Narasi Refleksi Diri Guru: Menemukan Konsistensi di Teras Gedung A

Narasi Refleksi Diri Guru: Menemukan Konsistensi di Teras Gedung A

Tahun ajaran 2025/2026 memberikan sebuah catatan penting dalam perjalanan saya mengampu mata pelajaran Al-Qur’an untuk kelas 2, 3, dan 5. Di antara sekian banyak dinamika di ruang kelas, ada satu momen yang paling berkesan dan membekas tahun ini, yaitu inisiatif Pelaksanaan Program Pembelajaran Tambahan Yang Digelar Tepat Setelah Bel Pulang Sekolah Berbunyi.

Mengejar Target di Luar Jam Sekolah

Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Program ini dirancang sebagai strategi taktis untuk mengejar ketertinggalan siswa, baik dalam hal target hafalan maupun capaian jilid. Format pembelajarannya sengaja dibuat padat dan langsung pada inti: siswa langsung membaca jilid dan menyetorkan hafalan, tanpa adanya materi teori santun seperti pada jam reguler. hasil yang diperoleh dari program ini terbilang cukup bagus dan signifikan. Melalui jam tambahan ini, anak-anak mendapatkan porsi pembelajaran dua kali lebih banyak daripada hari biasanya. Program ini juga sukses menjadi jaring pengaman atau langkah antisipasi yang efektif bagi siswa yang tidak mengaji lagi saat di rumah. Alhasil, progres capaian jilid dan hafalan siswa berjalan lebih cepat serta konsisten.

Di Antara Dukungan Wali Murid dan Perut yang Lapar

Setiap inovasi tentu membawa cerita keberhasilan sekaligus tantangannya tersendiri. Di sudut keberhasilan, saya sangat bersyukur melihat adanya minat dan keseriusan yang tinggi dari sebagian siswa. Faktor pendukung yang tidak kalah penting adalah luar biasanya dukungan dari sebagian wali siswa. Mereka dengan sukarela membekali anak-anaknya dengan makanan atau uang saku ekstra, menyadari bahwa fisik anak membutuhkan energi tambahan untuk menghadapi jam belajar ekstra. Dampak positifnya pun nyata: kemampuan membaca dan menghafal siswa meningkat, dan target Indikator Welas Asih/Raport (IWR) bisa tercapai, meski ada beberapa yang belum.

Namun, realita di lapangan tidak selalu mulus. Tantangan terbesar datang dari faktor fisik dan psikologis anak; beberapa siswa terkadang sangat sulit diajak mengikuti jam tambahan karena kondisi tubuh yang sudah kecapekan dan perut yang lapar setelah seharian belajar. Di sisi lain, tantangan juga datang dari sudut pandang sebagian wali siswa yang menganggap jam tambahan ini tidak terlalu dibutuhkan, padahal secara objektif anak mereka belum mencapai target yang ditentukan. selain faktor manusia, fasilitas pun menjadi catatan evaluasi saya. Selama ini, kami memanfaatkan teras Gedung A sebagai tempat belajar. Ke depan, faktor yang sangat perlu diperbaiki adalah mencari tempat yang lebih kondusif dan nyaman, seperti ruang kelas yang tertutup.

Pelajaran Berharga dan Komitmen ke Depan

Dari seluruh proses ini, saya memetik pelajaran berharga mengenai pentingnya pemetaan kondisi rumah siswa. Saya menyadari bahwa jam tambahan setelah pulang sekolah adalah opsi yang sangat bagus dan krusial bagi siswa yang tidak mendapatkan pendampingan belajar Al-Qur’an dari orang tua di rumah, meski bagi mereka yang sudah didampingi dengan baik di rumah, jam tambahan ini bersifat opsional.

Pengalaman tahun ini membentuk tiga pilar komitmen baru dalam diri saya:

  1. Mempertahankan Konsistensi: Menjaga agar pelaksanaan pembelajaran tambahan ini tetap ajek dan rutin.
  2. Meningkatkan Komunikasi dan Motivasi: Memberikan motivasi secara berkala agar terjadi penyamaan visi dan satu tujuan yang sama antara guru, siswa, dan wali siswa. Hal ini juga sejalan dengan komitmen saya untuk memperkuat komunikasi dengan siswa dan orang tua di tahun ajaran baru.
  3. Peningkatan Strategi: Bertekad untuk meningkatkan strategi pembelajaran yang lebih variatif agar siswa tidak cepat jenuh atau merasa terbebani setelah jam sekolah usai.

Menatap Tahun Pelajaran yang akan datang, harapan besar saya adalah agar kaki ini tetap melangkah konsisten dalam melaksanakan jam tambahan. Di atas segalanya, saya selalu berdoa agar anak-anak didik saya selalu dianugerahi rasa semangat yang tak kunjung padam serta kesabaran yang luas dalam mempelajari dan mencintai Al-Qur’an.

 

 

 

*Catatan ini ditulis oleh Guru Quran, Ulil Fuat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *