan sehari-hari. 

 

 

 

*Catatan ditulis oleh Wali Kelas 3 Ibnu Nafis, Dydaesturi Jalarno.

Guruku adalah Sahabatku

Guruku adalah Sahabatku

Bismillahirrahmaanirrahim. Izinkan Saya memulainya dengan salah satu cerita singkat.

“Kring….kring…kring..” bel berbunyi bertanda istirahat telah usai dan mulai memasuki pelajaran selanjutnya, yaitu pembelajaran Al Qur’an. Ada anak-anak yang masih bermain sepak bola, makan bekal di sudut tangga, berlarian mengambi wudhu, namun ada juga anak-anak yang bergegas memasuki kelasnya masing-masing untuk mengambil Al-Qur’an dan buku prestasinya kemudian pergi menuju ruangan halaqoh masing-masing. Tibalah saatnya shift terakhir bagi saya untuk mengajar kelas enam putra. Saat langkah kaki ini menuju ruangan kelas halaqoh. Dari sudut kejauhan lorong lantai 2, ada empat langkah kaki berlarian menghampiri saya, salah satu diantara anak tsb berkata “Ustadzah Lala, Us.. dengerin aku, kakiku berdarah tadi habis main bola. Tapi gak papah” ia menceritakan kesedihan dengan penuh tawa. Dengan tenang saya menanggapi “Beneran ndak papa?”, dengan mengernyitkan dahinya ia menjawab “gak papa nanti juga sembuh”. Dengan gusar teman-temannya menceritakan kejadian, “tadi to us, waktu main bola, dia didorong sama anak kelas sebelah, jadinya berdarah deh”. Saya pun menanyakan untuk kedua kali kepada anak tsb “Beneran ndak papa, apa ndak sakit?, ia menjawab dengan senyum terpaksa “sedikit sakit si, tapi gak papa”.

Pembelajaran pun berlangsung dengan lancar. Namun ketika pembelajaran selesai ditutup dan teman-temannya sudah kembali ke kelasnya masing-masing. Ada sesuatu yang ganjil dari anak tersebut. Wajahnya menjadi pucat dan ia memegang perutnya. Saya bertanya dengan penasaran “Kamu kenapa dari tadi memegang perut?”. Ia justru menjawab kalimat yang tidak saya duga “Ustadzah kenapa gak marah-marah kaya mamaku?”, ia menjawab dengan nada datar dan kembali ke kelasnya.

2025-2026

Alhamdulillah selama kurang lebih satu tahun saya membersamai mereka. Cerita di atas adalah salah satu cerita menarik bagi saya, karena masih banyak cerita lainnya. Saya tidak pernah berfikir bahwa tahun 2025-2026 akan menjadi perjalanan yang cukup singkat untuk mengajar di SDIT Bina Insani. Terkhusus ketika saya diamanahi untuk mengajar kelas enam putra. Dimana mereka bukan lagi berada di masa kanak-kanak lagi, melainkan peralihan masa kanak-kanak menuju masa remaja. Anak-anak yang lebih membutuhkan telinga daripada sebuah kata, anak-anak yang lebih membutuhkan tindakan daripada pernyataan, anak-anak yang lebih membutuhkan senyuman daripada tepuk tangan, dan anak-anak yang lebih membutuhkan seorang sahabat yang selalu bisa menerimanya daripada seorang guru.

Banyak cerita yang tidak bisa disampaikan hanya sekedar melalui kalimat maupun kata. Ada banyak keinginan anak-anak yang hanya sekadar menjadi angan. Ada banyak lembarang-lembaran anak-anak yang masih tersimpan pada harapan. Ada banyak kenangan bersama anak-anak yang masih menggenang di kening seseorang. Ada rasa amarah anak-anak yang dibalas dengan keramahan seseorang. Ada tangis anak-anak yang pada akhirnya berbuah manis. Dan ada juga beberapa capaian yang patut diberi pujian. Sebagai seorang pendidik, sudah sepatutnya peran kita bukan hanya sebagai seorang guru, melainkan juga sebagai orangtua, seorang teman dan seorang sahabat yang mau dan mampu menerima, mendengarkan segala pelik dan luka dari anak-anak kita semua. Wallahua’lam bisshawab.

 

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Guru Quran, Millati Azka.

MENUMBUHKAN ADAB DAN KECINTAAN TERHADAP AL-QUR’AN SEBAGAI FONDASI PEMBELAJARAN

MENUMBUHKAN ADAB DAN KECINTAAN TERHADAP AL-QUR’AN SEBAGAI FONDASI PEMBELAJARAN

Menjadi seorang guru memiliki slogan yang melekat dalam diri kita yaitu “guru iku digugu lan ditiru”. Maka dari itu sebagai seorang guru tugas kita bukan hanya mentransfer ilmu saja tapi bagaimana kita membimbing mereka untuk memiliki adab dan karakter yang baik. Salah satu upaya supaya anak anak didik kita memiliki adab yang baik adalah dengan memberikan contoh atau pedoman melalui diri kita. Apa yang dilihat, didengar dan dirasakan siswa dari gurunya akan menjadi pelajaran yang tak kalah penting. Sebagai guru Qur’an saya menyadari bahwa membentuk karakter dan adab siswa merupakan proses yang membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan keteladanan. Pengalaman yang paling berkesan selama tahun pelajaran ini adalah ketika melihat perubahan perilaku siswa yang sedikit demi sedikit semakin baik, entah dalam berinteraksi dengan guru, teman, maupun terhadap Al-Qur’an. Mungkin  masih ada beberapa siswa yang perlu diingatkan untuk menjaga sikap, fokus saat belajar, serta menerapkan adab yang baik. Namun seiring berjalannya waktu, melalui pembiasaan dan penguatan adab yang dilakukan secara rutin, perubahan positif mulai terlihat.

Kegiatan yang saya lakukan tidak hanya berfokus pada pencapaian target hafalan dan tilawah, tetapi juga pada pembiasaan adab terhadap Al-Qur’an dan adab terhadap sesama. Setiap pertemuan diawali dengan doa, murojaah, serta pengingat tentang pentingnya menghormati guru, menyayangi teman, dan menjaga adab terhadap Al-Qur’an. Melalui pendekatan tersebut, saya melihat siswa menjadi lebih tertib, lebih santun dalam berbicara, serta lebih antusias mengikuti pembelajaran.

Meskipun dalam hal capaian hafalan dan tilawah masih ada beberapa siswa belum mencapai target yang diharapkan,menurut  saya keberhasilan pembelajaran tidak hanya diukur dari banyaknya hafalan yang dimiliki siswa, tapi perubahan sikap, tumbuhnya rasa hormat, kedisiplinan, dan kecintaan terhadap Al-Qur’an merupakan pencapaian yang sangat berharga. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa fondasi utama dalam pembelajaran Al-Qur’an adalah adab. Ketika adab telah tertanam dengan baik, maka proses belajar dan pencapaian akademik akan lebih mudah berkembang.

Dari pengalaman tersebut, saya menyadari bahwa keteladanan seorang guru memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan siswa. Oleh karena itu, saya berkomitmen untuk terus memperbaiki diri, meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat komunikasi dengan siswa dan orang tua, serta mengembangkan metode yang lebih menarik agar siswa semakin mencintai Al-Qur’an. Harapan saya, pada tahun pelajaran berikutnya siswa tidak hanya mengalami peningkatan dalam kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga tumbuh menjadi generasi yang berakhlak mulia, beradab, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Guru Quran, Nadia Ainun Kholishoh.

Program Sholat Subuh Berjamaah di Masjid: Pembiasaan Disiplin dan Ketakwaan

Program Sholat Subuh Berjamaah di Masjid: Pembiasaan Disiplin dan Ketakwaan

Sholat subuh berjamaah merupakan salah satu program pembinaan karakter yang sangat relevan untuk membentuk kedisiplinan, tanggung jawab, dan kecintaan terhadap ibadah. Dengan membiasakan siswa bangun lebih awal, berangkat ke masjid, dan melaksanakan sholat berjamaah, guru menanamkan nilai ketaatan serta komitmen pada perintah agama.

Guru berperan besar dalam memastikan program ini berjalan efektif, antara lain:

  1. Membangun Kesadaran

Guru memberikan pemahaman bahwa sholat subuh adalah tiang utama penentu keberkahan hari. Siswa diajak tidak sekadar melaksanakan, tetapi memahami keutamaannya.

  1. Pendampingan dan Monitoring

Guru membuat sistem monitoring yang sehat tanpa menimbulkan tekanan. Pendataan kehadiran di masjid dapat dilakukan melalui laporan siswa atau koordinasi dengan takmir masjid sekitar tempat tinggal mereka.

  1. Memberikan Apresiasi

Setiap upaya baik siswa harus dihargai. Guru dapat memberi apresiasi sederhana, seperti pujian, bintang kebaikan, atau sertifikat bulanan untuk menumbuhkan motivasi. Pembiasaan seperti ini melatih karakter disiplin, tanggung jawab, dan spiritualitas sejak dini, sehingga nilai-nilai tersebut tertanam kuat sampai mereka dewasa. Korelasi pembiasaan karakter yang baik dengan prestasi akademik siswa. 

Berdasarkan data yang dicatat dalam jurnal harian ada korelasi positif antara kesolihan siswa dengan prestasi akademik. Data pembiasaan ibadah dalam membentuk karakter siswa dengan prestasi akademik.  

Dari data tersebut dapat dilihat bahwa nilai raport dengan rata-rata di atas 80 ada 24 siswa artinya 89% siswa yang dengan pembiasaan ibadah yang baik akan membentuk karakter takwa dan berdampak positif pada prestasi akademik siswa yang dibuktikan dengan nilai raport. 

Adapun tantangan dalam penerapan program pembiasaan ibadah dan pembentukan karakter yang ditemui guru saat pelaksanaan program adalah sebagai berikut :

  1. Tantangan dalam Program Sholat Subuh Berjamaah di Masjid
  • Faktor Kedisiplinan Siswa

Tidak semua siswa memiliki kebiasaan bangun pagi. Beberapa siswa sering terlambat bangun, sulit tidur lebih awal, atau kurang disiplin menjalankan kewajiban bangun Subuh.

  • Kurangnya Peran atau Pengawasan Orang Tua

Sebagian orang tua belum terbiasa membangunkan anak untuk sholat Subuh dan mengarahkan mereka ke masjid. Akibatnya, partisipasi siswa tidak merata.

  • Variasi Kondisi Lingkungan Keluarga

Beberapa keluarga memiliki dinamika internal seperti kesibukan orang tua, kondisi ekonomi, atau kurangnya budaya ibadah, yang membuat pendampingan ibadah di rumah tidak optimal.

Sehingga di butuhkan komitmen orang tua yang besar agar program ini berjalan dengan lancar.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Wali Kelas 6 Al-Biruni, Catur Rahayu.

Saat Senang Mengaji Menjadi Kunci Kemudahan

Saat Senang Mengaji Menjadi Kunci Kemudahan

Satu Hal yang Paling Berkesan Tahun Ini Mendapatkan amanah sebagai guru Al-Qur’an kelas 5 Halaqoh 2. Saya diberikan amanah untuk membersamai anak-anak yang masih jilid 4 dan belum mencapai target. saya memilih metode membangun rasa senang dan nyaman ketika pembelajaran Al-Qur’an. ketika anak merasa bahagia dan memiliki kedekatan dengan gurunya, maka proses belajar akan berjalan lebih mudah. Sebelum pembelajaran dimulai saya menyiapkan kuis ringan yang menarik. Saya menanamkan kedisiplinan dalam halaqoh. Saya menerapkan pembelajaran tahsin secara klasikal setiap hari. Fokus utama adalah memahamkan anak terhadap materi-materi di jilid 4. Melalui pembiasaan tahsin klasikal secara konsisten, anak-anak menjadi lebih mudah memahami kaidah bacaan. Momen yang paling berkesan bagi saya adalah melihat seluruh anak di halaqoh ini berhasil menyelesaikan tahap jilid dan melanjutkan ke jenjang Al-Qur’an dalam kurun waktu enam bulan. 

Refleksi Keberhasilan atau Tantangan Faktor keberhasilan di antaranya kedekatan yang terjalin antara guru dan peserta didik, serta pembelajaran tahsin secara klasikal. Salah satu tantangan terbesar adalah menjaga fokus anak saat pembelajaran berlangsung. Pembelajaran Al-Qur’an kelas 5 dilaksanakan pada siang hari ketika kondisi fisik sudah lelah. Guru dituntut bisa membuat pembelajaran yang menarik agar konsentrasi anak tetap terjaga.

Pelajaran Berharga yang Saya Dapatkan Setiap anak memiliki potensi untuk berkembang apabila diberikan pendampingan yang tepat, kesabaran, ketelatenan, dan suasana belajar yang menyenangkan. Ketika hubungan yang baik berhasil dibangun, maka pembelajaran akan menjadi lebih bermakna dan tujuan yang diharapkan dapat tercapai bersama.

Harapan untuk Tahun Pelajaran Berikutnya Saya berharap dapat menghadirkan pembelajaran Al-Qur’an yang lebih kreatif, variatif, dan menyenangkan sehingga semangat belajar anak semakin meningkat. Saya juga berharap dapat mempertahankan budaya disiplin dan kedekatan yang telah terbangun, serta mengembangkan strategi pembelajaran yang mampu menjaga fokus anak meskipun dilaksanakan pada siang hari. 

 

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Guru Quran, Novi Aryana.

Kebiasaan Kecil Hari Ini, Generasi Hebat Esok Hari

Kebiasaan Kecil Hari Ini, Generasi Hebat Esok Hari

“Mengajar bukan hanya sekedar memaparkan sebuah materi di setiap harinya, melainkan pengorbanan dan pengabdian untuk bisa membangun karakter yang mulia. Ilmu pengetahuan adalah hal yang penting namun ada adab yang harus berada di atasnya. Ilmu tanpa adab bagaikan pohon tanpa buah sedangkan adab tanpa ilmu bagaikan berjalan tanpa arah. Maka dari itu kita sebagai guru harus mampu mendidik anak anak kami menjadi pribadi yang memiliki adab yang mulia dan berpengetahuan yang luas.” 

Satu tahun saya mengajar di kelas IV Al Jauhari saya merasakan banyak hal positif dari dalam diri mereka. Mereka adalah anak yang tumbuh dari berbagai latar belakang yang berbeda tapi datang dengan tujuan yang sama yaitu menuntut ilmu. Tentu dengan adanya perkembangan zaman kita harus mampu membersamai mereka sesuai dengan zamannya. Tentu PR besar bagi saya yang harus mengajar dengan kekinian dan paling utama menanamkan adab yang baik. Saya melakukan pendekatan dengan membahas hal-hal baru yang mereka sukai, hal tersebut merupakan salah satu langkah awal untuk membangun kedekatan dengan mereka. Setelah terbangun kedekatan, maka saya menanamkan pembiasan-pembiasan positif untuk mereka. Beberapa hal tentang adab yang saya sampaikan adalah ketika ketika izin untuk keluar (baik ke toilet atau hanya sekedar mencuci tangan). Mereka harus izin dari dekat dan ketika kembali wajib mendekat dan mengucapkan terima kasih kepada guru yang sedang mengajar. Selama satu bulan anak-anak masih sering harus diingatakan. Saya menekankan pentingnya peran saling mengingatkan baik dari guru maupun teman. Setelah berjalan lebih dari satu bulan anak-anak sudah mampu melaksanakannya sebagai sebuah kebiasaan. Mereka selalu berusaha untuk terus mengingatkan satu sama lain. Hal yang memang terlihat sangat sederhana dan sering telupakan terkait adab anak-anak izin ke luar ruangan. Menutup pintu juga merupakan hal yang sederhana lainnya, terkadang anak-anak menutup pintu tanpa memegang gagangnya. Sehingga menimbulkan suara dan mudah merusak pintu. Saya terus mengingatkan anak-anak tentang bagaimana menutup pintu dengan baik yaitu dengan memegang gagang pintu dan menutupnya dengan pelan. Untuk hal ini terjadi pada beberapa murid dan harus terus diingatkan supaya menjadi sebuah kebiasaan. Selanjutnya adalah anak-anak harus terbiasa menyapa guru ketika bertemu atau hanya sekadar berpapasan. Dimulai dengan pemberian poin terbanyak bagi siswa yang mampu menyapa guru lebih dari 10 guru. Yang awalnya merupakan sebuah kompetisi maka semakin lama mampu menjadi sebuah kebiasaan. Di kelas, anak-anak memang harus selalu disampaikan tentang sebuah tanggung jawab dan peran sebagai seorang murid, karena anak anak zaman sekarang bukannya tidak bisa, tapi mereka kurang terbiasa. Menanamkan kebiasaan baik sederhana perlu dilakukan dengan sabar dan terus berulang-ulang. Semoga anak-anak di kelas IV Al Jauhari insyaallah memiliki adab yang baik dimanapun mereka berada dan saya juga terus mampu untuk belajar dan membersamai semua siswa dengan baik dan maskimal.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Wali Kelas 4 Al-Jauhari, Desvika Restu Setyaningsih.

Belajar Memimpin Lewat BI Star: Refleksi Satu Tahun Bersama 2 Ibnu Katsir

Belajar Memimpin Lewat BI Star: Refleksi Satu Tahun Bersama 2 Ibnu Katsir

Tahun pelajaran 2025/2026 ini, ada satu kegiatan yang paling membekas dalam ingatan saya sebagai wali kelas 2 Ibnu Katsir: BI Star, sebuah kegiatan akhir semester dengan tema literasi yang memadukan kemampuan membaca, berbahasa Inggris, dan kreativitas anak-anak melalui pembuatan poster resensi buku. Saya membagi siswa ke dalam beberapa kelompok kecil, dan dari sanalah cerita ini dimulai: bukan hanya tentang membuat poster, tapi tentang bagaimana anak-anak usia delapan tahun belajar berbagi peran, ada yang menjadi pemimpin kelompok, ada yang menjadi anggota, dan semuanya harus belajar mendengarkan satu sama lain.

Tujuan BI STAR ini sebenarnya sederhana: menumbuhkan minat baca, melatih kerja sama, dan membiasakan anak-anak menggunakan Bahasa Inggris dalam konteks yang nyata. Namun yang terjadi di lapangan jauh melampaui ekspektasi saya. Anak-anak antusias sejak hari pertama. Mereka berdiskusi, berdebat kecil soal siapa yang akan menggambar dan siapa yang akan menulis, lalu akhirnya duduk bersama menyelesaikan tugas mereka. Hasil akhirnya adalah 12 poster resensi buku berbahasa Inggris yang dipresentasikan di depan orang tua, dan saya masih ingat bagaimana beberapa dari mereka, yang biasanya pendiam, berani berbicara dan menjawab pertanyaan dalam Bahasa Inggris meskipun terbata-bata.

Keberhasilan ini, saya sadari, bukan kebetulan. Pembimbingan intensif di tiap kelompok, kemampuan dasar yang sudah dimiliki anak-anak sejak awal tahun, serta pembagian kelompok yang saya rancang agar seimbang bahwa semuanya berperan. Dampaknya pun terasa jauh setelah kegiatan selesai: siswa menjadi lebih percaya diri karena berhasil membuat sesuatu yang belum pernah mereka buat sebelumnya, kepercayaan diri mereka berbicara dalam Bahasa Inggris terasah lewat sesi tanya jawab dengan orang tua, dan yang tak kalah penting, mereka belajar arti kerja sama tim sesungguhnya.

Tapi tentu saja, tidak semua berjalan mulus. Sebagian besar siswa masih kesulitan membaca cerita berbahasa Inggris, sehingga saya harus mendampingi mereka lebih intensif dari yang saya rencanakan. Ada juga beberapa anak yang masih malu-malu untuk tampil di depan orang tua, butuh dorongan ekstra sebelum akhirnya berani maju. Dari sini saya belajar bahwa pemilihan buku bacaan perlu lebih disesuaikan dengan kemampuan riil anak-anak, dan waktu persiapan yang saya alokasikan sebenarnya masih kurang memadai untuk kegiatan sebesar ini.

Dari pengalaman BI Star “Reading is Fun, Being Kind is Great”, saya menyadari bahwa keberhasilan sebuah pembelajaran tidak melulu diukur dari hasil akhir yang rapi, tapi dari keberanian anak-anak mencoba hal baru meski belum sempurna. Hal yang perlu saya pertahankan adalah pendekatan kelompok yang memberi anak ruang untuk memimpin dan dipimpin secara bergantian, karena dari situlah rasa percaya diri mereka tumbuh paling nyata. Sementara hal yang perlu saya tingkatkan adalah perencanaan waktu dan kurasi materi bacaan, supaya setiap anak, termasuk yang masih kesulitan membaca, bisa mengikuti proses dengan lebih nyaman tanpa kehilangan semangatnya.

Untuk tahun pelajaran berikutnya, saya ingin membawa semangat BI Star ke ranah yang lebih luas: memperkaya strategi pembelajaran agar lebih variatif, mempererat komunikasi dengan orang tua supaya dukungan di rumah dan di sekolah berjalan selaras, dan terus mengembangkan diri lewat pelatihan maupun belajar mandiri agar saya bisa memfasilitasi anak-anak dengan cara yang lebih baik lagi. Harapan saya sederhana: semoga setiap anak di kelas saya, sekecil apa pun langkahnya, terus menemukan keberanian untuk mencoba, seperti yang saya saksikan sendiri di balik 12 poster karya mereka tahun ini.

 

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Wali Kelas 2 Ibnu Katsir, Winda Annisa Ulhaifa.

KARENA SHOHIHUL IBADAH ITU… DIMULAI DARI SINI!

KARENA SHOHIHUL IBADAH ITU… DIMULAI DARI SINI!

Satu Hal yang Paling Berkesan Tahun Ini

Membersamai anak-anak kelas 1 untuk melaksanakan sholat dengan benar, bukanlah hal yang mudah. Dimulai dari mengawal mereka wudhu hingga akhir pelaksanaan sholat itu sendiri. Dari awal pengondisian anak saat diminta untuk membuat shoff yang benar ketika akan sholat, membutuhkan effort yang luar biasa. Saya harus membariskan anak-anak satu per satu, agar tidak ada potensi bercanda dengan teman sebelah saat sholat. Ada satu moment yang membuat saya berkesan dan membuat hati saya tersentuh, yaitu saat beberapa anak berbisik kepada temannya “Ssstt…yuk rapi, sholat mo dimulai!” dan mereka dengan sendirinya membuat barisan yang rapi tanpa banyak perintah dari saya. 

 

Apa yang Terjadi?

  • Kegiatan yang dilakukan: Pendampingan sholat jamaah anak-anak kelas 1. 
  • Tujuan kegiatan: Kegiatan ini merupakan sebuah pembiasaan kepada anak untuk bisa sholat dengan benar dan khusyuk. Karena shohihul ibadah itu dimulai dari sini, dari sekarang. Ketika sholat seseorang itu benar, maka In Syaa Allooh ibadah yang lain juga akan ikut benar.
  • Hasil yang diperoleh: 87% anak mampu melaksankan sholat dengan benar dan khusyuk dari awal hingga akhir. Dari 29 anak ada sekitar 3-4 anak yang belum mampu sholat dengan khusyuk, meskipun demikian progress dari mereka tetap ada. 

 

Refleksi Keberhasilan atau Tantangan

  • Faktor yang mendukung keberhasilan: Berbasis pada praktik langsung menjadikan sebuah pembelajaran dengan aksi nyata membuat anak lebih mudah paham tentang apa yang kita sampaikan. Membimbing anak-anak dari mulai membenarkan gerakan mereka satu per satu hingga membimbing bacaan sholat yang benar dari niat hingga salam.
  • Dampak positif bagi siswa: Sebagian besar siswa mampu mengikuti seluruh rangkaian sholat dengan benar, rapi, tertib dan khusyuk, baik gerakan maupaun bacaannya, dari niat, takbiratul ihram hingga salam. Tumbuh kedisiplinan dasar seperti bersedia mengantre saat wudhu serta merapikan kembali sajadah/karpet dan tempat setelah sholat.
  • Kendala yang dihadapi: Durasi sholat terlalu panjang bagi rentang fokus untuk anak usia kelas 1. Karena di kelas 1 ini, mereka sholat dengan mengeraskan bacaan sholat dan membacanya dengan benar, membuat sholat menjadi lama. Mereka mulai jenuh, mulai melirik temannya, mencolek, dan bercanda saat rukuk dan sujud. 

 

Pelajaran Berharga yang Saya Dapatkan

Saya menyadarai bahwa Allooh yang menggenggam hati-hati anak-anak. Setiap kali mengajarkan sesuatu pada anak-anak, saya minta kepadaNya agar anak-anak dimudahkan memahami apa yang saya sampaikan. Kedewasaan usia anak kelas 1 tentu berbeda dengan orang dewasa. Dari sini saya memahami bahwa kekhusyukan mereka dalam sholat juga tentu berbeda dengan orang dewasa.  

 

Komitmen Perbaikan ke Depan

    • Membuat lembar mutaba’ah, checklist yang wajib diisi orang tua setiap hari untuk memastikan ketertiban sholat di sekolah berlanjut di rumah.
  • Membuat lembar mutaba’ah harian, yang wajib diisi orang tua setiap hari untuk memastikan ketertiban sholat di sekolah berlanjut di rumah.
  • Latihan Keheningan (Mindfulness Singkat), melatih anak untuk diam dan memejamkan mata selama 1 menit sebelum takbiratul ihram guna memfokuskan pikiran mereka.
  • Nonton film tentang hikmah sholat khusyuk.

Harapan untuk Tahun Pelajaran Berikutnya

  • Terbangunnya sinergi yang kuat dengan orang tua melalui program “Sesi Sholat Bersama Orang Tua” sebulan sekali, agar ayah dan ibu tahu standar ketertiban yang diajarkan di sekolah.
  • Anak-anak tidak hanya hafal gerakan dan bacaan, tetapi mulai tertanam rasa senang dan butuh terhadap sholat, sehingga kekhusyukan muncul dari dalam diri mereka sendiri tanpa perlu sering ditegur.

 

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Wali Kelas 1 Al-Khayyam, Lina Pamungkas Sari.