More Than Just Flashcards: What First Year of Teaching Taught Me

More Than Just Flashcards: What First Year of Teaching Taught Me

Tahun pertama resmi menjadi guru sepertinya akan sangat menyenangkan, batin saya. Saya mendapat amanah untuk menjadi wali kelas 2 serta mengampu mata pelajaran bahasa Inggris di 3 kelas lainnya. Semua memori tentang materi TEYL (Teaching English for Young Learners) melalui storytelling, buku-buku berbahasa Inggris, hand puppets, pop-up book, flashcard, dan sebagainya kembali berputar di kepala, berharap bisa saya terapkan di kelas nantinya. 

Hari pertama, pekan pertama, bulan pertama berlalu. Saya pikir, saya berekspektasi terlalu tinggi. Konsep fun learning yang saya harapkan tidak berjalan sesuai rencana. Banyak sekali hal yang harus saya cerna, lakukan, dan selesaikan. Ternyata banyak hal yang harus diperhatikan sebelum saya bisa totalitas “bereksperimen” dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Mulai dari siswa yang masih terkendala dengan kemampuan membaca dan menulisnya, siswa yang masih belajar bagaimana cara mengelola emosinya, hingga siswa yang berjuang melawan rasa inferior di dalam dirinya. Pada akhirnya, saya merasa kehabisan waktu untuk merancang dan mengevaluasi pembelajaran yang fun.

Di antara para siswa yang masih berjuang tersebut, saya mencoba untuk terus belajar dan memahami, serta mencoba mencari solusi agar mereka bisa lebih nyaman dalam belajar maupun bersosialisasi. Sembari mempelajari metode pendidikan seperti Montessori sebagai referensi tambahan, pelan-pelan saya mulai bisa beradaptasi. Saya mencoba menerapkan beberapa variasi metode pembelajaran di kelas-kelas yang saya ampu. Meski hasilnya belum sesuai standar yang saya inginkan, setidaknya dari perjalanan tahun pertama ini saya kembali diingatkan akan satu hal; jangan tinggalkan identitas sebagai lifelong learner. Dan kunci dari hal tersebut adalah curiosity, willing to learn, dan resilience. Di samping itu, guru tidak bisa hanya fokus pada peningkatan kualitas pembelajaran, namun juga memperhatikan aspek lain seperti adab dan perilaku siswa, apakah sudah sesuai dengan kriteria kurikulum Aqil-Baligh yang dicanangkan sekolah.

Dari berbagai hal yang saya alami sepanjang tahun ajaran ini, saya menyimpulkan bahwa tugas guru memang bukan hanya membagikan ilmu dan mendampingi tumbuh-kembang siswa, namun juga terus belajar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan di lapangan. Berbekal pengalaman tersebut, saya ingin membawa semangat belajar ini ke tahun pelajaran berikutnya. Dengan tetap membuka diri pada hal-hal baru dan kebutuhan riil anak-anak di lapangan, saya berharap bisa pelan-pelan menghadirkan proses belajar bahasa yang lebih fun dan lebih bermakna—baik untuk akademik maupun pembentukan karakter mereka.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Wali Kelas 2, Fatma Auliya Salsabila.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *