Bismillahirrahmaanirrahim. Izinkan Saya memulainya dengan salah satu cerita singkat.
“Kring….kring…kring..” bel berbunyi bertanda istirahat telah usai dan mulai memasuki pelajaran selanjutnya, yaitu pembelajaran Al Qur’an. Ada anak-anak yang masih bermain sepak bola, makan bekal di sudut tangga, berlarian mengambi wudhu, namun ada juga anak-anak yang bergegas memasuki kelasnya masing-masing untuk mengambil Al-Qur’an dan buku prestasinya kemudian pergi menuju ruangan halaqoh masing-masing. Tibalah saatnya shift terakhir bagi saya untuk mengajar kelas enam putra. Saat langkah kaki ini menuju ruangan kelas halaqoh. Dari sudut kejauhan lorong lantai 2, ada empat langkah kaki berlarian menghampiri saya, salah satu diantara anak tsb berkata “Ustadzah Lala, Us.. dengerin aku, kakiku berdarah tadi habis main bola. Tapi gak papah” ia menceritakan kesedihan dengan penuh tawa. Dengan tenang saya menanggapi “Beneran ndak papa?”, dengan mengernyitkan dahinya ia menjawab “gak papa nanti juga sembuh”. Dengan gusar teman-temannya menceritakan kejadian, “tadi to us, waktu main bola, dia didorong sama anak kelas sebelah, jadinya berdarah deh”. Saya pun menanyakan untuk kedua kali kepada anak tsb “Beneran ndak papa, apa ndak sakit?, ia menjawab dengan senyum terpaksa “sedikit sakit si, tapi gak papa”.
Pembelajaran pun berlangsung dengan lancar. Namun ketika pembelajaran selesai ditutup dan teman-temannya sudah kembali ke kelasnya masing-masing. Ada sesuatu yang ganjil dari anak tersebut. Wajahnya menjadi pucat dan ia memegang perutnya. Saya bertanya dengan penasaran “Kamu kenapa dari tadi memegang perut?”. Ia justru menjawab kalimat yang tidak saya duga “Ustadzah kenapa gak marah-marah kaya mamaku?”, ia menjawab dengan nada datar dan kembali ke kelasnya.
2025-2026
Alhamdulillah selama kurang lebih satu tahun saya membersamai mereka. Cerita di atas adalah salah satu cerita menarik bagi saya, karena masih banyak cerita lainnya. Saya tidak pernah berfikir bahwa tahun 2025-2026 akan menjadi perjalanan yang cukup singkat untuk mengajar di SDIT Bina Insani. Terkhusus ketika saya diamanahi untuk mengajar kelas enam putra. Dimana mereka bukan lagi berada di masa kanak-kanak lagi, melainkan peralihan masa kanak-kanak menuju masa remaja. Anak-anak yang lebih membutuhkan telinga daripada sebuah kata, anak-anak yang lebih membutuhkan tindakan daripada pernyataan, anak-anak yang lebih membutuhkan senyuman daripada tepuk tangan, dan anak-anak yang lebih membutuhkan seorang sahabat yang selalu bisa menerimanya daripada seorang guru.
Banyak cerita yang tidak bisa disampaikan hanya sekedar melalui kalimat maupun kata. Ada banyak keinginan anak-anak yang hanya sekadar menjadi angan. Ada banyak lembarang-lembaran anak-anak yang masih tersimpan pada harapan. Ada banyak kenangan bersama anak-anak yang masih menggenang di kening seseorang. Ada rasa amarah anak-anak yang dibalas dengan keramahan seseorang. Ada tangis anak-anak yang pada akhirnya berbuah manis. Dan ada juga beberapa capaian yang patut diberi pujian. Sebagai seorang pendidik, sudah sepatutnya peran kita bukan hanya sebagai seorang guru, melainkan juga sebagai orangtua, seorang teman dan seorang sahabat yang mau dan mampu menerima, mendengarkan segala pelik dan luka dari anak-anak kita semua. Wallahua’lam bisshawab.
*Catatan ini ditulis oleh Guru Quran, Millati Azka.




