Adab Mengantre dan Budaya Antre

Adab Mengantre dan Budaya Antre

Satu hal yang paling berkesan tahun ini, adalah saat saya mengajarkan adab mengantri dan budaya antri menggunakan metode Simulasi Games (Role-Playing). Melihat anak-anak kelas 1 yang biasanya tidak sabaran, mulai belajar menahan diri dan menghargai giliran teman adalah momen yang sangat menyentuh.

Kegiatan yang dilakukan: Simulasi “Kereta Antrean” saat masuk kelas dan mencuci tangan. Permainan peran membeli jajan di kantin kelas buatan

Tujuan kegiatan: Menanamkan kesadaran pentingnya sabar menunggu giliran dan menghormati hak orang lain sejak dini.

Hasil yang diperoleh: 90% siswa kelas 1 kini otomatis berbaris rapi saat mau masuk kelas atau mencuci tangan tanpa perlu diteriaki.

Refleksi Keberhasilan atau Tantangan. Faktor pendukung keberhasilan:Metode simulasi/permainan membuat anak usia 6-7 tahun tidak bosan.

Dan pemberian apresiasi langsung berupa stiker bintang bagi siswa yang paling tertib mengantri.

Dampak positif bagi siswa: Suasana kelas menjadi lebih kondusif dan tertib.

Kendala yang dihadapi: Ada 3-4 anak yang masih suka menyerobot karena belum terbiasa di rumah. Durasi simulasi agak molor karena anak-anak terlalu asyik bermain peran.

Faktor yang perlu diperbaiki: Penegasan aturan main sebelum simulasi dimulai agar anak tidak terlalu lepas kendali saat bermain.

Pelajaran Berharga yang Saya Dapatkan, Saya menyadari bahwa mengajarkan adab pada anak kelas 1 tidak bisa sekadar teori (ceramah), melainkan harus melalui contoh nyata, pembiasaan yang konsisten, dan metode yang menyenangkan, memberikan pujian/reward kecil untuk menguatkan perilaku positif anak, meningkatkan komunikasi dengan orang tua agar kebiasaan mengantri ini juga diterapkan di rumah.

Komitmen Perbaikan ke Depan, Meningkatkan strategi pembelajaran yang lebih variatif, memperkuat komunikasi dengan siswa dan orang tua dan membuat jurnal pembiasaan karakter di rumah berkolaborasi dengan orang tua.

Harapan untuk Tahun Pelajaran Berikutnya, Saya berharap di tahun ajaran depan, karakter antri dan adab-adab dasar lainnya (seperti mengucapkan tolong, maaf, dan terima kasih) bisa melekat menjadi budaya sekolah. Semoga saya bisa lebih sabar dan kreatif dalam menuntun anak-anak fase A ini menjadi pribadi yang berakhlak mulia.”

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Wali Kelas 1 Al-Kindi, Nur Syamsiah Tri Handayani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *