Satu hal yang membuat saya bahagia saat mengajar Al Quran adalah ketika anak-anak antusias memperhatikan dan menirukan bacaan Al Quran yang saya perdengarkan. Dulu sebelum menerapkan metode talaqqi, saya menuntun dan memotivasi mereka agar cepat lulus jilid 4 dan segera naik di Quran. Alhamdulillah satu persatu anak kelas 5 yang saya ampuh berhasil naik jilid dan perlahan mulai belajar membaca Al Quran secara langsung. Rasanya berat di awal ketika meminta mereka mulai membaca dan merangkai kata demi kata dalam Al Quran. Anak-anak masih beradaptasi dalam merangkai bacaan yang lebih panjang dari biasanya, wajar ketika panjang pendek masih berantakan dan tajwid tidak diperhatikan. Tapi kondisi seperti ini justru membuat saya lebih semangat dalam membimbing mereka. Saya optimis kemampuan anak-anak dalam membaca Al Quran bisa berkembang. Tidak hanya sekadar bisa baca saja, tapi juga stabil dan enak didengar.
Dipakailah metode talaqqi untuk menuntun mereka cara membaca Al Quran sesuai dengan kaidah dengan terlebih dulu saya mencontohkan kea nak-anak bagaimana bunyi bacaan yang benar. Biasanya saya mentalaqqi mereka setengah halaman dengan membagi 1 ayat menjadi beberapa bagian tergantung tingkat kepanjangan dan level kesulitan ayat. Saya akan mencontohkan secara tartil dengan memperhatikan panjang pendek, tajwid hingga makhorijul huruf. Setelah saya selesai mencontohkan anak-anak akan menirukan setelah ada kode “A ba ta”. Saya akan memperhatikan mereka satu persatu, ketika ada yang keliru, saya akan meminta anak tersebut untuk mengulang kembali sampai bacaan mereka betul dan seperti apa yang saya contohkan. Tidak hanya mentalaqqi saja, di sela-sela pembelajaran Quran saya juga mengajarkan mereka teori tajwid, sifat huruf dan makhorijul huruf. Sesi ini menjadi seru karena mereka harus praktik satu persatu memperagakan bunyi huruf yang seringkali mengundang gelak tawa ketika salah satu dari mereka salah dalam pengucapan huruf atau ketika mereka memperlihatkan wajah dan mulut yang terlihat lucu. Saya selalu bilang ke mereka “ Kalau mau cepat bisa, gapapa kelihatan jelek. Kalau emang mulutnya harus mencucu ya mencucu, kalua harus meringis ya meringis. Jangan malu-malu.” Tidak hanya malu, kadang kendala yang saya hadapi saat mengajar mereka adalah kecilnya suara beberapa anak yang membuat saya susah dalam mengoreksi.
Meskipun begitu, alhamdulillah biidznillah. Progress anak-anak dalam membaca Al Quran sudah sangat baik jika dibandingkan dengan awal mula mereka naik di Quran. Meski belum mengenal semua teori tajwid, tapi secara bacaan insyaallah sudah mulai stabil dan enak didengar. Semoga ini menjadi pondasi yang baik untuk terus berkembang dalam pembelajaran Al Quran di fase yang mendatang.
*Catatan ini ditulis oleh Guru Quran, Fika Indah Febriyani.




