Program IWR/Methode baca Qur’an Ilman Wa Ruuhan menjadi salah satu program unggulan dalam pembelajaran Al-Qur’an di SDIT Bina Insani. Namun dalam pelaksanaan tes kenaikan jilid, ditemukan beberapa kendala. Pertama, siswa cenderung terburu-buru ingin naik jilid sehingga makhraj dan kelancaran belum sempurna. Kedua, masih banyak siswa yang tertahan di jilid 3 dan 4 karena lemah di huruf-huruf yang mirip seperti ha-kha, sin-syin, dan dza-za. Ketiga, hasil tes kadang subjektif tergantung mood penguji. Hal ini berdampak pada kualitas bacaan siswa yang tidak stabil setelah naik jilid. Oleh karena itu, diperlukan strategi tes kenaikan jilid yang tidak hanya menilai, tapi juga menguatkan.
Untuk mengatasi hal tersebut, saya menerapkan Asesmen Formatif Berbasis Penguatan Makharijul Huruf pada saat tes kenaikan jilid IWR. Langkah-langkahnya sebagai berikut:
- Pre-Test Diagnostik: Sebelum tes utama, siswa diminta membaca 3 baris halaman terakhir jilid yang akan diujikan. Fokus saya hanya pada makhraj 5 huruf rawan salah di jilid tersebut. Tujuannya memetakan kelemahan dulu.
- Metode Talqin-Talaqqi Bertahap: Saat tes, tidak langsung menyuruh siswa baca 1 halaman. Saya bagi jadi 3 potongan. Setiap selesai 1 potongan, saya langsung feedback makhrajnya. Jika salah, saya talqinkan 3x dan siswa mengulang. Ini membuat tes jadi momen belajar, bukan vonis.
- Kartu Remedial: Siswa yang belum lolos tidak langsung diberi status “mengulang”. Saya berikan Kartu Remedial berisi 1 huruf yang harus dilatih di rumah dengan video contoh dari guru. Orang tua ikut tanda tangan. Tes ulang dilakukan 3 hari kemudian dengan fokus pada huruf itu saja.
- Rubrik Penilaian Transparan: Saya gunakan rubrik 4 aspek: Kelancaran, Makhraj, Panjang-Pendek, dan Adab. Setiap aspek ada skor 1-4. Siswa dan wali kelas bisa melihat hasilnya. Ini mengurangi subjektivitas penguji.
Setelah menerapkan metode ini selama 2 bulan, terjadi peningkatan signifikan. Persentase siswa yang lulus tes kenaikan jilid dalam 1x percobaan naik dari 55% menjadi 82%. Keluhan orang tua tentang “anak saya bolak-balik tidak naik” berkurang drastis karena ada Kartu Remedial yang jelas. Yang paling penting, kualitas makhraj siswa lebih stabil saat sudah masuk jilid berikutnya. Kesimpulannya, tes kenaikan jilid tidak seharusnya menjadi momok, tetapi menjadi bagian dari proses pembelajaran itu sendiri. Dengan asesmen formatif, fungsi guru Qur’an sebagai mu’allim dan murabbi dapat berjalan beriringan. Metode ini akan terus dikembangkan agar target Bina Insani mencetak generasi Qur’ani tercapai.
*Catatan ini ditulis oleh Guru Quran, Nahrowi.


