Story Telling Community: Implementasi Nilai SIDIQ dalam Pembelajaran

Story Telling Community: Implementasi Nilai SIDIQ dalam Pembelajaran

Alhamdulillah, pada tahun ajaran ini nilai-nilai Bina Insani yang terangkum dalam akronim SIDIQ (Sinergi, Iman, Dakwah, Inovatif, dan Qurani) mulai diimplementasikan secara bertahap dalam berbagai program sekolah. Nilai-nilai ini hadir sebagai pedoman bersama bagi seluruh warga sekolah dalam berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan, sehingga terbentuk budaya sekolah yang kuat dan selaras dengan visi Bina Insani.

Salah satu wujud nyata implementasi SIDIQ adalah Story Telling Community, sebuah komunitas mendongeng yang menjadi bagian dari program unggulan kelas 4, Funtastic Four. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan literasi siswa, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter melalui pengalaman belajar yang bermakna.

Nilai Sinergi terlihat ketika siswa bekerja sama dalam kelompok untuk merancang dan menampilkan sebuah cerita. Mereka belajar berdiskusi, berbagi tugas, serta menghargai peran setiap anggota tim. Nilai Iman diwujudkan melalui pembiasaan dan monitoring ibadah selama program berlangsung. Sementara itu, nilai Dakwah dan Qurani hadir melalui pemilihan tema cerita yang mengandung pesan-pesan Islami dan kebaikan, kemudian disampaikan kepada adik-adik TK sebagai media berbagi inspirasi. Adapun nilai Inovatif tampak dalam proses kreatif siswa saat menyusun alur cerita, membuat dialog, merancang panggung mini, dan menciptakan puppet atau wayang sebagai media pertunjukan.

Selama empat pekan, siswa mengikuti berbagai tahapan kegiatan, mulai dari menentukan ide cerita, menyusun naskah dan dialog, membuat karakter tokoh, merancang puppet, hingga berlatih mendongeng. Puncak kegiatan dilaksanakan melalui pertunjukan dongeng menggunakan puppet di hadapan siswa TK Bina Insani. Melalui proses tersebut, siswa tidak hanya mengembangkan kemampuan membaca, menulis, berbicara, dan menyimak, tetapi juga belajar berkreasi, berkolaborasi, peduli terhadap teman, serta membangun rasa percaya diri.

Di awal pelaksanaan, berbagai tantangan masih ditemui. Sebagian siswa belum terbiasa bekerja sama, masih ragu menyampaikan ide, dan bingung menentukan langkah yang harus dilakukan. Namun, dengan pendampingan guru serta proses yang berkelanjutan, mereka mulai menunjukkan perkembangan yang signifikan. Siswa menjadi lebih aktif, bertanggung jawab, dan mampu menyelesaikan tugas sesuai target yang telah ditentukan. Pada akhirnya, mereka berhasil tampil dengan percaya diri dan menunjukkan hasil kerja terbaiknya.

Program ini memberikan pelajaran berharga bahwa siswa dapat berkembang secara optimal ketika diberikan ruang untuk bereksplorasi, pendampingan yang konsisten, serta kesempatan untuk belajar melalui pengalaman nyata. Peran guru sebagai fasilitator juga terbukti mampu mendorong tumbuhnya kemandirian dan kreativitas siswa.

Ke depan, program ini diharapkan dapat menjadi kegiatan rutin tahunan dengan beberapa penyempurnaan, seperti penguatan pemahaman nilai SIDIQ selama proses kegiatan, variasi tema cerita yang lebih beragam, penyampaian pesan moral yang lebih kuat, serta kesempatan tampil yang lebih luas bagi siswa. Dengan demikian, Story Telling Community tidak hanya menjadi sarana pengembangan literasi, tetapi juga menjadi media efektif dalam menanamkan nilai-nilai SIDIQ kepada peserta didik.

Harapannya, semakin banyak kegiatan pembelajaran yang dirancang berlandaskan nilai SIDIQ sehingga budaya positif Bina Insani semakin kuat dan mampu melahirkan generasi yang berintegritas, kreatif, berakhlak mulia, serta siap memberikan manfaat bagi masyarakat.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Waka Kurikulum, Laksmina Yussi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *