Tahun pelajaran 2025/2026 ini, ada satu kegiatan yang paling membekas dalam ingatan saya sebagai wali kelas 2 Ibnu Katsir: BI Star, sebuah kegiatan akhir semester dengan tema literasi yang memadukan kemampuan membaca, berbahasa Inggris, dan kreativitas anak-anak melalui pembuatan poster resensi buku. Saya membagi siswa ke dalam beberapa kelompok kecil, dan dari sanalah cerita ini dimulai: bukan hanya tentang membuat poster, tapi tentang bagaimana anak-anak usia delapan tahun belajar berbagi peran, ada yang menjadi pemimpin kelompok, ada yang menjadi anggota, dan semuanya harus belajar mendengarkan satu sama lain.
Tujuan BI STAR ini sebenarnya sederhana: menumbuhkan minat baca, melatih kerja sama, dan membiasakan anak-anak menggunakan Bahasa Inggris dalam konteks yang nyata. Namun yang terjadi di lapangan jauh melampaui ekspektasi saya. Anak-anak antusias sejak hari pertama. Mereka berdiskusi, berdebat kecil soal siapa yang akan menggambar dan siapa yang akan menulis, lalu akhirnya duduk bersama menyelesaikan tugas mereka. Hasil akhirnya adalah 12 poster resensi buku berbahasa Inggris yang dipresentasikan di depan orang tua, dan saya masih ingat bagaimana beberapa dari mereka, yang biasanya pendiam, berani berbicara dan menjawab pertanyaan dalam Bahasa Inggris meskipun terbata-bata.
Keberhasilan ini, saya sadari, bukan kebetulan. Pembimbingan intensif di tiap kelompok, kemampuan dasar yang sudah dimiliki anak-anak sejak awal tahun, serta pembagian kelompok yang saya rancang agar seimbang bahwa semuanya berperan. Dampaknya pun terasa jauh setelah kegiatan selesai: siswa menjadi lebih percaya diri karena berhasil membuat sesuatu yang belum pernah mereka buat sebelumnya, kepercayaan diri mereka berbicara dalam Bahasa Inggris terasah lewat sesi tanya jawab dengan orang tua, dan yang tak kalah penting, mereka belajar arti kerja sama tim sesungguhnya.
Tapi tentu saja, tidak semua berjalan mulus. Sebagian besar siswa masih kesulitan membaca cerita berbahasa Inggris, sehingga saya harus mendampingi mereka lebih intensif dari yang saya rencanakan. Ada juga beberapa anak yang masih malu-malu untuk tampil di depan orang tua, butuh dorongan ekstra sebelum akhirnya berani maju. Dari sini saya belajar bahwa pemilihan buku bacaan perlu lebih disesuaikan dengan kemampuan riil anak-anak, dan waktu persiapan yang saya alokasikan sebenarnya masih kurang memadai untuk kegiatan sebesar ini.
Dari pengalaman BI Star “Reading is Fun, Being Kind is Great”, saya menyadari bahwa keberhasilan sebuah pembelajaran tidak melulu diukur dari hasil akhir yang rapi, tapi dari keberanian anak-anak mencoba hal baru meski belum sempurna. Hal yang perlu saya pertahankan adalah pendekatan kelompok yang memberi anak ruang untuk memimpin dan dipimpin secara bergantian, karena dari situlah rasa percaya diri mereka tumbuh paling nyata. Sementara hal yang perlu saya tingkatkan adalah perencanaan waktu dan kurasi materi bacaan, supaya setiap anak, termasuk yang masih kesulitan membaca, bisa mengikuti proses dengan lebih nyaman tanpa kehilangan semangatnya.
Untuk tahun pelajaran berikutnya, saya ingin membawa semangat BI Star ke ranah yang lebih luas: memperkaya strategi pembelajaran agar lebih variatif, mempererat komunikasi dengan orang tua supaya dukungan di rumah dan di sekolah berjalan selaras, dan terus mengembangkan diri lewat pelatihan maupun belajar mandiri agar saya bisa memfasilitasi anak-anak dengan cara yang lebih baik lagi. Harapan saya sederhana: semoga setiap anak di kelas saya, sekecil apa pun langkahnya, terus menemukan keberanian untuk mencoba, seperti yang saya saksikan sendiri di balik 12 poster karya mereka tahun ini.
*Catatan ini ditulis oleh Wali Kelas 2 Ibnu Katsir, Winda Annisa Ulhaifa.




