Menjaga Integritas Guru di Zaman Modern

Seperti kata pepatah, guru itu digugu lan ditiru (dipercaya dan ditiru). Hal ini menjadi pertanyaan sekaligus pengingat besar dalam diri, “Sudahkah saya benar-benar menjaga amanah sebagai sosok yang layak digugu lan ditiru?”

Setiap hari di kelas saya berkata, “Anak-anak, jangan lupa belajar,” “Jangan lupa sholat, sholatnya berjamaah dan tepat waktu,” “Jangan lupa mengerjakan tugas,” “Jangan buang sampah sembarangan,” “Jangan minum atau makan sambil berdiri” “Jangan merundung (bully) temannya,” dan kalimat ajakan atau larangan yang lainnya. Refleksi terbesar saya tahun ini adalah kenyataan bahwa sebelum menuntut anak-anak melakukan semua itu, saya sendiri harus menjadi cerminan pertama yang mempraktikkannya secara konsisten. Saya harus memastikan bahwa saya rutin belajar setiap hari, sholat tepat waktu, makan dan minum sambil duduk, menyelesaikan tugas sekolah tepat waktu, serta menjaga sikap agar tidak merundung rekan sejawat dalam bentuk apa pun.

Dalam pembelajaran Pancasila dan IPAS misalnya, saya menekankan nilai-nilai Pancasila untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk pentingnya hadir dan berkontribusi secara nyata di tengah masyarakat, bukan hanya saat perayaan 17 Agustus saja. Begitu pula saat mengajarkan anak-anak bahwa kita harus menjaga lingkungan agar keindahan alam ini bisa dinikmati oleh generasi berikutnya.

Tantangan terbesar sebagai guru di zaman ini adalah menjaga integritas tersebut agar tidak runtuh oleh arus kepraktisan modern. Setiap tahun kita mengajarkan tentang kerusakan alam, global warming, dan mengingatkan anak-anak bahwa sebagai umat Islam, kita diamanahkan bumi oleh Allah untuk dijaga. Namun, di dunia pendidikan saat ini, muncul ironi besar ketika teknologi seperti generate gambar AI mulai masif digunakan untuk keperluan pekerjaan demi mengejar kepraktisan atau visual yang instan.

Secara kritis saya menyadari bahwa aktivitas digital tersebut memicu pemborosan listrik raksasa yang setara dengan mengisi daya penuh sebuah ponsel hanya untuk satu gambar, membuang-buang ribuan liter air bersih, dan melepaskan emisi karbon masif yang mempercepat pemanasan global. Di sinilah komitmen saya diuji, “Ketika saya meminta anak-anak untuk tidak merusak lingkungan, maka saya sendiri harus konsisten untuk tidak ikut-ikutan menggunakan teknologi instan yang membawa dampak kerusakan besar bagi bumi tersebut.”

Tanpa disadari, sangat mudah bagi seorang pendidik di zaman sekarang untuk terjebak dalam rutinitas pekerjaan demi menghasilkan pendapatan, hingga mengabaikan keselarasan antara apa yang diajarkan dengan dampak dari tindakan nyata sehari-hari. Jika saya bercermin pada ayat yang Allah turunkan dalam Surah As-Shaff ayat 2, “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?”, ayat ini menjadi alarm keras bagi saya agar tidak menjadi guru yang pandai memberi instruksi namun lalai dalam mencontohkan. Jangan sampai sifat buruk yang dibawa anak-anak di kemudian hari ternyata adalah akibat dari kegagalan kita dalam memberikan keteladanan. Astaghfirullah.

Menjadi guru memang bukanlah hal yang mudah, tetapi ketika saya sudah memilih jalan ini, maka tanggung jawab itu melekat sepenuhnya. Saya tidak dituntut untuk langsung menjadi manusia sempurna tanpa cela, namun saya dituntut untuk jujur pada proses dan konsisten berakar pada nilai-nilai yang saya ajarkan sendiri.

Langkah nyata yang terus saya usahakan adalah membatasi penggunaan teknologi terbarukan secara bijak jika berdampak buruk pada bumi, menyelaraskan ucapan dengan tindakan di kelas, serta terus merefleksikan diri. Menjadi sosok yang digugu lan ditiru adalah perjalanan seumur hidup. Semoga Allah mengampuni segala kekhilafan saya di masa lalu dan menguatkan langkah saya untuk menjadi guru yang tidak hanya mengajar dengan kata-kata, tetapi menuntun dengan akhlak dan tindakan nyata.

 

 

 

*Catatan ditulis oleh Wali Kelas 4 Al-Jahiz, Kamilatun Nisa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *