Alhamdulillah, selama satu tahun ini saya diamanahkan untuk mengajar Al-Qur’an di
kelas 6. Pembelajaran dilakukan pada siang hari, tepatnya pukul 12.45–13.45 WIB, sesudah
jam istirahat, shalat, dan makan (ISHOMA). Biasanya, begitu bel masuk berbunyi pada pukul
12.45, para murid diharapkan segera memasuki kelas masing-masing.
Namun, kendala utama yang sering muncul adalah banyaknya murid yang terlambat
masuk kelas karena keasyikan bermain bola di lapangan. Akibatnya, waktu pembelajaran
yang hanya berdurasi 60 menit harus terpotong sekitar 10 menit untuk pengkondisian murid.
Efektivitas belajar pun berkurang menjadi hanya 50 menit.
Sebagai guru, saya mencari solusi agar waktu awal tidak terbuang sia-sia. Setelah
mengamati situasi selama seminggu, saya mengajak murid kelas 6 berdiskusi untuk
membuat kesepakatan kelas yang adil dan kontekstual terkait keterlambatan ini. Kami pun
menyepakati aturan unik:
• Konsekuensi Murid: Jika murid terlambat masuk dari pukul 12.45, mereka harus
melakukan push-up atau plank sebanyak 20 kali/detik.
• Konsekuensi Guru: Sebaliknya, jika saya yang terlambat, saya wajib mentraktir
seluruh murid halaqoh dengan jajanan minimal Rp1.000 per anak.
Kesepakatan yang mulai berlaku keesokan harinya ini membawa perubahan positif yang
signifikan. Murid-murid mulai menyadari pentingnya disiplin waktu. Sebagai guru, saya pun
konsisten memberikan keteladanan dengan hadir sebelum pukul 12.45.
Perubahan perilaku anak-anak pun sangat menarik. Saat melihat saya berjalan agak
cepat menuju kelas, mereka yang sedang bermain di lapangan atau balkon langsung panik
dan saling berteriak, “Eh, Pak Mujahid datang! Pak Mujahid woy!” lalu berlari menuju kelas.
Bahkan, ada yang sengaja masuk kelas lebih awal demi mengamankan presensi, lalu
meminta izin dengan berbagai alasan agar tidak dianggap terlambat.
Uniknya, hal yang paling dinantikan murid justru adalah keterlambatan gurunya. Demi
mendapatkan traktiran jajanan, mereka kadang sengaja mencepatkan jam dinding kelas
sekitar dua hingga tiga menit. Saya sendiri beberapa kali sempat terkena “hukuman”
mentraktir mereka.
Bagi saya, nominal traktiran bukanlah masalah. Poin krusialnya adalah memberikan
keteladanan nyata, menanamkan rasa malu jika tidak tepat waktu, dan mengajarkan sikap
menghargai waktu. Anak-anak akan lebih mudah terdidik jika melihat gurunya disiplin
secara konsisten.
Meskipun kesepakatan ini dinilai berhasil, masih banyak pekerjaan rumah (PR) di
lingkungan sekolah yang harus dibenahi, salah satunya adalah masalah perundungan
(bullying) yang kerap terjadi di berbagai lembaga pendidikan. Kasus seperti ini tentu
memerlukan rancangan kesepakatan yang lebih canggih, solid, dan kontekstual agar
mampu menyadarkan anak-anak untuk saling menyayangi. Bagi saya, penyelesaian
masalah besar di sekolah harus selalu dimulai dari langkah-langkah sederhana yang
konsisten. Jika hal kecil bisa diselesaikan dengan baik, insyaallah masalah yang lebih
kompleks pun dapat diatasi
*Catatan ini ditulis oleh Guru Quran, Mujahid Al Fahdlullah.



