Guru Amfibi

Guru Amfibi

Biasanya saya berdiri di depan kelas: bawa daftar nilai, mantau anak-anak, terus jelasin pelajaran dengan gaya khas becanda yang anak-anak sering sebut dengan “Jokes bapak-bapak”… wkwk.

Tapi tiap kali penerimaan rapor, plot twist terjadi. Saya duduk di seberang meja wali kelas; bukan sebagai guru, tapi sebagai orang tua yang lagi ambil rapor anak sendiri. 

Dan jujur… rasanya kayak jadi amfibi yang harus hidup di dua alam. Alam guru dan alam ortu. Biar maksimal menjalankan peran ortu, dalam hati, saya langsung mengeluarkan jurus kanuragan ala pendekar Wiro Sableng, “Jurus katak hijau berubah wujud!”…hehe..

Dan ternyata, menjadi orang tua siswa memang membuat jantung lebih mudah deg-degan. Ketika wali kelas mulai berkata, “Untuk ananda, sebenarnya sudah baik, hanya saja…,” 

kata “hanya saja” itu rasanya lebih menegangkan daripada harus ngebut pagi-pagi ngejar finger absen karena takut terlambat. Ada jeda kecil di kepala yang langsung membuat imajinasi bekerja lebih cepat dari logika.

Sebagai guru, saya sebenarnya sudah terbiasa dengan dinamika seperti ini. Selama hampir dua dekade mengajar, saya pernah menerima berbagai macam respons dari orang tua siswa. Ada yang bertanya dengan sopan, ada yang mempertanyakan nilai, ada yang berharap perlakuan khusus, bahkan ada juga yang datang dengan protes yang cukup “panas”.

Dulu, saya melihatnya murni dari sisi guru: tugas menjelaskan, menenangkan, dan tetap profesional. Selesai.

Tapi ketika saya duduk sebagai orang tua, perspektif itu berubah pelan-pelan. Saya mulai sadar, di balik semua bentuk komunikasi itu, ada satu benang merah yang sama: rasa sayang. Hanya saja bentuk ekspresinya tidak selalu rapi.

Rasa sayang itu kadang datang dengan bahasa yang lembut, tetapi kadang juga datang dengan intonasi yang membuat guru ingin menarik napas panjang sambil bersenandung, “Jika semua bersandar padaku… lalu aku bersandar ke mana…”

Dan di sisi lain, saya juga semakin menyadari satu hal penting sebagai guru: rapor tidak pernah benar-benar bisa menceritakan seluruh perjalanan seorang anak.

Anak bukan angka.

Nilai 90 bukan berarti hidupnya langsung “full bar WiFi, stabil tanpa gangguan”. Nilai 60 juga bukan berarti “game over”. Bisa jadi dia sedang upgrade karakter, sedang loading, atau bahkan sedang memperbaiki sistem internalnya di level yang tidak terlihat.

Dari pengalaman duduk di dua kursi ini, saya belajar bahwa menjadi guru dan menjadi orang tua itu seperti membuka dua tab browser yang isinya sama-sama tentang anak, tapi dengan sudut pandang yang berbeda.

Hari itu saya tidak cuma mengambil rapor. Tapi juga mengambil laptop. Laptop saya sendiri lho ya… Saya tulis sebuah refleksi bahwa: menjadi guru mengajarkan saya cara mendidik banyak anak, sedangkan menjadi orang tua mengajarkan saya betapa berharganya satu anak di mata keluarganya.

Ke depan, saya ingin terus menjaga satu hal penting: tidak melihat siswa hanya sebagai data, dan tidak melihat orang tua hanya sebagai penanya atau penilai. Karena di balik itu semua, kita sedang memegang hal yang sama: masa depan anak.

Semoga ke depan, hubungan guru dan orang tua tidak lagi terasa seperti dua pihak yang berdiri di meja berbeda, tetapi seperti dua orang yang duduk di sisi yang sama, hanya dengan peran yang berbeda.

Karena pendidikan bukan tentang siapa yang paling benar atau paling berkuasa. Tapi tentang siapa yang paling mau bekerja sama, agar anak-anak tidak hanya tumbuh pintar, tapi juga tumbuh utuh sebagai manusia.

 

 

*Catatan ditulis oleh Guru PAI, Hartanta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *